AKU DIJUAL TETANGGA SEBAGAI PSK


Beginilah susahnya terlahir sebagai anak tak punya. Ingin melanjutkan ke SMP saja, tak ada biaya. Selain kedua adikku masih kecil, pendapatan bapak dari menarik becak juga tak seberapa. Begitu juga penghasilan emak sebagai buruh tani. Jika dibandingkan dengan tetangga kanan kiri, perekonomian keluargaku memang jauh dibawah. Kami tinggal di sebuah gubuk berdinding anyaman bambu, di tambah dengan penerangan lampu templok. Mendi, cuci baju bahkan memasak, semua dilakukan di aliran sungai yang tak jauh dari rumah.

Di kampung, aku dikenal sebagai anak yang ramah, lincah serta rajin. Meski didera kesibukan, aku selalu menyempatkan sholat berjamaah dan mengaji di mushola. Segala macam kegiatan keagamaan tak pernah ku tinggalkan, sama seperti orang tua dan adik-adikku. Secara fisik, mungkin karena badanku bongsor, aku terlihat lebih dewasa dibanding teman sebaya. Terlebih sejak kelas 4SD, aku-sebagai anak sulung-sudah dituntut untuk membantu meringankan beban orang tua. Ditempa hidup keras, memeras keringat tanpa air mata, dan bekerja berat. Pekerjaan yang sejatinya belum waktunya kulakukan.

Saban kali ada tetangga panen padi, emak dan bapak menyuruhku ngasak atau luru pari(mencari padi). Mumpung lagi nyebur ke sawah, emak dan bapak sekalian memintaku membawa sayuran liar yang tumbuh di `sawah untuk makan malam. Jika tak ada panenan, aku ditugaskan mencari kayu baker untuk persediaan musim hujan. Tak jarang jika hasilnya bagus dan besar ujung-ujungnya aku jual.

Tentu lama-lama aku jenuh menghadapi kenyataan hidup yang seperti itu. Terlebih setelah aku menamatkan sekolah dasar. Kupikir pergi kesawah mencari sayuran, lalu dijual di pasar, hasilnya memang cukup untuk membeli beras sekilo. Tapi, apakah aku harus terus-terusan begitu? Menyadari kalau Cuma lulusan, cita-citaku sebenarnya tak muluk-muluk. Aku hanya ingin mencari pekerjaan yang lebih baik. Tak soal aku kerja jadi buruh rendahan, pembantu atu pelayan toko.

Di tengah kebinggungan mencari kerja, aku dan kedua teman sekampung yang lulusan SMP didatangai salah seorang tetangga. Saat itu umurku sudah 14 tahun. Laki-laki yang kami ketajui sebagai pengusaha kaya raya itu, menawari kami pekerjaan sebagai pelayan restaurant di Batam. Bak gayung bersambut, kami bertiga langsung mengangguk setuju.
Awalnya orang tuaku sempat keberatan, aku di bawah oleh orang yang selama ini dinilai kurang ramah dengan tetangga sekitar. Ya, laki-laki tersebut-sebut saja namanya Pak Utomo- memang agak-agak misterius. Jarang di rumah dan gak gaul dengan warga lain. Menyapa tetanggapun jarang. Apalagi terhadap keluarga miskin seperti kami. Namun itu semua tak lagi kupikirkan. Kengototanku untuk mengubah perekonomian keluarga membuat emak dan bapak tak dapat melarang.

Berlayar ke Batam

Kami berangkat ke Batam naik kapal Rinjani. Kami di kelas ekonomi, sedangkan Pak Utomo di VIP. Perjalanan dengan kapal laut tiga hari tiga malam dapat kami lalui dengan aman, meski jantung terus berdetak kencang. Maklum, kami bertiga adalah gadis-gadis desa yang tak pernah melakukan perjalanan jauh. Sesampai di Tanjung Pinang di pulau Bintan, kami ternyata sudah di sambut oleh tiga lelaki yang sama sekali tak kami kenal. Kata Pak Utomo, mereka bertiga adalah pemilik restaurant.

Setelah makan bersama di subuah rumah Padang di Tanjung Pinang, aku dan kedua temanku berpisah. Aku tak tau lagi dimana mereka pergi dibawa kedua orang yang katanya pemilik restaurant itu. Sedangkan aku langsung melanjutkan perjalanan, menyeberang ke Batam bersama calon bosku yang super gendut dan berkumis. Pak Utomo? Entahlah, ia menghilang begitu saja bagai di telan bumi.

Menjelang Senja, aku tiba di Batam dan langsung dibawa kesebuah tempat, mirip perkampungan. Aku heran, agdis-gadis dengan pakaian “berani’’ tampak beseliweran kesana kemari. Ada sebagian yang nongkrong di kedai, ada juga yang ngrumpi di depan rumah-rumah yang mirip discotig. Lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan yangbelum seluruhnya beraspal. Kulihat, taksi terus berlalu lalang. Ah, baru aku tahu, tempat ini ternyata perkampungan prostitusi terselubung. Kalau tak salah, kampung itu bernama Semeong di wilayah Jodoh.

Saat itu kau baru sadar telah ditipu. Ya Tuhan..aku dikubuli tetanggaku sendiri. Di kampung itu tepatnya di bar M, aku dipekerjakan sebagai PSK(Pekerja Seks Komersial). Bukan pelayang restaurant seperti yang dijanjikan Pak Utomo. Kurasa kedua temanku pun mengalami nasib yang sama. Tiga laki-laki yang menjemput di pelabuhan Tanjung Pinang, semuanya germo.

Saat itu aku benar-benar tertekan dan hanya bisa meratapi nasib sepanjang malam. Bagaimana tidak. Perawanku telah di rengut bosku sendiri tanpa bayaran. Selanjutnya, tiap malam, aku harus mandi dan merias diri layaknya penghuni bar tingkat dua itu. Aku juga diancam akan disiksa kalau tak mampu melayani tamu dengan baik, atau tak pandai menjajakan diri. Dan..jika diajak kencan tamu, aku tidak boleh menolak.

Waktu itu aku masih kecil. Selalu ketakutan jika mendapat ancaman begitu. Sudah begitu, di tempat itu aku anak baru, sehingga masih jadi incaran hidung belang. Padahal pengunjung lokalisasi itu rata-rata laki-laki STW alias setengah tuwa. Tapi tega-teganya mereka merusak masa depan bocah yang pantas jadi anaknya. Masalahnya, dunia prostitusi memang seperti itu. Tak ada kompromi. Ada uang, kenikmatanpun dibeli. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menangis dan memaki Pak Utomo, yang telah melemparkanku ke dunia maksiat.

Sebenarnya, sudah beberapa kali aku berontak dan berusaha lari dari bar. Tapi selalu gagal dana gagal. Masih ku ingat upayaku terakhir, yang kulakukan setelah seminggu bekerja. Saat itu bar sudah tutup, aku di booking tamu yang berjumblah empat orang. Kupikir seperti yang sudah-sudah, aku hendak dibawa ke Hotel. Ternyata kali ini tidak.
Aku dibawa kesebuah tempat yang aku tak tahu pasti di daerah mana. Yang kau tahu, tempatnya di atas perbukitan dan mirip sebuah Villa.

Malam itu, aku digilir beramai-ramai sampai kehabisan tenaga. Aku di perlakukan bak binatang. Sanagt bejat dan tak punya perasaan. Jerit sakit dan tangisku hanya dianggap suara burung hantu. Keterlaluan. Begitu mereka puas melepas hasrat, mereka langsung terlelap di tempat tidur. Tidak jauh beda dengan kepompong ulat. Ngorok tanpa sehelai benang.

Menyadari ada kesempatan, aku langsung meninggalkan neraka jahanam itu lewat jendela kamar mandi. Dengan tertaih-tatih menahan perih, sampai juga aku dip agar villa itu. Tetapi naas, enam bodyguard dari bar tempat aku dijual, sudah menanti. Tak ayal akupun di seret dan di lempar kedalam mobil kijang milik bosku. Bisa dibayangkan, sesampai di bar, aku langsung beroleh dampratan dan siksaan. Bibirku pecah akibat tamparan. Badanku biru lebam karena tendangan. Sampai aku harus terbaring sakit berhari-hari. Sudah begitu, dengan tnapa perasaan aku tetap di paksa melayani tamu. Duh, membawa badan saja tak mampu, tapi aku tetap di haruskan melayani si muka bopeng. Takut penolakanku berakibat fatal, aku terpaksa melaksanakan perintah. Pasrah.

Deritaku tak kunjung berhenti, apalagi tahu sendiri, para tamu maunya minta di servis sebaik mungkin. Minta macam-macam dan aneh-aneh. Jelas saja aku tak bisa. Dan aku tak akan pernah belajar tentang itu. Namun mimpi buruk kembali kudapat. Dari laporan tamu-tamu, aku kembali dihukum mucikari lewat tangan bodyguard.

Kabur dari tempat maksiat

Begitulah kenyataan hidupku. Meski beberap bulan bekerja di tempat yang di huni puluhan gadis menor itu. Aku masih kerap mendapat perlakuan yang tak mengenakkan. Terlebih jika aku kedapatan tak ramah atau menolak tamu. Selain itu, aku juga pernah dikurung dalam akamar akibat ketahuan mengirim uang pada orang tua. Aku benar-benar tertekan di tempat itu. Ingin lari tak bisa. Mau pindah kerja juga tak mungkin.

Pembaca… meskipun aku sudah tenggelam dalam Lumpur dosa, aku tetap tidak meningggalkan keajibanku sebagai manusia beragama. Shalat maupun mengaji tetapkulakukan, walaupun sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan teman-teman. Bukan apa-apa. Aku tak ingin di kecam, dihina, atau di anggap sok suci. Di tempat seperti itu, kau masih ingat pada yang esa. Justru pada saat-saat berdialog dengan yang maha pengasih, aku sedikit beroleh kedamaian dan ketenangan.

Jika tidak dialog dengan Tuhan, pada siapa lagi aku harus mengeluh, mengadu dan memohon pertolongan atas keterpurukanku. Aku yakin, Tuhan juga mengetahui jika aku terpaksa dan tidak sengaja berada di tempat ini. Tempat hura-hura, tempat melepas syahwat, dan tempat yang paling mudah mengelincirkan manusia pada kubangan dosa. Sungguh Tuhan bekerja disini bukan atas kehendakku.

Malam itu, mataku masih sembab saat menikmati bakso langgananku. Penjual bakso keliling di kampung prostitusi itu, sebut saja namanya Budi, kelahiran Malang seperti aku. Ia satu-satunya laki-laki yang selama ini sering ku jadika tempat curhat. Mulai dari dijualnya aku di tempat itu sampai penyiksaan yang sering ku terima. Ia tahu semua. Tidak sekali dua Budi menawarkan cara untuk bisa lari dari tempat itu. Namun, selalu saja keadaan tidak mendukung. Selain sering di-booking, aku juga suka sakit-sakitan. Sampai suatu hari, rencana yang sudah tersusun selama seminggu itu akhirnya terlaksana.

Lampu remang-reman di Bar masih menyala. Dengan suara musik dan gelak tawa membaur jadi satu. Di sampingku, duduk seorang pemuda berusia 25 tahun sedang menenggak minuman keras. Sesekali, ia turun melantai layaknya pengunjung yang lain. Tepat dini hari, setelah membayar uang bookingan pada kasir, meluncur kesubuah tempat. Di kontrakan itu, Budi yang barusan pulang jualan , sudah rapi dengan beberapa koper baju. Tanpa buang waktu lagi, aku dan Budi meninggalkan Batam, meninggalakan temannya yang tadi membookingku.

Perjalananku menyeberang sampai pulau Sumatera, lalu menempuh jalan darat ke Jawa, sangat panjang dan melelahkan. Akhirnya, aku berhasil kembali ke kampung halaman dan berkumpul dengan keluargaku. Sengaja aku tidak menggugat Pak Utomo, tetangga yang sudah menjualku. Agar rahasiaku sebagai PSK tetap tertutupi. Hanya Budi, laki-laki dewasa itulah yang tahu segalanya, yang meerimaku apa adanya. Dan kini, setelah melewati masa pacaran, akmi akhirnya menikah.

Pembaca, tak lama setelah menikah, aku tentu atas seizing Budi memutuskan untuk bekerja keluar negeri. Tak lama di penampungan, aku terbang ke Hong Kong. Meski di sini aku digaji bawah standar dan libur satu kali dalam setahun, aku rela. Aku hanya ingin bekerja dengan halal. Bukan saja untuk menebus dosa-dosaku di masa lalu, tetapi juga untuk mewujudkan impianku: membangun depot bakso di terminal Arjosari, Malang.
(Dituturkan ''H'' kepada Kristina Dian S dari apakabar)

Catatan:telah dipublikasi tabloid apakabar di edisi 5-18 agustus 2006.

17 komentar di "AKU DIJUAL TETANGGA SEBAGAI PSK"

Posting Komentar