Astaga! Tega nian tuh cowok. Pekikku tanpa sadar ngeliat foto ini di postingan beberapa blogger MP-ers. Mayoritas mengaku menjadi korban kebohongan pemuda bernama: Kikit Shakti Helaz (KSH), pemilik dari Bigayah.multiply.com. Di jelaskan pula oleh mereka, korban dari sikikit untuk MP-ers Jakarta sekitar 10 orang lebih,rata rata jilbaber. Duh, syukur syukur jika pemuda ini hanya beraksi di Multiply. Bagaimana kalo dia juga beraksi di blogspot, wordprees,dll, dengan identitas yang berbeda??
Swer!!!!!!!Aku kaget setengah modar!!. Foto dan tulisan mereka, menginggatkan aku akan sosok sahabatku bernama Eivengusky. Seorang pemuda lajang yang konon masih study di australi, yang sering membuat rekan rekan blogger-temanku yang lain- jatuh kasihan mendengarnya sering sakit sakitan. Bahkan yang terakhir, ia melalui komplotanya yang tinggal di Bandung, menyebarkan berita: Eivengusky masuk RS di Tokyo. Koma selama tiga hari tiga malam akibat racun mematikan yang diberi saudaranya sendiri. Eiven mengatakan kepadaku, saudaranya itu ingin membunuhnya gara gara harta warisan peninggalan kedua orang tuanya yang telah tiada. Tak pelak, tulisan tulisan sebagai penyemangat ditulis oleh rekan rekan sesame blogger yang kuperkirakan lebih dari enam blog. Namun sayangnya, blognya dihapus oleh sipemilik -setelah membuat blog baru lagi- karena ketahuan belangnya: mengadu domba antar blogger juga antar sahabat hingga mengakibatkan perpecahan itu terjadi. Ditambah pula, dengan blogger bloger usil, yang terlalu muda dalam memahami pokok persoalan, ikut turut campur didalamnya menjadi gamelan menertawai kami yang akhirnya memilih diam menetralisir keadaan dengan prinsip: “serapat rapatnya menyimpan bangkai akhirnya khan tercium juga”. Perselisihan bisa dilihat disini,,disini,disini.![]()
Alasan lain dari kekagetan pada hari melihat foto KSH, yang kemudian ku cocokkan dengan foto eiven yang ada di memori lapyku, gambar ini-wajah eiven- tak jauh beda dengan foto KSH. Meski foto ini hitam putih dan hanya wajahnya doang, toh sketsa wajah itu memiliki kesamaan. Lagi,lagi, ingatan ku akan keluhan eiven sebelum kuputuskan mengiqnore idnya kembali muncul. Buru buru kubuka history chatku ama dia dan menemukan apa yang kucari.
from eiven1327
to kristinadians@gmail.com
6:54 PM eiven1327: Dian kamu tau gak?
6:55 PM Foto sy terpampang di blog yang gak jelas
Kristinadians: dimana tuh
eiven1327 is not available to chat*karma DC dan gak penting, keesokannya aku tk bertanya lagi.*
pertanyaan yang kini mengganjal di benakku:apakah kejahatan net ini dilakukan oleh satu orang? Yang kalo di MP mengaku bernama KSH dan di Blogspot ngaku bernama Eiven?ataukah beda orang tapi memiliki kesamaan kasus? Sirahku puchink tujuh keliling membuka memory lama kenangan with eiven, membuka link link korban KSH di MP, link perdebatan di WP juga di blogspot. Sampai kuabaikan blogku, sapa orang yg kusayang di Gtalk, sapa rekan rekan di FB, juga email email yang masuk, terutama email dari Novee, yang hingga kini masih emosi akibat ulah eivengusky. *maapin ya nop tak pernah lagi kureplay email email darimu*
Perbandingan antara KSH dan eivenpun berhasil aku kumpulkan yang tetep saja sampai tulisan ini diturunkan*yaelah bahasa reporter*kesimpulan belum bisa aku dapatkan. Mudah mudahan ada yang berkenan membantuku memikirkan or setidaknya memberi masukan. Karena bagaimanapun juga, jika kejahatan di internet ini tidak terungkap, aku khawatir, kejahatan serupa bakal terulang lagi. Dan tentu kawan kawan korban kejahatan KSH juga eivengusky bisa merasakan bagaimana sakitnya di bohongi, dikibuli secara mentah mentah. Meski kita setuju:karna salah kita juga. Berikut bahan perbandingan itu:
Biodata Kikit Shakti Helaz: Male, 24, Married. Location: Bandar Lampung. Hometown: Madiun-Ngawi-Jakarta- Bandung- Bengkulu-Lampung. Company: CV. Bina Indo Pratama, PT. Digital Multi Artha-Multiplus Bandung, Buletin Sastra Swadana "Kuil Aksara", CIPTA AUDIO SHAKTI (Recording and Music Entertainment) . School: TK Pembina Bengkulu, SDN 44 Bengkulu, SLTPN 4 Bengkulu, SMUN 2 Bengkulu, Yapari-ABA Bandung no Gaikokugo Daigaku
Menyaring dari tulisan:Persahabatan Berawal dari kejahan BIGAYAH, Atas nama cinta, Catatan Buku Hitam, Surat Untuk Bigayah, Sebut Aku Korban 39 Rebu,This Is Virtual Life...,*maaf jika yg lainya lom kesebut,but isa ngasih info dan aku masukkan disini.txs*, sebagian dari mereka sudah pernah bertemu dengan KSH yang ujung ujungnya berencana meminjam uang,meminjam barang dengan alasan akan menerbitkan buku, menitipkan username and password, meraih simpati and empati dengan gayanya yang sedih, memelas about sakitnya, keluarganya, pekerjaannya, masa lalunya, lingkungannya, dan bla,bla,bla..bahkan katanya akan mendonorkan jantungnya untuk bapaknya. Yaelah..tapi kok -.menurut mereka- KSH akan berangkat ke negeri Kangguru untuk mengikuti program post graduate di Murdoch College.nah lu! Sampai ada yang ngaku dipacarin lho soalnya para jilbaber berduit sasarannya sich. Penasaran?silahkan klik link link diatas.
Jika disimak dengan cermat, teori yang dipakai KSH ini sama persis dengan teori eivengusky. Menitipkan username and password ke sesama blogger, mengharapkan simpati dari bloggernita dengan cara menyuguhkan cerita cerita ala sinetron-menurut Unieq, sahabat lama eiven-. Kenapa demikian:”gak masuk akal aja, semua cerita cerita dia tuh kayaknya sudah disetting”lanjut dia ketika sengaja kutemui di ruang FB. Secara pribadi, aku sangat sependapat dengan keterangan unieq, terlebih aku salah satu sahabat terdekatnya eivengusky yang jika kuhitung kurang lebih satu tahun. Dari seluruh postingan dia, jika dirangkum hasilnya seperti ini: ahli waris harta kekayaan orang tuanya yang telah meninggal dunia. Dikhianati calon istri di hari mendekati pernikahan. Mendapat mandat dari papanya mengurusi panti asuhan yang konon di bangun di seluruh propinsi termasuk yang paling gede di Aceh. *tapi kalo ke Unig ia cerita mandat itu dari mamanya*jlegaaar!kilat menyambar. Sedang kuliah di aussie dan tinggal bersama keponakan bernama dinda dan shall adeknya.*kalo keterangan unieg si eiven ngaku tinggal sendirian disana, sementara si Dinda itu Cuma teman ngeblog doang* bukan keponakan seperti yang sudah diceritakan ke aku atau kawan kawan dekatnya. Ia juga sering memposting tentang sakitnya yang katanya mimisan hampir sepanjang hari, mengidap penyakit akut, pita suaranya kecil karena keseringan masuk RS. Baik itu rumah sakit singapore ataupun berobat kenegara lain. Dan yang terakhir ia ngaku masuk RS tokyo itu. Lagi lagi masih menurut unieq bahwa belom lama ia sempet bincang ma eiven, tiba tiba ia dengar khabar eiven masuk RS Tokyo. Kronologisnya gk masuk akal, kecuali eiven yang saat itu di australi punya pesawat pribadi.
Perbedaan antara KSH ma Eiven emang gak nyolok amat, tapi juga tak jauh jauh amat dari benang merah. Jika di MP, KSH melakukan aksi hanya seorang diri. Tapi kalo eiven melakukan aksi maya dengan dibantu sahabat sahabatnya seperti Uttie misalnya. Ia ngaku si eiven itu bosnya-tapi aku juga lom faham amat- bos kerjaan apa ya? Perempuan inilah satu satunya yang bisa meyakinkan kami sesama blogger bahwa manusia bernama Aulie Eivengusky itu emang ada. Bukan hanya rekaan atau dongengan tulisan maya. Satu lagi seorang mojang bandung bernama Dinda. Dari mereka bertiga aku dikasih tahu: Dinda sahabat dekat Uttie.tak heran jika kemudian si eiven menyerakan urusan kerja di tanah air ke Uttie. Karena si dinda harus tinggal di Aussie menemani eivengusky yang kuliahnya katanya selalu di kawal 6 bodyguard bawahanya. “kalau gak ada yang ngawal, kita khawatir terjadi sesuatu menimpa eiven dikampusnya”begitu kata Dinda padaku suatu hari. Jujur, aku sering dicekokin cerita tentang ketampanan pemuda berusia 32 tahun bernama eivengusky ini oleh dua perempuan itu. Dinda dan uttie. Dan aku juga tak tahu, apakah hanya aku yang di”racuni” oleh mereka, ataukah blogger lain juga diracuni begitu. Membaca tulisan mama icha, dan tulisan novee mungkin bisa ngasih gambaran tentang semua itu.
Namun yang pasti hingga saat ini antara KSH dan eivengusky samasekali tak unjuk rupa atau tulisan, ketika banyak blogger menulis tentang mereka. Hilang karena mati,sengaja menghilang ataukah membuat accoun yang lain lagi untuk menghilangkan jejak. Sementara uttie, dinda dan Eucalyptus, orang yang lebih tahu siapa eivengusky tetap diam seribu bahasa meski himbauan sekedar sharing pernah kutiliskan di sini. Jika mereka bertiga ini masih diam, apakah persoalan bakal selesai. Tentunya tidak bukan? Malah akan memperkeruh suasana dan dunia maya akan semakin rame dengan membentuk opini opini publik.
Sekali lagi, aku berharap para pelaku ini mau unjuk gigi meski tidak dengan kata: Maaf. Agar kami mengerti bahwa KSH dan Eivengusky masih bernafas, masih memiliki “kelelakian”. Dan bisa mengatakan pada kami: “saya KSH tapi bukan Eivengusky”, dan “saya Eivengusky tapi bukan KSH” atau “akulah KSH yang berhasil menjerat perempuan perempuan berkerudung di Multiply dan yang telah berhasil memporak porangdakan persahabatan antar blogger di blogspot dengan memakai nama eivengusky”!!!!Wuuiih..betapa tampanya engkau wahai lelaki, jika bersedia menampakkan diri.
Read More...
Cewek Cewek Korban Cowok Gentayangan
Dikhianati Pacar Lesbi, BMI asal Kendal Nekat Bunuh Diri
CAUSEWAY BAY – Minggu sore, sebuah tragedi memilukan mengguncang suasana Victoria Park yang ingar bingar. Tersiar kabar,seorang BMI nekat bunuh diri, terjun dari ketinggian jalan layang pojok Victoria Park. Tempat Kejadian Perkara (TKP)-nya, tepat di tikungan atas WC umum pintu masuk Victoria. Darah segar masih tergenang di tepian jalan,saat Apakabar tiba di TKP. Sedangkan si korban – belakangan diketahui bernama Rara – sudah dilarikan ke Queens Marry Hospital, Hong Kong.
Mengutip Konsul Ketenagakerjaan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sri Setyowati, yang ditemui Apakabar, Senin, korban yang bekerja di Siu Sai Wan Road No. 28, Island Resort itu, anak dari agen M&S Company. Rara atau Budi Utami – nama aslinya – berangkat dari PJTKI Bama Mapan Bahagia pada Februari 2006. Sejak memperoleh laporan tentang insiden itu, KJRI telah menghubungi majikan dan agen. Senin itu juga, KJRI mengutus Gustaf – staf KJRI – untuk menengok korban di rumah sakit. Saat itu, kondisi Rara masih kritis.
Sri menambahkan, BMI yang memilih jalur tragis untuk mati itu berasal dari Ds. Galih, Kec. Gemuh, Kendal, Jawa Tengah. Diduga, ia nekat terjun dari jalan layang karena stres. ”Keterangan ini dihimpun dari beberapa teman dekat Rara. Pemicu stres Rara adalah dimarahin majikan, karena ketahuan merokok di dalam rumah,” terang Sri.
Kasak-kusuk pun menyebar, berspekulasi tentang penyebab Rara bunuh diri. Sumber yang ditemui di TKP menyebutkan, sore itu ia sempat melihat Rara berjalan menyusuri jalan layang. Ia tak sempat berpikir anak itu akan nekat terjun bebas dari atas. ”Kalau tahu dia mau bunuh diri, saya pasti sudah lapor polisi. Saya menyesal sekali,”ungkapnya.
Usai melihat Rara melayang, sumber ini memilih kabur, khawatir dibawa polisi untuk menjadi saksi. Sumber lain, BMI asal Sengkaling Malang, secara kebetulan duduk di bawah jembatan layang tak jauh dari TKP. Usai kejadian, ia sempat melihat korban – berambut cepak dan berbaju merah – masih bergerak. Kepalanya separuh retak. ”Sepertinya anak tomboi. Mungkin putus cinta sama teman lesbinya,” duga sumber.
Meski usianya baru sekitar 22 tahun, Rara telah bersuami dan punya anak. Ketika tiba di Hong Kong, ia masih terlihat lugu dan polos. ”Namun setelah mengenal dunia luar, Rara selalu berpenampilan tomboi,” tutur Rahayu, salah seorang teman yang bertetangga dengannya.
Rahayu dan Rara bekerja di rumah majikan di daerah yang sama. Hanya berbeda flat. Kepada Rahayu, suatu kali Rara pernah bercerita, ia tidak disukai oleh sang mertua. Rara juga mengaku sedang dihukum majikan – tidak dikasih libur – gara-gara ketahuan merokok di kamar mandi. Sebelum menerima hukuman, Rara libur dua minggu sekali. Soal pacar? ”Dia nggak pernah cerita,” tukas Rahayu.
Spekulasi lain – dan ini yang belakangan berembus kencang – menyebutkan, Rara nekat bunuh diri lantaran memang didera masalah pribadi. ”Dia terlibat cinta segitiga. Rara cemburu dengan pasangan lesbinya yang ternyata juga menjalin hubungan dengan pria Pakistan,” ujar sebuah sumber. Sebelum nekat bunuh diri, mereka bertiga sempat ribut di sekitar TKP.
Saat itu, menurut sumber ini, Rara sebenarnya mau diantar majikannya ke agen, terkait ”dosa” merokok di kamar mandi. Namun, belum lagi hal itu terlaksana, Rara sudah melarikan diri. Kabur? Tidak persis begitu. ”Rara nyelonong pergi keluar rumah, setelah mendapat kabar pacarnya selingkuh dengan pekerja asing asal Pakistan,” bisik sumber.
Lantas, bagaimana kabar terakhir Rara? Selasa sore (24/4), sempat tersiar kabar, BMI malang itu telah meninggal dunia setelah beberapa waktu koma di ruang ICU. Namun, Gustaf dari KJRI yang dikonfirmasi Apakabar pada Rabu (25/4) siang menyebutkan, keadaan Rara justru membaik. ”Ketika kami kunjungi kemarin, keadaannya sedikit membaik, tapi masih koma,” ujarnya.(WINKA/KDS)
Read More...
Lagi, BMI Diperkosa Majikan
Oleh: Kristina Dian S
”Saya sudah berontak, tapi saya kalah. Tangan saya dipegang dua-duanya sama tuan,” kisah Melati, pelan. Telah banyak perlawanan dilakukan, tetapi seolah tak berarti. Berkali menjerit pun tak ada yang mendengar suaranya. Bersyukur, kesempatan akhirnya ia dapatkan. Saat tuannya ini tadi menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menduduki pahanya. Tangan Melati berhasil mendorong tubuh tuannya yang telanjang.
Malang benar Melati. Baru pertama kali pergi dan bekerja di luar negeri, ia sudah tak beruntung. Majikan laki-lakinya ternyata seorang ”penjahat seksual”. Melati memutuskan kabur, dan kini tengah memperkarakan tuan di Labour Department dan kepolisian.
Melati (bukan nama sebenarnya), BMI asal Gondang Legi, Malang, benar-benar tak puas mendengar hasil sidang Labour Department yang digelar Senin, lalu. Perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual tuannya tiga bulan lalu itu, merasa gusar. Pasalnya, dalam sidang yang dimulai pukul 09.15, ia hanya diputuskan memperoleh uang tiket, perjalanan pulang, dan upah kerja selama 15 hari. Sedangkan uang notis atau satu bulan gaji, tidak berhasil ia dapatkan.
Perdebatan tentang uang notis antara majikan dan pembantu ini, wajar terjadi. Sang majikan tentu keberatan dan ngotot tidak mau membayar uang notis pekerja asal Jawa Timur ini. Sebab, Melati baru bekerja dua minggu, tetapi sudah memutuskan kabur dari rumahnya. Sebaliknya, si pekerja juga memiliki alasan kuat: tak betah bekerja, lantaran terus-terusan diperkosa tuan. ”Kalau tidak mendapat pelecehan seksual, tidak mungkin saya kabur,” argumentasi Melati dalam sidang yang dihadiri kedua majikannya itu.
Karena kedua pihak saling menuntut, hakim memutuskan: kalau nanti pada sidang polisi (terkait peristiwa kriminalnya), majikan yang menang atau tidak terbukti salah, maka Melati yang ditetapkan membayar uang notis kepada majikan. Tetapi jika Melati dinyatakan tidak bersalah, maka majikanlah yang harus membayar uang notis. Dengan demikian, sama artinya Melati tidak memperoleh uang notis pada sidang Labour hari itu. Pasalnya, keputusan baru akan didapat nanti dalam sidang polisi.
Yang jadi persoalan, tentu jika Melati terus menindaklanjuti atau tidak menarik laporan pemerkosaan yang telanjur ditangani polisi. Sedangkan bila kasusnya dihentikan hanya sampai di sidang Labour Departement, bisa jadi, BMI yang telah di-”sentuh” majikan laki-lakinya ini tak beroleh uang ganti rugi sama sekali.
Kepada Apakabar, Melati menyampaikan keraguannya menindaklanjuti kasus pelecehan itu. Meskipun bukti yang ia miliki – berupa baju – dalam masih ada sidik jari. ”Saya belum tahu, apakah dilanjutkan atau saya hentikan, mengingat kasus kriminal membutuhkan waktu lama,” ujarnya. Melati kemudian menuturkan kronologi kejadiannya.
Sejak pertama kali dijemput majikan laki-laki di kantor agen, sehari setelah Melati mendarat di Hong Kong, sang majikan sudah menunjukkan gelagat yang kurang baik. Aroma tak sedap itu semakin tajam, begitu mereka keluar dari kantor agen. Melati, yang baru pertama kali pergi ke luar negeri, diajak menuju ke salah satu ruangan di samping kantor agen.
Menurut Melati, yang kini tinggal sementara di shelter ATKI (Bathune House), ruangan mirip pabrik produksi makanan di daerah Tai Wo itu sangat sepi. Tak satu manusia pun terlihat di sana. Awalnya, tuan hanya memotret tubuhnya. Tetapi lama kelamaan, sang majikan mulai berbuat tak senonoh.
Dalam keadaan masih memakai pakaian lengkap, ia dipeluk, bahkan – maaf – payudaranya diremas dengan keras. Spontan, Melati langsung berteriak. Namun, suaranya seolah ditelan angin. Tak seorang pun mendengar teriakan gadis kelahiran 2 Februari 1982 ini. Sampai kemudian, sang majikan mengajaknya pulang ke rumah di Kota Tai Po, NT.
Keesokan harinya, sekitar pukul 5 sore, BMI yang ditugasi merawat dua anak ini, kembali mendapat perlakuan kurang baik dari majikannya. ”Hari itu Minggu, 4 Maret,” kenangnya. Tak lama setelah nyonya dan kedua anaknya pergi jalan-jalan, Melati dihampiri majikan laki-lakinya. Saat itu, ia sedang duduk di kursi kecil di samping jendela sambil belajar bahasa Kanton.
Tiba-tiba, tuan menarik tangannya. Di kamar anaknya, si tuan memperlakukanya lebih parah dari sebelumnya. Pakaian Melati dilucuti, didorong, lalu ditindih. Yang menyedihkan, tuan bersikap biasa-biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa, usai puas melampiaskan hasratnya. ”Sedikitpun tak ada perasaan bersalah dan berdosa di wajah tuanku,” tutur Melati yang selalu terbayang peristiwa itu.
Setelah kejadian pada tanggal merah itu, majikannya tidak lagi berulah selama beberapa hari. ”Paling hanya senyum-senyum,” ujarnya. Tetapi, kejadian lebih parah ternyata masih harus ia terima. Sampai akhirnya, Melati memutuskan kabur dari tempatnya bekerja dan pergi melapor ke polisi pada malam harinya.
Peristiwanya terjadi pada Sabtu pagi (17/3). Majikan perempua telah berangkat kerja. Sementara, tuan sedang menikmati hari liburnya, tidur di kamar. Ketika sedang bersih-bersih rumah, tak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba tuan langsung menarik tangan Melati ke kamar majikan. Tanpa banyak kata, laki-laki yang telah memiliki dua anak itu berusaha melepaskan pakaian yang melekat di tubuh pekerja Indonesia ini. Lantas, ia didorong dan ditindih di atas tempat tidur.
”Saya sudah berontak, tapi saya tetap kalah. Soalnya, tangan saya dipegang dua-duanya,” kisah Melati, pelan. Telah banyak perlawanan yang ia lakukan, tetapi semua seolah tak berarti. Berkali-kali ia menjerit pun tak ada yang mendengar suaranya. Bersyukur, kesempatan akhirnya ia dapatkan. Saat tuan menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menduduki pahanya, tangan Melati berhasil mendorong tubuh tuan yang telanjang.
Ia berteriak kencang, sampai kedua anak asuhnya terbangun. Keduanya lalu buru-buru mengenakan pakaian, setelah sebelumnya sempat terjadi adegan rebutan celana dalam. Ketimbang urusan bertambah runyam, Melati akhirnya mengambil keputusan untuk kabur dari tempat terkutuk itu, meski tanpa sepeser uang di tangan.
Read More...
Transaksi Narkoba, Dua TKW Hong Kong Ditangkap
Oleh: Kristina Dian Safitry
WAN CHAI – Sepandai pandai tupai melompat, akhirnya terjatuh juga. Begitulah naas yang menimpa J dan D, dua orang TKW asal Jawa Timur, pada Minggu, sekitar pukul 3.30. Keduanya tertangkap basah oleh polisi seusai melakukan transaksi narkoba di daerah Wan Chai. Mereka disita bersama barang bukti berupa 61 butir pil ekstasi alias inex.
Dini hari itu, tak seperti biasa, J melenggang masuk ke sebuah building yang tak jauh dari diskotek Neptune. Ia menuju lantai 8, didampingi D, pasangan lesbinya. Hari itu adalah kali pertama J mengajak D, BMI yang sudah lima tahun bekerja di daerah Apreecau. Sebelum ini, J biasa mengambil barang ke bandar atasnya ditemani S yang sesama pengedar. Namun, S kali ini menunggu di sekitar tempat itu, sesuai permintaan J yang mengaku sudah ditemani D.
Setelah menerima 61 butir pil setan dari berbagai jenis, oleh J, barang tersebut langsung dibungkus tisu. J tak keberatan barang itu dipegang D, gadis 23 tahun. Selanjutnya, dengan barang bukti (BB) dalam genggaman D, berdua mereka kembali turun ke lantai dasar dengan mengunakan lift yang sama.
Apes. Sesampai di lantai dasar, beberapa polisi rupanya telah menunggu. Mereka panik dan bingung, tapi masih berusaha tenang. Sampai kemudian, ketika J diminta KTP oleh polisi, D buru-buru membuang BB ke tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sial, butiran pil itu malah berhamburan dan meninggalkan suara saat masuk tong sampah kosong.
Perhatian polisi yang sedang memintai keterangan J, langsung tertuju ke tong sampah, juga D. Merasa curiga, sebagian polisi langsung mengorek tempat sampah tersebut dan menemukan BB tadi. Saat itu juga, BMI asal Sumber Pucung dan Blitar itu langsung dicokok dan digelandang ke kantor polisi.
Menurut keterangan beberapa pelanggan J, yang ditemui Apakabar di diskotek Neptune dan Boraqe, baru sekali itu J berurusan dengan polisi meski sudah hampir setahun menjadi pengedar, juga pemakai inex. ”Sudah lama saya kenal J dan D. Tapi selama itu, dia aman-aman saja beraksi,” cetus seorang BMI tomboi, yang enggan disebut namanya.
Masih menurut dia, hubungan J dengan para pelanggan sejauh ini terjalin cukup baik, sehingga pelanggannya terus bertambah. ”Kami curiga, jangan-jangan ada yang sengaja melaporkan mereka kepada polisi,” imbuh si BMI, yang mengaku mulai berlangganan pil setan ke J sejak akhir 2006.
Meski banyak yang berpendapat kedua BMI ditahan polisi karena rekan seprofesi, namun ada sebagian lain yang menyebut hal itu murni karena kecerobohan mereka sendiri. Namun, ada juga rumor yang menyatakan, sejak 25 Maret lalu J menjadi buron polisi dengan dugaan membunuh majikan. ”Kabarnya sih, J dikejar-kejar polisi sejak seminggu lalu,” ujar salah seorang anggota kelompok itu, diamini rekan-rekannya.
Menurut beberapa sumber yang minta dirahasiakan namanya, pada hari Minggu, sepekan sebelum J tertangkap, sang majikan yang berusia 42 tahun meninggal dunia. Kabar burung menyebut, J sengaja membunuh majikan dengan inex. Ada juga yang bilang, J membunuh majikan dengan caranya sendiri.
Menanggapi gosip-gosip miring itu, J yang akhirnya berhasil dihubungi Apakabar via ponselnya, Senin sore (9/4), langsung membantah. ”Kalau saya dituduh membunuh majikan, kenapa saya masih bisa berkeliaran dan bekerja di rumahnya? Wong, saya ini sayang banget sama mama,” aku J, memakai istilah ”mama” untuk menyebut sang nyonya.
Usai berbincang dengan pelanggan J, yang hari itu turut prihatin atas ”musibah” yang menimpa rekannya, Apakabar meluncur ke Police Station Wan Chai. Sayang, kedua BMI masih berada di ruang interogasi dan tak bisa ditemui. Namun, salah seorang polisi membenarkan bahwa pihaknya memang telah menangkap pekerja asal Indonesia dengan barang bukti 61 butir obat di salah satu building yang biasa dijadikan tempat transaksi obat terlarang.
Esok harinya, Senin (2/4), Apakabar kembali datang ke kantor polisi, berharap bisa bertemu dengan kedua tersangka, terutama J yang lama dikenal sebagai pengedar narkoba. Lagi-lagi, Apakabar harus pulang dengan tangan kosong. Menurut pihak kepolisian, kedua BMI telah dibebaskan dengan bersyarat, setelah disidang di Saiwan Ho, pukul 10 pagi.
Putusan bebas bersyarat diberikan, lanjut polisi, karena kedua pekerja memiliki penanggung jawab atau majikan. Sehingga, setelah semalam menginap di tahanan, keduanya diizinkan kembali bekerja di rumah majikan. Itu pun setelah majikan memberikan keterangan kepada polisi bahwa ”pembantunya baik”. Terhadap J dan D juga dikenai jaminan minimal HK$ 500. Namun, kepada Apakabar, J mengaku memberikan HK$ 1.000 sebagai jaminan atas pembebasannya.
J enggan berkomentar banyak perihal penangkapannya. ”Percuma berkomentar, sebab hasil sidang kasus saya baru akan diputuskan pada bulan Mei,” kata BMI yang sudah delapan tahun bekerja di Hong Kong itu. Menurut J, kepada polisi maupun pengadilan, ia memberikan keterangan bahwa BB tersebut adalah miliknya, bukan milik D yang hari itu hanya kebetulan sedang bersama.
”Sengaja saya lakukan ini, karena saya tidak rela D yang masa depannya masih panjang harus meringkuk di balik terali besi selama 15 tahun, atau dengan perhitungan satu butir ekstasi satu tahun penjara,” kata J. Sebuah tragedi yang, tentu saja, tak patut dicontoh oleh BMI yang lain.
Read More...
Deritaku Memiliki Dua Suami
"Memiliki dua suami membuatku depresi. Begitu tabir terkuak, kedua suamiku sama-sama mengancam. Aku tersudut tanpa ada celah mengutarakan alasan. Qosim, suami pertamaku mengancam akan minum racun yang dicampur dengan bubur bersama anak kami supaya mati bersama. Sementara suamiku yg di Taiwan juga bersikap demikian. Ia bisa membuatku tidak bisa bertemu dengan anak kami yang masih balita.Aku makin binggung. Aku tak bisa memilih satu dari suami yang sama-sama menyayangiku."
Sikap suamiku yang berubah temperamental sejak dipecat atasannya, mendorongku untuk berangkat ke Taiwan mencari modal. Namun modal belum sempat terkumpul, orang tua memberikan cerita palsu tentang suamiku di tanah air. Bahkan keluarga juga menyuruhku mencari penganti suami orang Taiwan. Dan, akupun mendapatkannya!
Kehadiranku di dunia rupanya tak pernah diinginkan keluarga. Aku dianggap anak sial yang hanya akan mengundang petaka, karena ibu sering jatuh sakit saat mengandungku. Usia kehamilan ibuku baru enam bulan, ketika aku akhirnya harus dilahirkan. Teganya, sudah lahir prematur, bapak dan ibu langsung ingin membuangku. Itu terjadi gara-gara usaha bapak mendadak bangkrut, sehingga perekonomian keluarga langsung tercekik.
Bersyukur, kakek dan nenek yang mengetahui rencana orang tua langsung mengambilku. Mereka tak setuju cucunya dibuang. Akhirnya sejak bayi aku di asuh oleh kakek nenek yang kehidupannya sangat sederhana. Sewaktu masih bayi, kata kakek nenek aku sangat lucu dan mengemaskan. Meski baru pada usia 4 tahun aku bisa berjalan. Mereka yakin, kelak aku tumbuh cantik, enerjik dan ....ehm, jadi incaran banyak laki-laki.
Ternyata benar. Di Banjarnegara, kampungku, aku menjadi buah bibir pemuda dusun. Hampir semua penduduk mengenalku. Selain dikenal cantik, rajin, aku juga di kenal ramah. Maklum tiap pulang sekolah, aku keliling kampung berjualan abu merang untuk cari biaya sekolah. Keluarga kandungku-yang sebenarnya kaya raya-sudah tak mau tahu dengan diriku.
Memasuki SMP, kuhentikan menawarkan dagangan keliling kampung. Jujur, perasaan malu mulai mendera, mengingat banyak pemuda yang berusaha mendekat. Tidak sedikit pula yang langsung melamar pada kakek nenek. Namun, semua ditolak. ''Keputusan ada di tangan orang tuamu''kata kakek nenek kepadaku tiap kali ada pemuda yang ingin meminang. Suatu hari, saat usiaku 16 tahun, aku berkenalan dengan pemuda dusun. Perkenalan akrabku dengan Qosim(bukan nama sebenarnya),32 tahun, terjadi di suatu acara pernikahan tetangga kami. Oleh si empunya hajat, aku ditunjuk sebagai penerima tamu. Selepas acara aku langsung di ajak main oleh Qosim. Keluargaku curiga, berprasangka yang tidak-tidak. Padahal waktu iotu kami hanya jalan bareng. Diberi penjelasanpun orang tuaku tetap tak percaya. So? Terlanjur basah, ya mandi sekalian. Qosim mengajakku menikah. Aku tak bisa menolak meski aku belum mengerti apa artinya cinta. Maklum selama itu aku merasa hidup sendiri, merasa jadi anak buangan.
Kami menikah tanpa restu orang tua masing-masing. Secara diam-diam dan hanya di hadiri segelintir teman dekat di KUA kota setempat. Hal itu terpaksaa kami lakukan karena orang tuaku tak setuju menikah mendahului kedua kakakku. Sementara orang tua Qosim tidak rela anaknya menikah dengan penjual abu merang. Memalukan, katanya. Biarpun pesta kecil-kecilan, kami sangat menikmati dan hidup bersama setelah menikah. Qosim membimbingku banyak hal. Ini yang membuatku semakin ''gila''padanya.
Namun belum lama kebahagiaan kudapat, cobaan menghempas kehidupan kami. Tanpa sebab suamiku dipecat atasannya. Ia jadi sering marah-marah. Nada bicaranya kasar, bahkan mulai ringan tangan, meski aku sedang hamil empat bulan. Qosim berusaha bangkit dari keterpurukan, sampai akhirnya ia memulai buka usaha. Malang, belum lama usaha dibangun, ia mengalami kebangkrutan. Modal habis, hutang pun menumpuk. Seketika, sikapnya berubah total. Sosok yang sempat memberiku bahagia, kini memberika air mata duka.
Meski anak kami lahir, sikap Qosim tak juga berubah. Setelah anakku berumur 1,5 tahun kuputuskan pergi dari rumah. Apapun yang terjadi aku nekat mencari duit agar suamiku tak lagi bersikap seperti itu. Setelah tanda tangan dari suami dipalsukan sponsor, aku masuk penampungan dan dibewrangkatkan ke Taiwan delapan bulan kemudian. Menjelang berangkat, suami dan ankku datang ke PT. Sepertinya ia baru tahu jika aku hendak berangkat ke luar negeri.
Terlambat. Aku sudah terlanjur masuk bis pemberangkatan. Saat bis yang hendak mengantarkan kami ke bandara melintasinya, kulihat suamiku mengendong anakku sambil melambaikan tangan. Tak jelas apa yang dikatakan suamiku dengan matanya yang berkaca-kaca. Sementara anak perempuanku satu satunya memanggil namaku, ingin ikut serta. Ku coba menahan air mata dan pura-pura tidak mendengar.
Setelah lima bulan bekerja, aku menelepon ibuku. Sengaja aku tidak mengontak suami, takut ia akan marah. Kata ibu setelah kepergianku, Qosim jarang pulang. Sepanjang hari hanya kelayapan. Pokoknya kata ibu, suamku sudah ndak karuan hidupnya. Aku percaya saja. Rasanya, tak mungkin ibu tega membohongi dan memberikan cerita palsu kepada anaknya. Terus terang, saat itu aku terpengaruh cerita ibu. Sejak itu aku tidak peduli lagi pada Qosim. Bahkan mendengar suaranya pun aku enggan. Dalam kondisi otakku yang kacau, ibu menasehati agar aku tidak mengirimkan uang pada suamiku. Ibu juga menyarankan agar aku mencari suami orang Taiwan. Kepada ibu kahirnya aku rutin mengontak menanyakan kabar anakku juga mengirimkan uang.
Rasa sepi juga sakit hati mendengar cerita ibu tentang Qosim, mendorongku menerima lamaran Walkune(panggil saja begitu), pria Taiwan yang telah sembilan menduda. Ia komandan majikanku. Usianya 40 tahun. Tahu sendiri bagaimana bodi seorang tentara. Gagah, tegap, rapi, bersih, juga baik hati dan ramah. Bersyukur majikan tidak komplin. Bahkan setelah tahu atasannya ada hati padaku, aku di izinkan tinggal dengan Walkune.
Duda keren kaya raya itu amat sayang padaku. Segala permintaanku selalu di turuti. Bersamanya hidupku serba glamour. Aku benar-benar melupakan segalanya. Melupakan sakit hatiku terhadap Qosim yang kata ibu semakin gak genah. Semua tampak indah terlebih sejak hidup bersama tuan tanah di daerah To Yen itu. Kebersamaan itu akhirnya membuat aku hamil. Walkune semakin sayang dan cinta, terlebih setelah aku melahirkan bayi laki-laki yang lucu dan sehat. Setelah anak dari hasil hubunganku dengan Walkune lahir, kami pun menikah secara kekeluargaan di Taiwan.
Juni 2003 aku pulang ketanah air bersama Walkune. Sementara anakku yang masih kecil kutinggal. Bisa dipastikan betapa senang keluargaku. Anaknya yang semula hanya seorang pembantu berhasil mengait duda kaya raya, ganteng dan tidak pelit. Lebih gembira lagi, Walkune memberikan Rp 500 juta kepada keluargaku untuk pernikahan kami di indonesia. Ya, nikah siri terpaksa kami lakukan, karena statusku masih istri orang.
Memiliki dua suami tentu membuatku kebinggungan. Begitu tabir terkuak, kedua suamiku sama-sama mengancam. Aku tersudut tanpa ada celah mengutarakan alasan. Waktu itu aku benar-benar strees berat. Qosin mengancam akan minum racun yang dicampur dengan bubur bersama anak kami supaya mati bersama. Qosim tak setuju aku kembali ke Taiwan, hidup bersama anak dan suami keduaku. Dibayar berapapun-katanya- ia tak akan pernah mau menceraikan aku. Ia masih sayang padaku, mengharapkan aku menjadi istri yang sayang pada suami dan anak.
Memang, sejak kembali dari Taiwan, aku baru tahu aku termakan fitnah keluargaku sendiri. Cerita ibu kepadaku ternyata tidak benar. Ibuku berbohong. Qosim sangat perhatian dan bertanggung jawab. Memeras keringat mencari uang untuk kebutuhan hidup. Sampai saat itu pun meski telah mendengar aku kecantol laki-laki Taiwan, ia tetap setia. Ia tidak berprasangka buruk terhadapku. Orang tuaku memang pintar(atau licik?). Melakukan semua demi uang, tak peduli mengorbankan kebahagiaan anak.
Kacaunya, Walkune tak mau terima aku kembali pada anak dan suamiku yang pertama. Ia mengancam, aku tidak pernah bisa masuk Taiwan, apalagi bertujuan mengambil anak. Ia juga bilang, tidak akan membantuku bertemu dengan anak kami yang masih balita. Jangankan bertemu, mendengar suaranya pun tak bisa. Aku makin binggung. Bagaimana mungkin aku tidak bisa menatap wajah anakku lagi? Saat itu aku hanya bisa menangis. Aku tak bisa memilih satu dari suami yang sama-sama menyayangiku.
Belakangan kuputuskan untuk kembali pada keluargaku yang pertama. Tapi bukan berarti masalahku finish. Kepergian Walkune meninggalkan aku dalam keadaan depresi. Sangat berat aku menerima kenyataan itu. Sebenarnya aku belum mau kehilangan Walkune. Ia mampu membuatku bahagia, menjadikanku manusia yang dihargai. Walkune adalah laki-laki yang penuh cinta. Masalahnya, lagi,lagi, apakah mungkin aku memiliki dua suami? dan, apakah mereka mau menerima?
Dari waktu ke waktu, keadaanku semakin parah. Terlebih saat aku mendapat kabar, Walkune dan anakku di Taiwan telah pindah rumah. Nomor telepon juga diganti. Aku sedih tak bisa lagi mendengar suara mereka. Sementara pasporku sudah di robek-robek Qosim. Aku semakin hilang asa. Hampir dua bulan jiwaku sakit, tertindah beban mental itu. Namun berkat ketulusan, kesabaran dan ketabahan Qosim, lambat laun mata hatiku terbuka. Dibimbingnya aku menapaki kehidupan. Aku harus mengihklaskan kepergian anak dan suami kedua dari hatiku. Toh, suami pertamaku telah berubah, kembali seperti sebelum di PHK. Di mataku, ia kini jauh lebih sempurna. Qosim faham''kebakaran''yang terjadi dalam rumah tangga kami semata dipicu oleh api yang disulut keluargaku.
Setelah sembuh total, aku minta izin berangkat ke Hong Kong. Tapi meski telah jauh melangkah, bayangan Walkune dan anak lelakiku kembali menghantui. Apalagi jika mendengar musik klasik romance yang terekam dalam CD, hatiku terasa teriris. Beratnya, Walkune berhasil menghubungiku di HK. Namun tiap kali kontak, ia tak mau memberikan nomor telepon atau mengizinkan aku berbicara dengan anakku. Ia selalu bilang wo aini. Cinta, kangen dan banyak lagi kata-kata indah yang sedari dulu sering terlontar dari bibirnya. Rupanya ia tak mau menikah lagi, bersabar menatiku kembali ke Taiwan.
Kini masa kontrak kerjaku di HK sudah hampir selesai. Aku ingin hidup tenang bersama anak dan suamiku di tanh air. Masalah harta, insya Allah sudah cukup. Tapi aku masih resah hendak kemana hati ini kubawa? Aku ingin bertemu anak laki-lakiku di Taiwan, meski hanya untuk sesaat. Tapi mungkinkah? Solusi apa yang sebaiknya ku tempuh?
(Di tuturkan ''TY'' kepada Kristina Dian S dari Apakabar)
Read More...
Siksa Di"Kebun Binatang"
Oleh: Kristina Dian Safitry
Dua bulan bekerja di sebuah vila di Yuenlong, ibarat setahun hidup di neraka. Tita harus bekerja di luar batas kemanusiaan.Ia harus memelihara 50-an jenis hewan piaraan. Sementara, dalam sehari, praktis ia cuma tidur sejam, sebelum akhirnya: di-terminate majikan tanpa ampun.
Wajahnya masih pucat berhiaskan bekas luka. Tubuhnya kecil, kurus, dan kelihatan masih gemetar. Tiada senyum, apalagi tawa dari sela-sela bibirnya yang kering. Ia lebih banyak menunduk, tak bersuara, saat ditemui Apakabar di kantor Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia(ATKI), beberapa waktu lalu. Butuh kesabaran ekstra untuk mengorek cerita dari gadis kelahiran 1986 asal Jawa Timur ini.
Setamat SMA (2005), Tita berkeinginan kuat membantu memperbaiki ekonomi keluarga, sekaligus membiayai sekolah bagi kedua adiknya. ”Sebagai anak sulung, saya merasa memiliki tanggung jawab setelah lulus sekolah,” tuturnya. Untuk mewujudkan dorongan hati, ia pun mendaftar ke PT Sukses Mandiri, Bekasi, Jawa Barat.
Bersyukur, tak lama masuk penampungan, ada majikan yang menginginkan tenaganya. Surat kontrak kerja ia tanda tangani pada 15 September 2006. Berisi uraian tugas yang harus ia kerjakan: cuci mobil, memlihara taman dan 10 ekor anjing. Tepat setelah enam bulan di penampungan, ia pun berangkat pada 17 November 2006. Anak buah Kasa Maid Agency itu langsung mulai bekerja di sebuah vila bertingkat tiga 297 Pak Sha Tsuan, Yuenlong.
Kali pertama memasuki vila, Tita kaget mendapati suasana di tempat kerjanya. Pasalnya, vila yang dihuni lima anggota keluarga itu, lebih pantas disebut kebun binatang. Ada 30 ekor anjing berkeliaran di area dan di dalam rumah. Marmut 10 ekor dan tujuh kelinci yang juga dibiarkan lepas. Ada pula 11 ekor kura-kura berukuran besar-kecil. Belum lagi tujuh sangkar yang berisi aneka jenis burung, serta beragam jenis ikan di kolam halaman vila dan akuarium.
”Di vila itu, tugas saya merawat rumah dan hewan, karena anak-anak majikan sudah besar,” ujarnya. Tak merawat anak, tentu, bukan berarti pekerjaannya jadi ringan. Mencuci mobil, membersihkan rumah tiga tingkat, halaman, menyetrika, masak, dan mencari rumput untuk hewan mamalia. Sang majikan mengultimatum: ia boleh tidur jika seluruh pekerjaan sehari telah beres. ”Praktis, dalam sehari, saya cuma memiliki waktu tidur 30-60 menit,” imbuhnya.
Selama bekerja di dusun pelosok itu, tak sekalipun Tita melahap nasi di siang hari. Jatahnya cuma dua lembar roti. Itupun kalau ia sudah menyelesaikan tugas rutin di pagi hari: menyapu, membersihkan halaman, kolam, juga menyiram bunga. Kalau belum kelar, ia cuma berhak atas selembar roti.
Untuk mendapatkan semangkok nasi, Tita harus ”berjuang” keras sehari penuh. Baru sekitar pukul 3-4 dini hari, setelah majikan memastikan tidak ada pekerjaan yang tercecer, ia beroleh nasi. Berlanjut membersihkan badan dan melepas lelah sejenak.
Tubuh Tita memang penuh bekas luka. Di pipinya, ada warna putih akibat kena seterika. Kaki dan tangannya tak semulus dulu, sebelum ia tiba di Hong Kong. Pahanya membiru. Kedua matanya berlingkar warna hitam pekat. Giginya pun copot satu di bagian depan.
Menurut Tita, giginya tanggal akibat terbentur benda keras. Saat itu, seperti biasa, pada pukul 1 dini hari, ia pergi membuang sampah memakai troller ke luar area rumah. Saking ngantuknya, tiba-tiba ia kesliyer. Pegangan troller terlepas, meluncur ke bawah. Ia hampir terjatuh ke tanah. Entah wajahnya terbentur di mana, tahu-tahu mulutnya berdarah. Gigi depan lepas satu.
Tita memang ”disulap” majikan bak kelelawar. Ia diperintah beraksi keluar rumah pada malam hari. Tiap pukul dua dini hari, ia harus berkeliaran di pinggir-pinggir jalan, membelah desa Yuenlong yang sepi. Ia menenteng keranjang rumput, celingukan mencari rumput segar untuk makanan hewan piaraan.
Usai merumput, ia masih harus menyetrika. Tak terbayang, rasa kantuknya kian mendera. Tanpa disadari, ia terlelap sekejap. Wajahnya terantuk, tepat mengenai setrika panas. Melepuh. Dari situlah, kadang ia memilih menyetrika baju di pagi hari. Namun akibatnya, ia didenda HK$ 20, dianggap tak mampu menyelesaikan pekerjaan.
Sebagai gadis lugu, Tita menjalani saja apapun perintah majikan. Ia coba bersabar, meski majikan banyak ”suara”. Ia juga tak protes ketika gaji pertamanya hanya tersisa HK$ 3, sekitar tiga ribu rupiah. Gaji pertamanya memang sesuai prosedur. Tapi selain untuk membayar potongan agen, gajinya juga didiskon majikan untuk bayar ganti rugi: HK$ 5 jika terlambat bangun, HK$ 20 jika pekerjaan tak kelar, dan untuk beli peralatan mandi. ”Walau sudah sepasrah itu, saya tetap di-terminate majikan,” ratapnya.
Penghentian sepihak itu disampaikan mendadak, hanya lima menit. Bahkan untuk mandi saja dilarang. Tita hanya boleh ganti baju. Dua hari sebelum dideportasi, majikan sempat membawanya periksa ke dokter. Hasilnya? Ia dinyatakan unfit alias kurang sehat. ”Mungkin, berbekal keterangan dokter itulah saya dipulangkan,” katanya, getir.
Sabtu, 20 Januari 2007, majikan mengantarnya langsung ke bandara. Setelah memberikan paspor dan tiket, sang majikan kabur tanpa kasih pesangon. Jangankan itu, gaji bulan kedua (gaji akhir) pun tak ia terima. Padahal, sehari sebelumnya, majikan telah meminta tanda tangan di atas selembar kuitansi, bukti pembayaran gaji sebesar HK$ 3400. ”Tapi duitnya tak diberikan.”
Penampakan fisik Tita yang ”nyleneh”, mengusik perhatian orang-orang di bandara, utamanya sesama BMI. Mereka tak terima gadis itu pulang ke tanah air dalam keadaan lusuh. Mereka sigap membantu: meng-cancel tiket pesawat, lalu melapor ke polisi. Tak lama, ambulans menyusul datang. Selama dilarikan ke RS Prince Margaret - Mei Fu, Tita hanya diam membisu. Air matanya telah kering.
Setelah diberi suntikan anti-tetanus dan beberapa butir obat, Tita balik ke bandara. Mengambil tasnya yang sudah telanjur masuk bagasi. Masih ditemani kolega barunya, gadis malang itu sampai di kantor ATKI. Kini, sembari memulihkan kesehatan, Tita minta bantuan untuk menuntut haknya kepada majikan. Wajar, kerja dua bulan bak sapi perah, hanya tiga ribu perak yang dihasilkan.
Read More...
Keganjilan Dibalik Kematian Meta
Oleh: Kristina Dian Safitry
HONG KONG – Jenazah Meta Puji Lestari, BMI asal Trenggalek yang meninggal di tempat kerjanya, akhirnya dipulangkan ke tanah air, Sabtu (6/1) sekitar pukul 9, atau 10 hari setelah ia ditemukan majikannya telah tiada. Jenazah gadis 23 tahun itu diterbangkan dengan pesawat Cathay Pasific, setelah sebelumnya dishalatkan di Masjid Happy Valley.
Seperti diwartakan, BMI kelahiran 1983 itu diketahui telah meninggal saat dibangunkan majikannya pada Rabu pagi. Namun, menurut Alex, ada yang ”aneh” dari kematian BMI yang baru tiga bulan bekerja ini. Pasalnya, berdasarkan keterangan sang majikan, selama tiga bulan itu Meta tidak pernah mandi. Sehingga, ketika ditemukan tewas, bau badannya menyengat. Kulitnya bersisik, seperti menderita penyakit kulit. Karena dianggap ”tidak sehat”, sehari sebelum meninggal, majikan menyuruh Meta untuk tidur di sofa. Katanya, langkah itu ditempuh agar bayi yang diasuh Meta tak terganggu kenyamanannya oleh bau tak sedap dari tubuh Meta. ”Alasan itu nggak rasional. Masa sih tidak mandi sampai tiga bulan. Apalagi, dia (Meta) tugasnya menjaga bayi,” kata Alex.
Keganjilan serupa ditangkap pihak KJRI. Begitu staf KJRI melihat jenazah Meta, langsung muncul kecurigaan, ada yang tidak wajar dari kematiannya. KJRI tak tinggal diam. Meski pihak kepolisian sudah bertindak melakukan investigasi, KJRI tetap mengutus lawyer untuk juga melakukan penyelidikan. ”Anak itu tidak pernah komplain atau mengeluh ke agen dan KJRI, sehingga kami agak kesulitan mengetahui apa penyebab kematian yang sebenarnya,” ujar Sri Setyowati, Konsul Ketenagakerjaan KJRI Hong Kong. Apesnya, hasil otopsi terhadap jenazah Meta baru bisa diketahui tiga bulan mendatang.
Kepada Apakabar, Direktur Bestlink Employment Agency, Alex Aditya, mengatakan, biaya pemulangan jenazah menghabiskan sekitar HKD 32.500. ”Untuk sementara, kami yang menanggung. Tetapi minggu depan akan kami selesaikan dengan majikan,” ujar Alex, pihak yang memberangkatkan (PJTKI) sekaligus agen Hong Kong yang mempekerjakan Meta.
Read More...
Anakku Sayang, Anakku Malang
”Pada dua kontrak berikutnya, setelah aku cuti hari itu, sama sekali aku tak pulang ke rumah. Tetapi, tiap tiga bulan sekali aku tetap mengirim uang buat biaya sekolah anak-anak. Keputusan nyambung kontrak kerja tak pernah kudiskusikan dengan suami. Karena itulah, hubunganku dengan suami sudah tak bisa dikatakan harmonis lagi. Tiap kali kutelepon menanyakan kabar anak-anak, suami terkesan enggan berbicara. Aku menyadari, aku bersalah. Tetapi kata maafku cuma dianggap angin lalu.”
Sekejam-kejamnya harimau, tak mungkin memakan anaknya sendiri. Sekejam-kejamnya suami, tak mungkin ia tega menelantarkan darah daging sendiri. Begitulah dulu aku berpikir. Nyatanya? Pikiranku keliru. Anak gadisku dijual setelah dinodai.
Tahun 1995, aku menikah dengan seorang duda cerai dengan tiga anak. Panggil saja dia Nurdin (bukan nama sebenarnya). Pernikahanku bisa terjadi karena dijodohkan orangtua, yang menginginkan aku lekas menikah. Maklum, usiaku sudah 28 tahun, sepulang aku dari bekerja di Singapura selama tujuh tahun.
Kesan pertama, mungkin sama persis kesan orangtuaku pada duda itu. Pendiam, taat pada agama, rela membanting tulang siang malam untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama anak-anaknya. Di atas rasa iba, aku rela dinikahi, meski tanpa ada pesta.
Setelah kami menikah, aku tinggal bersama di pondoknya yang masih berdinding bambu. Meski rumahku sendiri – ditempati keluarga – tergolong mewah untuk ukuran dusun, aku tak keberatan menuruti ajakan suami. Katanya, anak-anak tiriku keberatan tinggal di rumahku yang termasuk big family.
Dua tahun menikah, kami dikaruniai seorang anak perempuan yang kami beri nama Putri. Suamiku gembira, karena tiga anaknya dari istri pertama berjenis kelamin laki-laki. Bisa membahagiakan orang lain, suatu kebahagiaan tersendiri buatku.
Usia Putri genap dua tahun ketika kutinggalkan balik bekerja ke majikan terdahulu. Ketiga kakak tirinya sangat sayang kepadanya. Suamiku juga pandai merawat anak. Jadi, aku tak terlalu khawatir meninggalkan Putri. Sejak aku kembali ke Singapura, suami hanya di rumah merawat anak seperti permintaanku.
Lambat laun, kehidupan kami jauh lebih baik. Membangun rumah dan membeli beberapa ekor kambing piaraan. Sebagian untuk dikembangbiakkan, dan sebagian lagi dijual jika kekurangan uang. Mas Nurdin pandai mengatur keuangan.
Usai menyelesaikan kontrak kerja, aku kembali ke tengah-tengah keluarga dalam rangka cuti. Majikan setuju aku cuti, setiap kali usai tanda tangan nyambung kontrak.
Putri tumbuh menjadi anak yang manis, lucu dan menggemaskan. Tak bisa kumungkiri, aku sangat mengasihi anak kandungku ini. Tetapi itu bukan berarti aku tak sayang pada anak-anak tiri. Namun, entah kenapa, kulihat anak-anak tiriku mulai berubah sikap terhadapku.
Mereka yang dulu penurut, kini rada acuh bahkan menjauh dariku. Aku dianggapnya pilih kasih. Si sulung yang saat itu sudah duduk di bangku SMP, memilih tinggal bersama tantenya. Anak tiri kedua ikut neneknya. Sedangkan anak ketiga, yang masih SD kelas 4, selalu ogah berada di rumah.
Begitulah suasana keluarga pada saat aku cuti dua minggu. Sikap anak-anak yang begitu, membuat aku dan suami berselisih paham. Aku dinilai tak rata membagi kasih sayang. Sebab, sebelum aku cuti, anak-anak tiri betah di rumah. Jangankan tidur dan tinggal bersama keluarga, bermain dengan teman-temannya saja tak pernah lama. Sebelum itu, anak-anak katanya rajin di rumah membantu ayahnya merawat si kecil, rumah, dan binatang piaraan.
Berulang-kali aku membujuk anak-anak tiri agar mau kembali tinggal bersama ayahnya. Tapi mereka menolak. Aku kehabisan kata dan membiarkan menuruti apa pun keputusan mereka. Aku kembali ke Singapura dengan perasaan hati yang tiada menentu. Kekhawatiranku mulai tumbuh, memikirkan nasib keluarga.
Pada dua kontrak berikutnya, setelah aku cuti hari itu, sama sekali aku tak pulang ke rumah. Tetapi, tiap tiga bulan sekali aku tetap mengirim uang buat biaya sekolah anak-anak. Keputusan nyambung kontrak kerja tak pernah kudiskusikan dengan suami. Karena itulah, hubunganku dengan suami sudah tak bisa dikatakan harmonis lagi. Tiap kali kutelepon menanyakan kabar anak-anak, suami terkesan enggan berbicara. Aku menyadari, aku bersalah. Tetapi kata maafku cuma dianggap angin lalu.
Daripada urusan rumah tangga jadi berlarut-larut, aku menyudahi kontrak kerjaku di rumah majikan. Kupikir, sudah cukup hasil kerja enam tahun di rumah majikan. Apalagi, suamiku sangat pandai mengatur keuangan. Tentu saja aku tak pernah mempertanyakan uang kirimanku.
Sesampai di kampung halaman, keadaan rumahku memang jauh lebih baik jika dibandingkan sebelum aku pergi merantau. Kami membuka warung bensin kecil-kecilan di pinggir jalan depan rumah. Hasilnya memang tak seberapa, tapi itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hari-hari. Tentu karena ditambah dengan hasil hewan piaraan.
Sayangnya, anak-anak tiriku semakin jauh dan tak pernah pulang ke rumah. Paling-paling kami yang pergi menemui mereka di rumah saudara untuk memberi biaya sekolah. Tanpa terasa, tiga tahun sudah aku menjalani kehidupan di tanah sendiri. Tetapi hasilnya praktis nihil, tanpa ada pemasukan yang berarti.
Setelah Putri lulus SD, aku nekat berangkat lagi ke luar negeri. Kali ini tujuanku Taiwan. Rumah tanggaku aman-aman saja pada bulan-bulan pertama aku memulai bekerja di rumah majikan di Taiwan. Tetapi mendekati setahun aku bekerja, Putri mengirim surat, memintaku pulang ke rumah saja. Saat itu, anakku tak pernah cerita kalau dia sedang menghadapi masalah. Kepada Putri, aku hanya bisa berjanji setelah kontrak kerja usai akan pulang dan tak kembali lagi bermigrasi.
Surat-surat yang dikirim Putri pada hari-hari berikutnya, semakin membuat hatiku lara. Putri selalu bilang, bapaknya tidak sayang lagi. Tapi ia tetap tak mau cerita, ada apa gerangan. Saat itu aku berpikir, mungkin suamiku mengekang anak atau tak mau memberikan uang jajan. Jadi, aku berusaha untuk tidak memikirkan terlalu dalam. Paling aku hanya menyisipkan surat rahasia untuk suami di antara surat buat anakku tersayang.
Mendekati dua tahun di Taiwan, aku mendapat surat dari keluarga kandungku. Pesannya: apa pun yang terjadi, pulanglah! Seketika aku panik seusai membaca surat dari orangtuaku. Mau tak mau, aku memang harus pulang. Sesampai di rumah? Ya Tuhan, aku berharap ini hanya sekadar mimpi. Bukan kisah nyata.
Putri anakku dan keluargaku menjemput di bandara, memelukku dengan tangis. Tangisan anakku terasa menyayat jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, saat aku mau pergi atau pulang merantau. Tetapi aku menganggap wajar, bukti ia sayang dan kangen pada ibundanya.
Aku ikut larut dalam kepedihan saat orangtuaku bilang, suamiku tak bisa ikut menjemput. Katanya, ada kerjaan yang tak bisa ditinggal. Aku berusaha memaklumi. Tetapi, dalam perjalanan pulang ke kampung halaman, orangtua dan anakku meminta untuk langsung pulang ke rumah orangtuaku. ”Istirahat sehari dua hari, barulah nanti pulang ke rumahmu sendiri.”
Pikiranku sebenarnya sudah tak karuan. Aku yakin, pasti ada sesuatu. Anehnya, mereka tak mau sedikit pun ngasih gambaran. Sampai di rumah orangtua, aku masih bertanya-tanya, apalagi keluargaku tetap bersikeras untuk tidak pulang ke rumah. Padahal, aku sangat ingin bertemu suamiku.
Esoknya, keluargaku menyodorkan sepucuk surat yang membikin aku kehilangan tenaga. Hampir tak sadarkan diri. Surat itu datang dari Lurah, Polres, Lembaga Pemasyarakatan (LP) serta dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH). ”Kalau mau ketemu suamimu, datanglah besok ke LP,” begitu pesan ibuku.
Dari ucapan ibu, barulah aku tahu pokok permasalahannya. Putri, anakku, dijual ke tempat prostitusi di daerahku setelah diperkosa bapaknya sendiri. Anakku kabur dari tempat prostitusi itu dan ditemukan sopir yang kemudian melaporkannya ke kantor polisi.
Tangisku kian menjadi, merasa diri ini teramat-sangat berdosa kepada suami dan anakku. Karena egoku, sekarang aku kehilangan suami dan membuat anakku mengalami trauma berkepanjangan. Aku hanya berpikir, bisakah aku kelak menerima keberadaan suami di antara aku dan anakku?
(Dituturkan ”T” kepada Kristina Dian S dari Apakabar)
Read More...
MAU MENUNTUT MAJIKAN, MALAH MASUK PENJARA
Oleh: Kristina Dian SLANTAU-Karena tidak terima diterminit majikan secara mendadak(14/6)sekaligus tak ingin di ganjar bad realese letter, Masitoh,- BMI asal Cilacap- berencana menuntut majikan atas hak yang belum dibayarkan. namun siapa sangka, mimpi BMI korban underpaymen ini malah mengantarnya masuk penjara Lantau Island, Hong Kong.
Menurut penuturan anak buah PT Akbar Intan Prima ini, pemutusan hubungan kerja itu, dipicu oleh amarah majikan yang tidak terima anaknya ditegur pembantunya (lihat: rubrik shalter, Tabloid Apakabar edisi 8).
Nah, ketika membayarkan hak yang harus diterima Masitoh, sang majikan melakukan pemotongan sebesar HK$ 3600. Konon, itu untuk membayar ganti rugi atas hilangnya uang majikan. Saat itu Masitoh tak keberatan.
Setelah keluar dari rumah majikan, ia kemudian mencari bantuan kesalah satu Asosiasi yang ditangani Mr,Wong. Masitoh berharap, asosiasi dapat membantunya menuntut majikan atas hak yang belum diterimanya selama bekerja. Asal tahu, selama melewati dua kali kontrak bekerja di rumah majikan di Flat H 13/F cheong Wai Mansion, 39 E, Kwong Fai Ciu Cuit, Masitoh digaji underpay(di bawah gaji standart yang ditetapkan pemerintah HK). Sedangkan pada kontrak kerja ke tiga- yang belom genap setahun dijalani- ia tak peroleh full holiday.
Segala persiapan menuntut majikan sudah beres. Termasuk melapor ke kepolisian atas PHK sepihak itu. Tetapi belum lagi laporan sampai ke meja Imigrasi, “anak” dari Hoi Shing Agancy ini malah dicokok polisi dari tempat tinggalnya. Kejadiannya hanya selang tiga setelah keluar dari rumah majikan. Apa pasal?“Masitoh terbukti mencuri perhiasan milik majikan berupa 6 kalung, 2 gelang tangan, 2 cincin dan 2 anting yang senilai HK$ 37.000”demikian penjelasan yang diperoleh Apakabar dari fihak kepolisian CID Mr. Ng team 6 Kwai Chung Police Station Investigation.
Kata Pak Polisi, laporan majikan atas hilangnya barang sebenarnya sudah disampaikan jauh hari sebelum Masitoh di-terminite. Ini karena majikan harus mengumpulkan bukti-bukti terdahulu. Antara lain dari pegadaian, tempat barang tersebut diduga digadaikan Masitoh secara berkala. Majikan juga berniat baik ingin tahu sampai sejauh mana kejujuran Masitoh selama bekerja dirumahnya. Mungkin karena berani mengambil uang majikan, putusan terminate disampaikan, meski disodorkan dengan alasan “sepele”.
Selama menjadi tahanan kepolisian, khabar tentang Masitoh seolah lenyap begitu saja. Kawan kawan terdekatnya pun tak tahu dimana gerangan Masitoh berada. Untungnya, pada hari Masitoh di cokok, Mr Wong menerima bahwa dalam waktu 48 jam, Masitoh akan masuk penjara.
Akhirnya pada 6/juli lalu informasi terkait keberadaan Masitoh pun muncul. Namun ia telah resmi tercatat sebagai narapidana di Corectional Institution, 333, Chi Ma Wan Road, Lantau Island dgn nomor 331326. Karena Masitoh telah mengakui atas perbuatan dan tak berbelat dalam persidangan pada 26 juni lalu ia peroleh keringanan hukuman dengan “hanya” diganjar penjara selama empat bulan.Sesingkat itu?
Menurut Komisaris Kepolisian HK ini, penjara sudah penuh dan pemerintah Hong Kong memiliki undang undang tentang keadilan. Keadilan itu juga berlaku bagi pendatang atau pekerja asing termasuk Buruh Migran Indonesia. Intinya, siapapun anda, berhak memperoleh keadilan dan pelayanan yang sama dengan penduduk lokal alias penduduk asli.
Read More...
LESBIAN MEMANFAATKAN AKU
”Padahal selama jalan bareng, akulah yang sering keluar uang. Tabunganku ludes untuk menuruti segala keegoannya, yang tak ingin dianggap TB kampungan. Penampilan, alat komunikasi juga nggak mau kalah dengan yang lain. Pokoknya dia ingin selalu mengikuti tren TB(Tomboi). Biar dianggap TB gaul.
Yup, tiga tahun sudah aku bekerja di Hong Kong. Meninggalkan sanak saudara di Cilacap, Jawa Tengah, kampung halamanku. Meski sudah tiga tahun, namun selama itu tidak membuahkan hasil apa pun dari hasil keringatku membanting tulang di rumah majikan, di North Point. Itu semua berawal dari perkenalanku dengan R. bukan hanya penghasilan yang hancur berantakan, tetapi hati dan hidupku ikut jadi ndak karuan. Pertama kali mengenalnya, aku memang tak pernah menyadari adanya bahaya yang mengancam. Setelah semua berkeping, baru aku menyadari ”kekeliruan” itu.
R, seorang teman perempuan yang kukenal di sini. Ia memiliki wajah dan sikap yang mirip sekali dengan laki-laki. Di mataku, ia begitu tampan, apalagi di depanku ia selalu menunjukkan sikap baik. Penyayang, pengertian, ramah, pokoknya aku tak pernah berpikir jika di kemudian hari ia bakal menyakiti diriku. Sama sekali aku tak tahu kalau ada sesuatu yang diharapkan dariku.
Dulu aku memang terlalu lugu. Pergaulanku pun terbilang minim. Itu yang membuat aku terjatuh dalam rasa suka terhadap sesama jenis. Aku belum merasakan jatuh cinta dengan lawan jenis. Barangkali itu salah satu alasan, kenapa aku bisa tergila-gila dengan R. Ia adalah segalanya bagiku saat itu. Yang ada dalam hati dan hidupku hanya ada dia, dia, dan dia. Tidak ada yang lain yang kupikirkan selain dia. Ugh, betapa aku sangat menyayangi R.
Empat bulan ”deketan” dengan R, ia mulai menyuruhku meminjam utang di bank perkreditan. Ia beralasan, ibunya sakit jantung dan butuh uang untuk berobat dan masuk RS. Meskipun kalimatnya begitu halus lembut, tetapi saat itu aku sempat kaget luar biasa. Logikanya, R kan juga kerja di rumah majikan yang otomatis bergaji. Jelas, aku keberatan terhadap permintaan itu. Tetapi karena setiap hari aku didesak, dengan gayanya yang menunjukkan kayak orang kepepet, aku jadi iba. Terpaksa kuiyakan, meski berat terasa.
Bersama R aku pergiu ke kantor bank untuk mengambil uang pinjaman pertama. Sesampai di sana, R kembali mendesakku agar meminjam uang sebesar HK$ 17.000. Kepadaku dia berjanji akan membayar cicilan setiap bulan. Sekali lagi, aku terpaksa mempercayai janji dan ucapannya.
Waktu pembayaran tiba, bulan pertama dia bilang tak punya uang karena belum gajian. Belum berikutnya juga sama. Dua-tiga bulan aku masih berusaha diam, membayar angsuran. Kalau tidak kubayar aku takut aku sendiri yang bakal menghadapi masalah. Sebab, seluruh biodata peminjaman menggunakan dokumenku. Bulan keempat, komunikasi denganku mulai berkurang. Tiap kali kutelepon dia malah ”nyemprot” balik, meskipun tujuan menelepon belum tersampaikan. Setiap kali kukirim SMS pun, R tak mau membalasnya.
Seharusnya R mengerti, dari mana aku mendapat uang kalau setiap bulan habis dipakai untuk bayar angsuran. Bukankah aku juga butuh uang untuk hidup di Hong Kong, juga untuk keluargaku di tanah air? Tetapi R tak kunjung mengerti. Sekalipun begitu, aku masih berusaha memahami. Masalahnya, dengan apa lagi aku meminta R memahami, kalau dikontak saja tak mau membalas?Di saat aku dilanda kebingungan, aku beroleh kabar dari T (sahabat akrabnya), kalau R punya Lou Bo lagi. Tetapi aku tidak serta merta percaya pada kabar burung itu, sebelum aku melihat atau menyaksikannya sendiri. Bukan sesuatu yang tidak mungkin, kabar itu diembuskan orang-orang yang ingin merusak hubungan kami. Atau, bisa jadi, isu-isu seperti itu sengaja dilontarkan oleh teman-teman yang iri pada kebahagiaan kami. Karena, memang seperti itulah yang sering terjadi di sekelilingku.
Pada suatu kesempatan, aku menanyakannya baik-baik pada R. Tetapi dia bilang kalau feminis bernama Imel yang ngejar-ngejar dia. Sementara ia sendiri tak pernah ada hati untuk Imel. Masih dengan gayanya yang sok romantis, R berjanji tak akan pernah selingkuh. ”Hanya kamu milikku selamanya,” begitu dia bilang. Bunga cinta yang pernah ada kembali bermekaran setelah sempat layu karena masalah pembayaran angsuran.
Mumpung ketemu, dalam kesempatan itu kembali kusampaikan: aku butuh uang. Itu memang benar, kemarin orangtuaku minta kiriman. Namun, seperti yang sudah-sudah, dia bilang belum ada uang. Heran, ke mana larinya uang dia? Padahal, selama jalan bareng, akulah yang sering keluar uang. Tabunganku ludes untuk menuruti segala keegoannya, yang tidak ingin dianggap TB kampungan. Penampilan, alat komunikasi juga tak mau kalah dengan yang lain. Pokoknya, dia ingin selalu mengikuti tren TB. Biar dianggap TB gaul.
Aku. Ya, aku. Seolah aku tak pernah ada dalam pikirannya. Meminta sesuatu dariku sekaligus bayar utang itu tanpa sedikit pun mau memikirkan aku. Kalau dia memikirkan aku, kenapa ketika aku mengeluh soal keuangan, dia bilang tak ada uang dan dijanjikan akan dipinjamkan pada temannya? Apakah ini yang disebut sayang? Apakah ini yang dinamakan cinta? O dunia, katakanlah padaku…!
Lama aku merenung. Lama aku memutar ulang awal kenal, awal aku terjun ke dunia LB. Apa dan kenapa aku memilih jalan yang belum tentu direstui ayah bunda? Hanya satu, aku butuh kasih sayang dan kebahagiaan. Tetapi apa yang telah kudapatkan? Kebahagiaankah? Kasih sayangkah? Ataukah cinta sejati yang selama ini kuagung-agungkan? Tidak ada! Sama sekali tidak ada untungnya. Kalaupun ada, hanya sesaat waktu, kedamaian semu semata. Bukan kebahagiaan hakiki.
Penyesalan selalu hadir belakangan. Aku yang terdampar dalam penderitaan dan penyesalan, bertekad meninggalkan dunia itu. Dunia yang hanya membuatku sengsara. Meski berat terasa, izinkan aku mencobanya. Sekiranya masih ada kepedulian dari teman-teman untuk membantuku bangkit melawan penderitaan ini.(Dituturkan ”U” kepada Kristina Dian S dari Apakabar)
Read More...
25 Bulan Kerja, 3 Kali Diserang Anjing
Malang nian nasib Heni Rahmawati, 30 tahun, BMI asal Jawa Timur. Selama 25 bulan bekerja di rumah majikan, ia menjadi bulan-bulanan hewan piaraan. Terakhir, ia harus berbaring di Nethersole Hospital, AED selama 10 hari. Saat bertemu Apakabar di base camp ATKI, Heni mengatakan, dirinya trauma balik ke rumah majikan untuk menyelesaikan kontrak keduanya.
Saat pertama kali memulai bekerja di 6/F Taiwo Village, Tai Po, NT, rumah berukuran 1.700 square, perasaan Heni sebenarnya sudah was-was. Pasalnya, selain dihuni enam orang anggota keluarga, rumah majikan juga dihuni empat ekor anjing plus tiga ekor kucing. Adalah tugas Heni untuk merawat seluruh hewan piaraan itu.
Meski sedari dulu takut anjing, apalagi Heni seorang muslimah, namun atas nama tugas dirinya tak bisa menolak. Heni hanya bisa berdoa, mudah-mudahan binatang-binatang piaraan itu tidak ”nakal”, syukur-syukur kalau mau nurut.
Meski anjing-anjing itu sudah diperlakukan baik sesuai dengan ”kodrat”-nya, tetapi si guk-guk ini tetap saja binatang yang tidak punya perasaan kasih. ”Selama di rumah majikan, tiga kali saya digigit anjing sampai parah,” tutur Heni. Sayangnya, sang majikan tak menganggap hal itu sebagai masalah serius. Pada gigitan pertama, majikan bahkan keberatan memberikan izin kepada Heni untuk pergi berobat. ”Meski akhirnya majikan ngasih saya izin, tetapi harus diawali dengan perdebatan,” imbuhnya.
Heni menuturkan, kejadian pertama berlangsung pada 2 Juli 2006, saat ia sedang memindahkan sisa makanan anjing besar ke tempat makanan yang lebih kecil. Tanpa gonggongan, tiba-tiba saja anjing besar menggigit tangannya. ”Saat itu majikan bilang, kejadian begitu adalah hal biasa.”
Menyusul kemudian, gigitan kedua si anjing yang terjadi pada 2 September 2006. ”Waktu itu saya sedang membersihkan kamar majikan, mendadak salah satu anjing langsung menerjang saya,” tutur Heni dengan wajah muram. Kali itu, seperti kejadian pertama, sebelum diizinkan pergi berobat, Heni harus berdebat terlebih dahulu, meski sang majikan tahu pekerjanya mengalami luka lengan.
Terakhir, kejadian yang memaksanya opname selama 10 hari di rumah sakit. ”Sungguh, saya nggak bisa melupakan kejadian itu, mbak,” kata anak buah agen Hung Ngan Co, Yau Ma Tei, KLN, itu kepada Apakabar. Syahdan, sore itu sekitar pukul 5, Heni berencana mengambil payung dari tempat yang tak jauh dari sofa, tempat anjing-anjing yausik. Mungkin karena kaget, anjing-anjing ini bangun dan langsung menerjang tubuhnya.
Sewaktu dikibaskan, anjing besar langsung menggigit tangannya. Teriakan Heni membuat anjing sontoloyo itu semakin galak dan beringas. Akibatnya, beberapa gigitan mengoyak tangan si pekerja. ”Herannya, tuan saya itu lho kok nggak mau keluar kamar,” sesal Heni, mengomentari sikap majikan.
Menurut dia, pada saat itu tuan ada di rumah. Namun, sepertinya sudah terbiasa mendengar anjing-anjingnya ribut. Setelah anjing itu puas menggigit Heni, barulah tuan keluar kamar dan memberikan pertolongan. Tak lama, ambulans datang dan membawa Heni ke rumah sakit.
Saat terbaring dalam perawatan di rumah sakit inilah, Heni mulai bimbang. Ia bingung, apakah sekeluar dari rumah sakit ia akan bertahan melanjutkan kontrak kerjanya yang kedua, atau memilih break kontrak. Jika melanjutkan kontrak, ia telanjur trauma, was-was kalau-kalau digigit anjing lagi. Tetapi kalau mengajukan break kontrak, sang majikan telanjur ”sayang”.
”Majikan sudah meminta saya untuk tetap melanjutkan kontrak kerja. Saya sebenarnya nggak keberatan, tetapi dengan syarat tidak ada anjing di rumah itu. Cuma, di situ majikan saya keberatan untuk ’memusnahkan’ anjing-anjingnya,” kata BMI, yang barusan lepas jahitan di tangannya ini. (Kristina Dian S)
Read More...
SUAMIKU PEMBUNUH BERDARAH DINGIN
Sungguh aku tak tahu, apa yang menggerakkan hatiku untuk mencintainya. Berkali tersakiti, tapi selalu saja kumaafkan. Hingga akhirnya aku menerima kenyataan, adik ipar dan kakak kandungku meninggal dunia. Belakangan terbukti, suamiku telah membunuh orang-orang yang kucintai. Masihkah hatiku tergoda untuk memaafkannya?
Kali pertama aku mengenal Dasir (bukan nama sebenarnya), ia baru keluar dari penjara. Meski lajang itu tetangga satu kampung, tapi aku tidak begitu mengenalnya. Sejak kecil aku dirawat oleh orangtua angkat, saudara bapak, di kota yang berbeda. Itu yang membuatku kurang paham pemuda-pemuda di dusunku, lantaran aku jarang pulang kampung menengok orangtua kandung.
Parahnya, ketika aku memutuskan pacaran dengan Dasir, bahkan kemudian menikah, orangtuaku tak keberatan. Padahal, mereka tahu Dasir bekas narapidana. Alasan mereka, jangan melihat masa lalu Dasir, karena orang hidup tak bisa nyaman jika masih dibayang-bayangi oleh masa lalu. Jujur, keluargaku hanya tahu Dasir masuk penjara karena kasus pemilikan narkoba. Bukan kasus pembunuhan, yang sebenarnya sudah didesas-desuskan masyarakat.
Setelah kami menikah dengan pesta kecil-kecilan, kami hidup menumpang di rumah orangtua. Tetapi aku merasa tidak tentram secara lahir batin hidup bersama keluarga suami. Seolah-olah, suamiku masih milik orangtuanya. Hari-hari Dasir praktis hanya dihabiskan untuk membantu orangtuanya berjualan hewan potong di pasar. Pulang malam dan berangkat pagi. Hanya beberapa menit berada di sampingku dan buah hati kami yang masih bayi.
Yang lebih tak mengenakkan, suamiku bekerja tanpa beroleh gaji. Meski kebutuhan harian dicukupi oleh orang tuanya, tetapi aku sebagai ibu rumah tangga merasa tertekan lantaran tak pernah pegang uang. Jika ingin beli sesuatu untuk anak, terpaksa aku minta pada orangtuaku sendiri, yang notabene pegawai rendahan di sebuah perusahaan asing.
Saat si kecil berusia 2 tahun, aku minta kembali ke rumah orangtua kandungku. Sempat mertuaku melarang, tersinggung oleh keinginan itu. Tetapi lama kelamaan memaklumi, meski dengan syarat suamiku tak boleh ikut pindah serta. Mereka berdalih, tenaga Dasir sangat dibutuhkan karena mereka hanya memiliki sepasang anak. Anak yang perempuan sudah menikah dan ikut suaminya tinggal di rumah yang tak jauh pula dari rumah mertua.
So pasti, pisah ranjang dengan suami sungguh tidak mengenakkan. Suara-suara sumbang di luaran terasa menyesakkan. Aku tak tahan jadi bahan omongan orang. Dibilang janda, masih punya suami. Dibilang ada suami, tak sekalipun ia mau mengunjungi selama lima bulan. Akhirnya, aku minta kepastian dari suamiku. Kalau mau bercerai dan berat dengan orangtuanya, silakan ceraikan aku. Kalau sayang dan memikirkan aku dan anak, marilah hidup mandiri dan tidak menggantung hidupku kayak gini. Apakah salah pintaku itu?
Ya Tuhan! Mas Dasir minta waktu untuk berpikir, mencari jalan mencari uang demi bekal kehidupan kami secara mandiri. Sebagai istri yang prihatin sekaligus marah dengan sikap suami, aku tetap berusaha memberinya waktu membuktikan kata-katanya. Tetapi, tahukah Mas Dasir tentang perasaanku yang hancur berantakan? Sepanjang malam batinku menangis, apalagi jika memandang buah hati yang tertidur pulas. Tak adakah rasa rindunya untuk anak kami, untuk aku?
Sempat aku berpikir, suamiku tak cinta lagi padaku dan anak. Sempat aku menilai, suamiku ada wanita lain dalam hidupnya. Sempat, sempat, dan aku sempat menyodorkan surat cerai melihat Mas Dasir tak juga menentukan pilihan hidup. Tapi kuurungkan. Kuyakini suamiku bersikap dan bertindak seperti itu karena paksaan orangtuanya yang tak memahami kami.
Bulan kedelapan sejak aku kembali ke rumah orangtua, aku mendengar adik iparku meninggal dunia mendadak. Kata keluarga suamiku, meninggalnya Ning Aning karena keracunan makanan – seperti kata dokter praktek di kampung mereka. Mendengar kabar itu, batinku sungguh terpukul. Aku sudah menganggap Aning seperti adikku sendiri. Dia banyak memberiku arahan merawat bayi, anakku. Kami sering pergi ke pasar bersama, makan bersama, membawa anak ke puskesmas bersama. Kini ia telah tiada, meninggalkan dua anak yang masih balita. Saat itu aku langsung ke rumah mertua.
Airmataku tak bisa lagi kubendung. Sampai aku tak sadar diri. Kenyataan itu sungguh menyakitkan. Adik iparku meninggal tanpa sebab. Aku melihat suamiku bermuram durja. Matanya cekung, badannya seperti tak terurus. Rambutnya gondrong. Aku memeluknya dalam tangis. Kucoba memberikan kekuatan di saat ia kehilangan saudara kandung. Berkali kuhapus air mata Mas Dasir. Aku dapat merasakan, ia begitu kehilangan.
Selama masa berkabung suamiku tak banyak kata. Ia lebih suka mengurung diri di kamar. Seolah, kehadiran anak pun tak dapat menghiburnya. Malahan, anakku tak sekalipun tersentuh pipi atau tangannya, seperti ketika ia baru lahir. Hal itu terus berlanjut hingga dua minggu.
Satu bulan aku tinggal di rumah mertua dalam masa berkabung. Suamiku sudah bisa sedikit tersenyum. Lalu, aku kembali memboyong anakku kembali ke rumah orangtua kandung. Kali ini aku agak bersyukur, Mas Dasir mau mengantarkan dan tinggal beberapa hari di rumah.
Kebahagiaanku tak ternilai harganya. Setidaknya aku bisa ”mengatakan” pada masyarakat, aku masih punya suami. Tentu saja, kedatangan suamiku juga disambut ceria oleh keluargaku. Ya, sejatinya keluargaku sangat menyayangi Mas Dasir. Tapi entahlah, suamiku seolah tak mau tahu dengan perhatian itu. Ia tetap masih balik ke orangtuanya.
Ketidakpastian dari sisi ekonomi, akhirnya menuntut langkah kakiku – yang terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara – pergi merantau ke Hong Kong. Saat itu, jujur, aku tak pamit pada suamiku. Kupikir percuma saja aku pamit, toh, ia sendiri tak pernah lagi bersedia menemuiku di rumah orangtua.
Tujuh bulan setelah masa potongan, aku baru punya kesempatan mengontak ke tanah air. Kata orangtua, sejak kepergianku, Mas Dasir justru sering datang ke rumah untuk menjenguk anak. Secara tidak langsung, kerinduanku terhadap suami kembali bergelora. Kutelepon Mas Dasir di rumahnya pada tengah malam, setelah aku menyelesaikan pekerjaan di rumah majikan.
Suara yang kusut, kalut, bingung kali pertama kukontak. Mas Dasir tak percaya aku mau menghubunginya. Ia berpikir, aku pergi dari hidupnya untuk selamanya. Ia menduga, aku mencari laki-laki lain yang bisa membahagiakan hidupku. Duh, batinku serasa meronta. Betapa aku ingin mengatakan bahwa aku masih mencintainya. Dan, aku tak akan mungkin meninggalkan suamiku untuk selamanya. Kukatakan, kepergian ini karena terpaksa. Sebab, hidup butuh makan, anak butuh biaya sekolah. Seorang istri juga bukan hanya jadi hiasan rumah yang dibiarkan, diabaikan tanpa kepastian.
Sungguh suatu anugerah, suamiku memintaku pulang. Ia bilang, orangtuanya sudah menghibahkan hak waris kepadanya. Ia juga dikasih modal untuk buka mini market di daerahnya. ”Aku kehilangan kendali saat tak bersamamu,” begitu kata terakhir yang ia sampaikan di ujung komunikasi kami. Sebelumnya, aku juga sudah berjanji padanya untuk pulang setelah menyelesaikan kontrak kerja. Aku hanya minta padanya untuk sering-sering nengokin anak yang diasuh budenya. Ia setuju.
Enam bulan mendekati finish contract di rumah majikan di daerah Prince Edward, ketenanganku kembali terkoyak. Aku mendapat kabar dari keluarga, kakak perempuanku meninggal dunia terjatuh dari kamar mandi. Duh Gusti, cobaan apalagi yang hendak kau timpakan padaku? Belum habis rasa kehilanganku atas meninggalnya adik ipar, sekarang kakak kandungku pergi untuk selamanya. Ke mana lagi kaki ini akan melangkah menggapai ketenangan hidup?
Hasratku tak bisa kubendung. Saat itu juga aku minta pulang ke tanah air dan tak hendak kembali lagi. Tetapi agen dan majikan mencoba menenangkan dan menghiburku. Mereka benar. Pulang ke tanah air pun, aku tak mungkin bisa menatap wajah kakak tercintaku untuk terakhir kali. Sebab, saat aku menerima kabar kematian kakak, sesungguhnya sudah hari ketiga. Kuurungkan niat pulang sebelum finish contract.
Belum genap sebulan kematian kakak, lagi-lagi aku terhantam cobaan yang sangat dahsyat. Tak ada arah lagi aku berpikir. Logikaku mati! Aku sendiri tak tahu, apakah aku ini masih perempuan yang waras. Perasaanku sudah mati untuk memikirkan anak, suami, dan keluarga. Bahkan, memikirkan masa depan pun sudah tak ada. Aku ingin mati, tapi takut dosa. Bertahan hidup, aku sudah tak punya keinginan. Aku pasrah.
Hari itu aku menerima kabar, Mas Dasir suamiku ditangkap polisi. Ia dimintai keterangan polisi atas meninggalnya kakak, karena sewaktu kejadian suamiku barusan menjenguk anak. Belakangan, suamiku dijadikan tersangka. Dari hasil penyelidikan, terbukti kuat suamiku yang melakukan pembunuhan. Yang lebih mengerikan, suamiku juga mengakui telah membunuh adik kandungnya demi mendapatkan hak waris.
Pembaca yang budiman, jika keadaan sudah seperti ini, masihkah pintu maaf kubuka untuk suamiku? Pikiranku kacau. Satu-satunya yang kini kulakukan hanya menghabiskan kontrak terdahulu, lalu menyambung kontrak di rumah majikan ini demi masa depanku dan anak semata wayangku.(Dituturkan ”Ir” kepada Kristina Dian S dari Apakabar)
Read More...
MENUNTUT DOKUMEN BMI AJAK POLISI
Sudah bukan rahasia lagi, ada banyak alasan yang dikemukakan agen untuk melakukan penahanan terhadap dokumen anak buah mereka, begitu new domestic helper tiba Hong Kong. Padahal, menurut ketentuan hukum yang berlaku, tindakan menahan dokumen yang dilakukan agen atau majikan merupakan perbuatan pidana. Selama ini, tindakan penahanan dokumen umumnya dikaitkan dengan alasan keamanan BMI. Utamanya untuk pengurusan beberapa keperluan, seperti bikin KTP, kesehatan, dll. Namun, dalam praktek, tidak sedikit majikan yang melakukan penahan dokumen pembantunya hingga berakhirnya masa kontrak si BMI. Bahkan, ada yang menjelang kontrak di rumah majikan finish, pengambilan dokumen masih dipersulit agen.
Hal terakhir dialami oleh tiga BMI, yang masing-masing berangkat melalui PT TSW Sawojajar, Malang. Saking sulitnya mengambil dokumen yang notabene merupakan haknya, mereka sampai terpaksa ”menggandeng” dua petugas polisi untuk mendatangi agen Chenchen Company di Flat B, 5th Floor, Fortune Crest, 138 Sai Yeung Choi Street, Mong Kok.
Peristiwa BMI nggandeng polisi itu terjadi pada Minggu (13/4), sekira pukul 10.30 pagi. Celakanya, salah seorang dari mereka langsung diusir oleh si pemilik agen. Pengusiran dilakukan dengan alasan: BMI berkulit hitam manis ini sudah bukan anak buahnya lagi. Kepada Apakabar, si BMI ini memang mengaku sudah pindah agen.
Berbeda dengan dua BMI yang lain, Avega (21 tahun) dan NT (26 tahun), yang memang masih tercatat sebagai anak buah agen itu. Mungkin karena didampingi polisi, keduanya terlihat ”panas” saat agen laki-laki ini – dengan berbagai dalih – keberatan memberikan dokumen. Alasan utamanya, akan dipakai untuk membeli tiket. Padahal, kedua BMI yang berangkat dan finish pada hari yang bersamaan ini, pada 21 April itu bisa dinyatakan finish kontrak bekerja di rumah majikan.
Sudah umum diketahui, banyak persiapan yang dilakukan BMI sebelum keluar dari majikan. Di antaranya, mencoba peruntungan dengan mencari majikan baru. Sesuai peraturan di Hong Kong, BMI masih memiliki waktu dua minggu sejak keluar dari rumah majikan. Tentu, waktu yang sesempit itu tidaklah memungkinkan bagi BMI untuk mendapatkan majikan baru. Sementara, jika BMI yang masih ingin bekerja di Hong Kong – seperti kedua BMI tadi – harus pulang ke tanah air, jelas berisiko membayar lagi potongan agen dari awal.
Perdebatan dan saling bantah antara agen dengan anak buah itu semakin seru. Bisa dibayangkan, ”pertengkaran” yang dimulai pukul 10.30 baru berakhir sekira pukul 12.30. Itu pun setelah polisi – yang semula hanya memberikan waktu buat kedua pihak berdebat – turun tangan melerai.
Lantas, apa pasal agen sampai sengotot itu mempertahankan dokumen yang bukan miliknya? ”Sungguh, bukannya saya tidak mau memberikan dokumen mereka (NT dan Avega). Saya memang berencana membelikan tiket di Tailok, karena di sana harganya murah. Ngo em meng, kenapa tiba-tiba datang ke kantor sambil membawa-bawa polisi,” sungut Mr. Lai King, si pemilik agency, saat dihubungi Apakabar pada hari kejadian. Nah lu? (Kristina Dian S)
Read More...
KARENA DIA AKU HIDUP MENJANDA
"Berbagai peristiwa itulah yang seolah-olah memaksaku untuk memutuskan tali perkawinan. Meski, aku sendiri sejatinya ingin terus mempertahankan ikatan itu. Tetapi, setelah kupikir-pikir, apalah gunanya kalau sikap suami terus-terusan begitu? Bukankah hanya akan memicu derita berkepanjangan? Dan...Bukankah menjanda bukan akhir dari segalanya?"
Hidup bersama tak cukup hanya bermodalkan cinta. Karena hidup dengan cinta saja tidak bisa membuat perut kenyang, terlebih aku sudah punya dua anak. Celaka, suamiku malah berulah. Kutinggal mencari duit ke Malaysia, dia berpaling dan menikahi perempuan lain. Padahal, aku dan dia belum resmi bercerai. Pemuda tetangga desaku itu bernama Eduardo, bukan nama sebenarnya. Ia seorang pria yang sangat tampan, sampai-sampai banyak cewek yang naksir padanya. Tetapi, cinta Eduardo kepadaku sungguh luar biasa. Meski kedua orangtuanya melarang, bahkan sempat diungsikan ke Jakarta, ia tetap rajin ngapelin aku – yang hanya seorang anak petani.
Mula-mula, sebagaimana gadis desa pada umumnya, aku gembira sekaligus khawatir. Suka tetapi takut dikagumi, oleh cowok secakep Eduardo. Lama-lama aku berpikir, cinta itu tidak memandang kaya atau miskin, cantik atau jelek. Karena, setiap manusia hakikatnya berhak untuk mencintai dan dicintai. Bukankah Tuhan telah menganugerahi hal itu? Segala macam perbedaan bisa terkikis oleh adanya cinta.
Usiaku masih muda, baru 14 tahun, ketika aku bersedia dinikahi Eduardo. Dari pernikahan itu aku dikaruniai dua putri yang sangat manis dan penurut. Jujur, pernikahan yang dibangun atas dasar saling cinta sungguh amat membahagiakan.
Namun, perjalanan hidup anak manusia tak seorang pun tahu, kecuali Dia yang Esa. Begitu juga yang terjadi pada Eduardo. Kekhawatiranku di masa single dulu belakangan terbukti. Sikap Eduardo, suamiku, mendadak berubah setelah anak-anak tumbuh besar. Tanggung jawabnya terhadap keluarga mulai berkurang.
Sampai-sampai, untuk menghidupkan ”asap dapur” aku terpaksa sampai berutang kepada tetangga kiri-kanan. Padahal, ketika itu aku masih punya utang sekitar Rp 90 juta untuk membangun rumah. Untungnya, para tetangga masih percaya padaku. Entahlah, apa jadinya jika mereka tidak lagi percaya.
Suamiku sebenarnya bukan seorang pengangguran. Ia pekerja yang ulet. Cuma, begitulah nasib seorang pekerja di perusahaan kontraktor (pemborong). Tidak selamanya lancar. Sampai kemudian, aku akhirnya memutuskan menjadi TKW di Malaysia. Jalan pintas itu kuambil untuk mengentaskan problem ekonomi, di samping dipicu oleh perasaan kecewa terhadap perubahan sikap pada suamiku.
Tiga tahun bekerja di negeri jiran, aku sudah bisa melunasi utang-utangku di kampung. Itu sebabnya, selepas kontrak, aku memutuskan pulang.
Sebagai seorang perantau, tidak ada yang membuatku bahagia selain ingin segera pulang ke tanah air dan berkumpul dengan keluarga. Saat itu, anganku begitu indah, membayangkan kebahagiaan yang bakal kutemukan setiba di tanah air. Aku sudah tak sabar ingin lekas bertemu dengan anak dan suamiku tersayang. Tetapi, apa yang kudapatkan sesampai di kampung halaman?
Anganku sirna seketika. Tawaku sontak berubah menjadi air mata. Ternyata, Eduardo telah menikah lagi dengan perempuan asal Jakarta, bahkan punya satu anak laki-laki. Aku geram, karena kenyataannya kami belum bercerai. Coba, wanita mana yang tidak ingin marah, tidak sakit hati jika suami telah berpaling hati?
Tetapi segalanya telah terjadi. Membunuh suami dan perempuan itu, rasanya tidaklah mungkin. Mau tidak mau, aku yang harus berusaha membujuk hatiku untuk mengizinkan suamiku menjadi milik perempuan ayu itu. Bukan apa-apa, aku sendiri masih berat untuk bercerai.
Dorongan untuk memaafkan Eduardo semata-mata karena keberadaan kedua anakku. Tak tega rasanya membiarkan mereka hidup tanpa bapak. Mereka adalah permata hati, lentera dalam kegelapan hati. Seberat apa pun rasa sakit hati karena ulah suami, aku rela menerimanya. Di depan anak-anak aku selalu berusaha tersenyum, meski rasanya amat getir dan pahit.
Satu tahun di kampung halaman, aku memutuskan masuk PT Sinar Insani Barokah (SIB). Hanya berselang tiga bulan, tepatnya 4 Juli 1994, aku diberangkatkan ke Hong Kong dan dipekerjakan di daerah Kowloon. Di negeri Andy Lau ini aku bekerja hingga dua kali masa kontrak (4 tahun).
Aku memutuskan pindah majikan, setelah majikanku sebelumnya tak mau membayar long service (bonus). Kali berikut, aku bekerja di daerah Mong Kok, dan masih bertahan sampai saat ini.
Selama enam tahun, dari kejauhan aku menunggu perubahan sikap Eduardo. Aku ingin dia kembali seperti dulu. Nyatanya, sekian lama aku menghitung hari, ia tak kunjung berubah. Malahan, istrinya yang di Jakarta diabaikan begitu saja. Kabarnya, tak lama setelah dicuekin Eduardo, wanita itu meninggal dunia. Sementara, anak laki-lakinya telah beralih menjadi tanggung jawabku sejak aku pulang dari Malaysia. Berbagai peristiwa itulah yang seolah-olah memaksaku untuk memutuskan tali perkawinan. Meski, aku sendiri sejatinya ingin terus mempertahankan ikatan itu. Tetapi, setelah kupikir-pikir, apalah gunanya kalau sikap suami terus-terusan begitu? Bukankah hanya akan memicu derita berkepanjangan?
Melalui bantuan pengacara, aku dan Eduardo akhirnya resmi bercerai. Seiring dengan itu, semangat hidupku tumbuh kembali. Ya, aku harus menghidupi anak-anak, juga mencicil kredit mobil yang pernah kubeli untuknya.(Dituturkan ”S” kepada Kristina Dian S dari Apakabar)
Read More...
MENOLAK DIGAULI AKU DIDEPORTASI
'"Pagi sekitar pukul 07.10, samar aku mendengar bisikan dan terasa ada tangan lembut menyentuh pipiku. Mulanya kuabaikan, tetapi lama-lama kesadaranku pulih. Seketika aku berteriak saking kagetnya. Benar saja, kakek berdiri di depanku dengan wajah cengengesan. Aku pun mengumpat memarahi kakek. Tak lama, seluruh anggota keluarga datang ke kamarku. Kalau saja aku mau melayani kemauan bapak majikan, mungkin nasibku tak sampai seperti ini. Dipaksa, difitnah, sampai akhirnya kontak kerja diputus majikan. Parahnya, majikan langsung mengantarkan aku ke bandara."
Baru setahun aku bekerja di Flat 5/ F Blok A, Homantin. Aku bekerja pada sebuah keluarga dengan lima anggota. Mereka adalah sepasang suami-istri, satu orang anak, dan orangtua majikan. Mereka sangat baik dan perhatian kepadaku, yang sebelum ini pernah bekerja di Singapura. Apalagi pada musim dingin seperti sekarang, nenek suka memanjakan aku dengan membelikan baju-baju hangat di pasar. Meski baju-baju tersebut tidak baru alias bekas pakai, dan tentu saja harganya relatif murah, aku sangat berterima kasih kepada nenek.
Ups, tentu saja tidak hanya nenek. Nyonyaku juga suka membelikan aku baju atau krim tangan, supaya tanganku tidak membengkak akibat ”serangan” musim dingin. Ya, musim dingin tahun lalu, kali pertama aku bekerja di rumah itu. Mereka tampak masih cuek terhadap kehadiranku. Berbeda dengan tahun ini, perhatian mereka jauh lebih besar. Mungkin mereka mulai merasa cocok melihat aku sudah bisa beradaptasi dengan anggota keluarga.
Anak asuhku seorang remaja pria berusia 16 tahun. Ia penurut dan tidak suka mengadu pada majikan, meskipun aku sering berbuat kesalahan. Misal, keliru menyiapkan seragam sekolah maupun telat membangunkan. Begitu juga dengan nenek, yang sehari-hari lebih banyak diisi dengan duduk di atas kursi roda. Ia tak banyak omong, bicara ala kadarnya. Mungkin karena itulah, kedua majikan menilaiku baik. Suasana kekeluargaan yang sungguh menentramkan hati.
Namun seiring guliran waktu, keharmonisan keluarga majikan yang pernah kunikmati tiba-tiba lenyap ketika masa kerjaku menginjak satu tahun. Tidak tanggung-tanggung, aku dipulangkan majikan tanpa pemberitahuan. Hal ini sama sekali di luar dugaan. Bahkan, tak pernah sekalipun terlintas dalam benak, aku bakal dideportasi majikan secara mendadak. Itu semua jika mengingat kedekatanku dengan majikan selama ini.
Toh, aku tidak bisa mengelak dari keharusan pergi meninggalkan Hong Kong, Januari 2008. Jujur, tiga hari sebelum majikan menyuruhku pulang, aku memang sempat bertengkar hebat dengan kakek. Pertengkaran itu sempat dilerai oleh nenek, yang notabene mulai berkurang pendengarannya.
Meskipun melerai, nenak sejatinya tidak tahu ada persoalan apa antara aku dengan kakek – suaminya. Sepengetahuan nenek, aku telah membantah omongan kakek, yang akhirnya menyuruhku pergi dari rumah itu. Aku tidak bisa menyalahkan nenek, kalau pada akhirnya nenek mengadukan apa yang ia lihat kepada nyonya dan tuan.
Celaka... Kakek sungguh keterlaluan telah memberikan cerita palsu. Kepada anaknya, kakek bilang aku telah melawan. Tidak mau diperintah dan suka marah-marah. Harus kuakui, saat itu aku memang melawan, membantah, dan menolak perintah kakek. Lha, bagaimana mau kuturuti? Wong, kakek menyuruhku membuka baju dan meminta dilayani layaknya pasangan suami istri.
Kakek asuhku memang sudah lanjut tua, meski aku tak tahu persis berapa umurnya. Sekalipun sudah uzur, kakek tak pernah pakai tongkat. Barangkali karena setiap pagi dan sore ia rutin pergi jogging, sehingga badannya jadi kelihatan sehat.
Gelagat kalau si kakek ada ”maksud-maksud tertentu”, sebenarnya sudah kutangkap sejak jauh-jauh hari. Kalau tak salah, menginjak bulan kedua aku bekerja di rumah itu. Masih kuingat, hari itu kakek menyuruhku mencari mokan cai di lemari bajunya. Tetapi kucari-cari di lipatan baju-bajunya, handuk kecil itu tak juga ketemu. Kemudian, kakek menyuruh aku mencari di kardus baju yang ditaruh di bawah kolong tempat tidur. Nah, ketika lagi membungkuk inilah, kakek memeluk aku dari belakang. Aku spontan berteriak, meski hanya didengar oleh bising kendaraan jalan raya. Sejak itu, aku diburu rasa ketakutan.
Sikap ”genit” kakek sempat agak berkurang dari waktu ke waktu. Paling banter, sekadar memandang dengan tatapan nakal. Selain itu, setiap kali mau tidur, selalu bilang codhao sambil bilang: mou so mun di dekat telingaku. Kuabaikan saja permintaan itu, karena kedua majikanku yang tidur di lantai atas selalu berpesan untuk mengunci pintu.
Kesan di mata keluarga majikan, kakek orang yang baik. Sebab, kepadaku ia tak pernah bicara kasar, keras, apalagi membentak. Meminta tolong sesuatu ia selalu bilang: emkoi, emkoi sae, toche, toche sae. Tetapi, mana keluarganya tahu kalau sikap kakek sebenarnya untuk menutupi hidungnya yang belang.
Terus-terusan dikasih perhatian oleh kakek sungguh risih. Bagaimana tidak, ke manapun aku pergi, selalu diikuti. Aku ke dapur, ia ikutan masuk dapur dengan berbagai alasan. Entah itu mau buat kopi-lah, minum air-lah, atau alasan membantuku memasak. Ketika aku punya jatah menyapu atau mengepel, kakek juga menggunakan berbagai dalih untuk menarik simpatiku. Terkadang, ia malah yang mengambil alih tugas membersihkan rumah. Keluarga majikan senang, tetapi aku yang senep. Soalnya di antara kedekatan itu, tak jarang ia berbuat yang ”menjurus” dan cenderung tak senonoh.
Hampir satu tahun, perselisihan dengan kakek tak diketahui keluarga yang lain. Kami berdua selalu berusaha menyimpannya rapat-rapat. Sebab, aku tak ingin dipulangkan majikan gara-gara itu. Tetapi sial, pertengkaran yang tersimpan rapat itu akhirnya meledak tiga hari sebelum aku resmi di-PHK.
Malam itu, aku kecapean setelah seharian menemani nenek tamaciok di rumah temannya yang sedang berulangtahun. Ngerti sendiri tugas seorang pembantu. Diajak ke rumah temannya, kebagian membantu tuan rumah memasak dan cuci piring. Saking capeknya, sesampai di rumah aku langsung tidur, lagian juga sudah tengah malam. Tuan dan nyonya serta anaknya ada di kamar atas, yang aku sendiri tak tahu apakah mereka sudah tidur. Dari dulu, majikan memang tak mau tahu dengan urusanku di bawah. Nah, waktu itu aku lupa mengunci pintu dan menghidupkan alarm.
Pagi sekitar pukul 07.10, samar aku mendengar bisikan dan terasa ada tangan lembut menyentuh pipiku. Mulanya kuabaikan, tetapi lama-lama kesadaranku pulih. Seketika aku berteriak saking kagetnya. Benar saja, kakek berdiri di depanku dengan wajah cengengesan. Aku pun mengumpat memarahi kakek. Tak lama, seluruh anggota keluarga datang ke kamarku.
Belum sempat aku memberi penjelasan, kakek langsung bilang kalau aku marah gara-gara dibangunkan. Ya, ampun…kakek kok begitu. Kepada mereka aku cuma bilang tuemchi, karena terlambat bangun. Setelah itu aku ke kamar mandi seperti perintah majikan. Sebenarnya sih majikan tidak marah, mereka memaklumi kondisiku yang kurang tidur.
Pukul 09.30, ketika kedua majikan dan anak asuhku sudah pergi dengan aktivitasnya masing-masing, kakek ”kumat” lagi. Ke dapur, ruang tamu, kamar mandi, pokoknya ke mana aku bekerja selalu diikutinya. Hatiku sudah mulai kesel dan jengkel setengah mati. Tetapi apalah daya, melawan kakek bisa-bisa berakibat fatal. Di rumah ini dia ibarat majikan kedua. Namun, karena kakek sudah berani mendorong badanku ke ranjang – ketika aku membersihkan kamar majikan – kemarahanku tak bisa lagi dibendung.
Kudorong badan kakek sampai tersandar di meja tata rias nyonya. Saat itu…rasanya aku sudah begitu berani, tentu saja melawan kakek. Dia mukul, balik kupukul. Dia nendang kakiku, kutendang balik kakinya. Sampai kemudian, kakek mendorong tubuhku keluar dari kamar dan lantai dua itu. Sesampai di lantai bawah pun kakek bersikeras mengusirku keluar dari rumah. Pertengkaran inilah yang kemudian ditangkap nenek dan diceritakan kepada majikanku.
Malam itu, kedua majikan mempertanyakan keributan itu padaku secara langsung, di hadapan kakek dan nenek. Dengan bahasa Kanton campur Inggris, kuceritakan jujur sesuai kenyataan yang ada. Kakek berusaha membela diri, ketika kedua majikanku tampak marah-marah sama kakek. Sampai akhirnya, kakek ngambek masuk kamar dan tak jadi ikut makan bareng. Sikap kedua majikan yang tidak menelan mentah-mentah cerita kakek, wajib kusyukuri. Sesuatu yang kupikir tidak dimiliki oleh majikan lain.
Keesokan harinya, suasana kembali seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Hatiku sudah mulai lega, tidak terbelenggu oleh rasa ketakutan yang selama ini setia melingkari hari-hari. Tetapi, apa yang terjadi pada esok lusa? ”Benahi bajumu dan kita ke bandara,” perintah majikanku pada Minggu siang – liburku dua bulan dua kali. Aku masih bingung, belum paham apa maksud majikan. Mau bertanya, aku tak punya keberanian. Aku hanya menurut.
Sesampai di bandara, sesaat setelah dokumen, tiket dan pesangon serta gaji terakhir diberikan majikan, baru aku tahu: aku telah di-PHK. Karena belum ingin pulang ke tanah air, aku memutuskan meninggalkan bandara untuk kembali ke pusat kota Hong Kong, hanya selisih 30 menit dari majikan yang sengaja meninggalkan aku sendirian di bandara. Entah bagaimana caranya, aku tetap hendak merajut impian yang nyaris kandas gara-gara ulah si kakek genit itu. (Dituturkan ”M” kepada Kristina Dian S dari Apakabar)