Deritaku Memiliki Dua Suami

"Memiliki dua suami membuatku depresi. Begitu tabir terkuak, kedua suamiku sama-sama mengancam. Aku tersudut tanpa ada celah mengutarakan alasan. Qosim, suami pertamaku mengancam akan minum racun yang dicampur dengan bubur bersama anak kami supaya mati bersama. Sementara suamiku yg di Taiwan juga bersikap demikian. Ia bisa membuatku tidak bisa bertemu dengan anak kami yang masih balita.Aku makin binggung. Aku tak bisa memilih satu dari suami yang sama-sama menyayangiku."

Sikap suamiku yang berubah temperamental sejak dipecat atasannya, mendorongku untuk berangkat ke Taiwan mencari modal. Namun modal belum sempat terkumpul, orang tua memberikan cerita palsu tentang suamiku di tanah air. Bahkan keluarga juga menyuruhku mencari penganti suami orang Taiwan. Dan, akupun mendapatkannya!
Kehadiranku di dunia rupanya tak pernah diinginkan keluarga. Aku dianggap anak sial yang hanya akan mengundang petaka, karena ibu sering jatuh sakit saat mengandungku. Usia kehamilan ibuku baru enam bulan, ketika aku akhirnya harus dilahirkan. Teganya, sudah lahir prematur, bapak dan ibu langsung ingin membuangku. Itu terjadi gara-gara usaha bapak mendadak bangkrut, sehingga perekonomian keluarga langsung tercekik.

Bersyukur, kakek dan nenek yang mengetahui rencana orang tua langsung mengambilku. Mereka tak setuju cucunya dibuang. Akhirnya sejak bayi aku di asuh oleh kakek nenek yang kehidupannya sangat sederhana. Sewaktu masih bayi, kata kakek nenek aku sangat lucu dan mengemaskan. Meski baru pada usia 4 tahun aku bisa berjalan. Mereka yakin, kelak aku tumbuh cantik, enerjik dan ....ehm, jadi incaran banyak laki-laki.

Ternyata benar. Di Banjarnegara, kampungku, aku menjadi buah bibir pemuda dusun. Hampir semua penduduk mengenalku. Selain dikenal cantik, rajin, aku juga di kenal ramah. Maklum tiap pulang sekolah, aku keliling kampung berjualan abu merang untuk cari biaya sekolah. Keluarga kandungku-yang sebenarnya kaya raya-sudah tak mau tahu dengan diriku.

Memasuki SMP, kuhentikan menawarkan dagangan keliling kampung. Jujur, perasaan malu mulai mendera, mengingat banyak pemuda yang berusaha mendekat. Tidak sedikit pula yang langsung melamar pada kakek nenek. Namun, semua ditolak. ''Keputusan ada di tangan orang tuamu''kata kakek nenek kepadaku tiap kali ada pemuda yang ingin meminang. Suatu hari, saat usiaku 16 tahun, aku berkenalan dengan pemuda dusun. Perkenalan akrabku dengan Qosim(bukan nama sebenarnya),32 tahun, terjadi di suatu acara pernikahan tetangga kami. Oleh si empunya hajat, aku ditunjuk sebagai penerima tamu. Selepas acara aku langsung di ajak main oleh Qosim. Keluargaku curiga, berprasangka yang tidak-tidak. Padahal waktu iotu kami hanya jalan bareng. Diberi penjelasanpun orang tuaku tetap tak percaya. So? Terlanjur basah, ya mandi sekalian. Qosim mengajakku menikah. Aku tak bisa menolak meski aku belum mengerti apa artinya cinta. Maklum selama itu aku merasa hidup sendiri, merasa jadi anak buangan.

Kami menikah tanpa restu orang tua masing-masing. Secara diam-diam dan hanya di hadiri segelintir teman dekat di KUA kota setempat. Hal itu terpaksaa kami lakukan karena orang tuaku tak setuju menikah mendahului kedua kakakku. Sementara orang tua Qosim tidak rela anaknya menikah dengan penjual abu merang. Memalukan, katanya. Biarpun pesta kecil-kecilan, kami sangat menikmati dan hidup bersama setelah menikah. Qosim membimbingku banyak hal. Ini yang membuatku semakin ''gila''padanya.

Namun belum lama kebahagiaan kudapat, cobaan menghempas kehidupan kami. Tanpa sebab suamiku dipecat atasannya. Ia jadi sering marah-marah. Nada bicaranya kasar, bahkan mulai ringan tangan, meski aku sedang hamil empat bulan. Qosim berusaha bangkit dari keterpurukan, sampai akhirnya ia memulai buka usaha. Malang, belum lama usaha dibangun, ia mengalami kebangkrutan. Modal habis, hutang pun menumpuk. Seketika, sikapnya berubah total. Sosok yang sempat memberiku bahagia, kini memberika air mata duka.

Meski anak kami lahir, sikap Qosim tak juga berubah. Setelah anakku berumur 1,5 tahun kuputuskan pergi dari rumah. Apapun yang terjadi aku nekat mencari duit agar suamiku tak lagi bersikap seperti itu. Setelah tanda tangan dari suami dipalsukan sponsor, aku masuk penampungan dan dibewrangkatkan ke Taiwan delapan bulan kemudian. Menjelang berangkat, suami dan ankku datang ke PT. Sepertinya ia baru tahu jika aku hendak berangkat ke luar negeri.

Terlambat. Aku sudah terlanjur masuk bis pemberangkatan. Saat bis yang hendak mengantarkan kami ke bandara melintasinya, kulihat suamiku mengendong anakku sambil melambaikan tangan. Tak jelas apa yang dikatakan suamiku dengan matanya yang berkaca-kaca. Sementara anak perempuanku satu satunya memanggil namaku, ingin ikut serta. Ku coba menahan air mata dan pura-pura tidak mendengar.

Setelah lima bulan bekerja, aku menelepon ibuku. Sengaja aku tidak mengontak suami, takut ia akan marah. Kata ibu setelah kepergianku, Qosim jarang pulang. Sepanjang hari hanya kelayapan. Pokoknya kata ibu, suamku sudah ndak karuan hidupnya. Aku percaya saja. Rasanya, tak mungkin ibu tega membohongi dan memberikan cerita palsu kepada anaknya. Terus terang, saat itu aku terpengaruh cerita ibu. Sejak itu aku tidak peduli lagi pada Qosim. Bahkan mendengar suaranya pun aku enggan. Dalam kondisi otakku yang kacau, ibu menasehati agar aku tidak mengirimkan uang pada suamiku. Ibu juga menyarankan agar aku mencari suami orang Taiwan. Kepada ibu kahirnya aku rutin mengontak menanyakan kabar anakku juga mengirimkan uang.

Rasa sepi juga sakit hati mendengar cerita ibu tentang Qosim, mendorongku menerima lamaran Walkune(panggil saja begitu), pria Taiwan yang telah sembilan menduda. Ia komandan majikanku. Usianya 40 tahun. Tahu sendiri bagaimana bodi seorang tentara. Gagah, tegap, rapi, bersih, juga baik hati dan ramah. Bersyukur majikan tidak komplin. Bahkan setelah tahu atasannya ada hati padaku, aku di izinkan tinggal dengan Walkune.

Duda keren kaya raya itu amat sayang padaku. Segala permintaanku selalu di turuti. Bersamanya hidupku serba glamour. Aku benar-benar melupakan segalanya. Melupakan sakit hatiku terhadap Qosim yang kata ibu semakin gak genah. Semua tampak indah terlebih sejak hidup bersama tuan tanah di daerah To Yen itu. Kebersamaan itu akhirnya membuat aku hamil. Walkune semakin sayang dan cinta, terlebih setelah aku melahirkan bayi laki-laki yang lucu dan sehat. Setelah anak dari hasil hubunganku dengan Walkune lahir, kami pun menikah secara kekeluargaan di Taiwan.

Juni 2003 aku pulang ketanah air bersama Walkune. Sementara anakku yang masih kecil kutinggal. Bisa dipastikan betapa senang keluargaku. Anaknya yang semula hanya seorang pembantu berhasil mengait duda kaya raya, ganteng dan tidak pelit. Lebih gembira lagi, Walkune memberikan Rp 500 juta kepada keluargaku untuk pernikahan kami di indonesia. Ya, nikah siri terpaksa kami lakukan, karena statusku masih istri orang.

Memiliki dua suami tentu membuatku kebinggungan. Begitu tabir terkuak, kedua suamiku sama-sama mengancam. Aku tersudut tanpa ada celah mengutarakan alasan. Waktu itu aku benar-benar strees berat. Qosin mengancam akan minum racun yang dicampur dengan bubur bersama anak kami supaya mati bersama. Qosim tak setuju aku kembali ke Taiwan, hidup bersama anak dan suami keduaku. Dibayar berapapun-katanya- ia tak akan pernah mau menceraikan aku. Ia masih sayang padaku, mengharapkan aku menjadi istri yang sayang pada suami dan anak.

Memang, sejak kembali dari Taiwan, aku baru tahu aku termakan fitnah keluargaku sendiri. Cerita ibu kepadaku ternyata tidak benar. Ibuku berbohong. Qosim sangat perhatian dan bertanggung jawab. Memeras keringat mencari uang untuk kebutuhan hidup. Sampai saat itu pun meski telah mendengar aku kecantol laki-laki Taiwan, ia tetap setia. Ia tidak berprasangka buruk terhadapku. Orang tuaku memang pintar(atau licik?). Melakukan semua demi uang, tak peduli mengorbankan kebahagiaan anak.

Kacaunya, Walkune tak mau terima aku kembali pada anak dan suamiku yang pertama. Ia mengancam, aku tidak pernah bisa masuk Taiwan, apalagi bertujuan mengambil anak. Ia juga bilang, tidak akan membantuku bertemu dengan anak kami yang masih balita. Jangankan bertemu, mendengar suaranya pun tak bisa. Aku makin binggung. Bagaimana mungkin aku tidak bisa menatap wajah anakku lagi? Saat itu aku hanya bisa menangis. Aku tak bisa memilih satu dari suami yang sama-sama menyayangiku.

Belakangan kuputuskan untuk kembali pada keluargaku yang pertama. Tapi bukan berarti masalahku finish. Kepergian Walkune meninggalkan aku dalam keadaan depresi. Sangat berat aku menerima kenyataan itu. Sebenarnya aku belum mau kehilangan Walkune. Ia mampu membuatku bahagia, menjadikanku manusia yang dihargai. Walkune adalah laki-laki yang penuh cinta. Masalahnya, lagi,lagi, apakah mungkin aku memiliki dua suami? dan, apakah mereka mau menerima?

Dari waktu ke waktu, keadaanku semakin parah. Terlebih saat aku mendapat kabar, Walkune dan anakku di Taiwan telah pindah rumah. Nomor telepon juga diganti. Aku sedih tak bisa lagi mendengar suara mereka. Sementara pasporku sudah di robek-robek Qosim. Aku semakin hilang asa. Hampir dua bulan jiwaku sakit, tertindah beban mental itu. Namun berkat ketulusan, kesabaran dan ketabahan Qosim, lambat laun mata hatiku terbuka. Dibimbingnya aku menapaki kehidupan. Aku harus mengihklaskan kepergian anak dan suami kedua dari hatiku. Toh, suami pertamaku telah berubah, kembali seperti sebelum di PHK. Di mataku, ia kini jauh lebih sempurna. Qosim faham''kebakaran''yang terjadi dalam rumah tangga kami semata dipicu oleh api yang disulut keluargaku.

Setelah sembuh total, aku minta izin berangkat ke Hong Kong. Tapi meski telah jauh melangkah, bayangan Walkune dan anak lelakiku kembali menghantui. Apalagi jika mendengar musik klasik romance yang terekam dalam CD, hatiku terasa teriris. Beratnya, Walkune berhasil menghubungiku di HK. Namun tiap kali kontak, ia tak mau memberikan nomor telepon atau mengizinkan aku berbicara dengan anakku. Ia selalu bilang wo aini. Cinta, kangen dan banyak lagi kata-kata indah yang sedari dulu sering terlontar dari bibirnya. Rupanya ia tak mau menikah lagi, bersabar menatiku kembali ke Taiwan.

Kini masa kontrak kerjaku di HK sudah hampir selesai. Aku ingin hidup tenang bersama anak dan suamiku di tanh air. Masalah harta, insya Allah sudah cukup. Tapi aku masih resah hendak kemana hati ini kubawa? Aku ingin bertemu anak laki-lakiku di Taiwan, meski hanya untuk sesaat. Tapi mungkinkah? Solusi apa yang sebaiknya ku tempuh?

(Di tuturkan ''TY'' kepada Kristina Dian S dari Apakabar)

117 komentar di "Deritaku Memiliki Dua Suami"

Poskan Komentar