Lagi, BMI Diperkosa Majikan

Oleh: Kristina Dian S
”Saya sudah berontak, tapi saya kalah. Tangan saya dipegang dua-duanya sama tuan,” kisah Melati, pelan. Telah banyak perlawanan dilakukan, tetapi seolah tak berarti. Berkali menjerit pun tak ada yang mendengar suaranya. Bersyukur, kesempatan akhirnya ia dapatkan. Saat tuannya ini tadi menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menduduki pahanya. Tangan Melati berhasil mendorong tubuh tuannya yang telanjang.

Malang benar Melati. Baru pertama kali pergi dan bekerja di luar negeri, ia sudah tak beruntung. Majikan laki-lakinya ternyata seorang ”penjahat seksual”. Melati memutuskan kabur, dan kini tengah memperkarakan tuan di Labour Department dan kepolisian.
Melati (bukan nama sebenarnya), BMI asal Gondang Legi, Malang, benar-benar tak puas mendengar hasil sidang Labour Department yang digelar Senin, lalu. Perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual tuannya tiga bulan lalu itu, merasa gusar. Pasalnya, dalam sidang yang dimulai pukul 09.15, ia hanya diputuskan memperoleh uang tiket, perjalanan pulang, dan upah kerja selama 15 hari. Sedangkan uang notis atau satu bulan gaji, tidak berhasil ia dapatkan.

Perdebatan tentang uang notis antara majikan dan pembantu ini, wajar terjadi. Sang majikan tentu keberatan dan ngotot tidak mau membayar uang notis pekerja asal Jawa Timur ini. Sebab, Melati baru bekerja dua minggu, tetapi sudah memutuskan kabur dari rumahnya. Sebaliknya, si pekerja juga memiliki alasan kuat: tak betah bekerja, lantaran terus-terusan diperkosa tuan. ”Kalau tidak mendapat pelecehan seksual, tidak mungkin saya kabur,” argumentasi Melati dalam sidang yang dihadiri kedua majikannya itu.

Karena kedua pihak saling menuntut, hakim memutuskan: kalau nanti pada sidang polisi (terkait peristiwa kriminalnya), majikan yang menang atau tidak terbukti salah, maka Melati yang ditetapkan membayar uang notis kepada majikan. Tetapi jika Melati dinyatakan tidak bersalah, maka majikanlah yang harus membayar uang notis. Dengan demikian, sama artinya Melati tidak memperoleh uang notis pada sidang Labour hari itu. Pasalnya, keputusan baru akan didapat nanti dalam sidang polisi.

Yang jadi persoalan, tentu jika Melati terus menindaklanjuti atau tidak menarik laporan pemerkosaan yang telanjur ditangani polisi. Sedangkan bila kasusnya dihentikan hanya sampai di sidang Labour Departement, bisa jadi, BMI yang telah di-”sentuh” majikan laki-lakinya ini tak beroleh uang ganti rugi sama sekali.

Kepada Apakabar, Melati menyampaikan keraguannya menindaklanjuti kasus pelecehan itu. Meskipun bukti yang ia miliki – berupa baju – dalam masih ada sidik jari. ”Saya belum tahu, apakah dilanjutkan atau saya hentikan, mengingat kasus kriminal membutuhkan waktu lama,” ujarnya. Melati kemudian menuturkan kronologi kejadiannya.

Sejak pertama kali dijemput majikan laki-laki di kantor agen, sehari setelah Melati mendarat di Hong Kong, sang majikan sudah menunjukkan gelagat yang kurang baik. Aroma tak sedap itu semakin tajam, begitu mereka keluar dari kantor agen. Melati, yang baru pertama kali pergi ke luar negeri, diajak menuju ke salah satu ruangan di samping kantor agen.

Menurut Melati, yang kini tinggal sementara di shelter ATKI (Bathune House), ruangan mirip pabrik produksi makanan di daerah Tai Wo itu sangat sepi. Tak satu manusia pun terlihat di sana. Awalnya, tuan hanya memotret tubuhnya. Tetapi lama kelamaan, sang majikan mulai berbuat tak senonoh.

Dalam keadaan masih memakai pakaian lengkap, ia dipeluk, bahkan – maaf – payudaranya diremas dengan keras. Spontan, Melati langsung berteriak. Namun, suaranya seolah ditelan angin. Tak seorang pun mendengar teriakan gadis kelahiran 2 Februari 1982 ini. Sampai kemudian, sang majikan mengajaknya pulang ke rumah di Kota Tai Po, NT.

Keesokan harinya, sekitar pukul 5 sore, BMI yang ditugasi merawat dua anak ini, kembali mendapat perlakuan kurang baik dari majikannya. ”Hari itu Minggu, 4 Maret,” kenangnya. Tak lama setelah nyonya dan kedua anaknya pergi jalan-jalan, Melati dihampiri majikan laki-lakinya. Saat itu, ia sedang duduk di kursi kecil di samping jendela sambil belajar bahasa Kanton.

Tiba-tiba, tuan menarik tangannya. Di kamar anaknya, si tuan memperlakukanya lebih parah dari sebelumnya. Pakaian Melati dilucuti, didorong, lalu ditindih. Yang menyedihkan, tuan bersikap biasa-biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa, usai puas melampiaskan hasratnya. ”Sedikitpun tak ada perasaan bersalah dan berdosa di wajah tuanku,” tutur Melati yang selalu terbayang peristiwa itu.

Setelah kejadian pada tanggal merah itu, majikannya tidak lagi berulah selama beberapa hari. ”Paling hanya senyum-senyum,” ujarnya. Tetapi, kejadian lebih parah ternyata masih harus ia terima. Sampai akhirnya, Melati memutuskan kabur dari tempatnya bekerja dan pergi melapor ke polisi pada malam harinya.

Peristiwanya terjadi pada Sabtu pagi (17/3). Majikan perempua telah berangkat kerja. Sementara, tuan sedang menikmati hari liburnya, tidur di kamar. Ketika sedang bersih-bersih rumah, tak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba tuan langsung menarik tangan Melati ke kamar majikan. Tanpa banyak kata, laki-laki yang telah memiliki dua anak itu berusaha melepaskan pakaian yang melekat di tubuh pekerja Indonesia ini. Lantas, ia didorong dan ditindih di atas tempat tidur.

”Saya sudah berontak, tapi saya tetap kalah. Soalnya, tangan saya dipegang dua-duanya,” kisah Melati, pelan. Telah banyak perlawanan yang ia lakukan, tetapi semua seolah tak berarti. Berkali-kali ia menjerit pun tak ada yang mendengar suaranya. Bersyukur, kesempatan akhirnya ia dapatkan. Saat tuan menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menduduki pahanya, tangan Melati berhasil mendorong tubuh tuan yang telanjang.
Ia berteriak kencang, sampai kedua anak asuhnya terbangun. Keduanya lalu buru-buru mengenakan pakaian, setelah sebelumnya sempat terjadi adegan rebutan celana dalam. Ketimbang urusan bertambah runyam, Melati akhirnya mengambil keputusan untuk kabur dari tempat terkutuk itu, meski tanpa sepeser uang di tangan.

140 komentar di "Lagi, BMI Diperkosa Majikan"

Posting Komentar