AKU SELINGKUHAN TUAN

Segala yang ada dalam diri tuan majikan hampir mirip dengan suamiku. Dengan memandangnya, hatiku terasa damai. Berada di sampingnya membawa anganku pada memory lama. Memory-memory indah yang pernah tercipta antara aku dan suamiku yang telah meninggal dunia. Salah tingkahku tertangkap tuan. Keresahanku terbalaskan. Aku menjadi wanita simpanan tuan. Tapi apakah aku bahagia hidup dalam perselingkuhan? Batinku bergejolak.

Suamiku meninggal oleh penyakit jantung di tahun 2000 dengan meninggalkan tiga anak. Hanya itu yang menjadi harta warisan yang berikan padaku. Selain rumah berukuran 8x6 meter di dusun Kanigoro, Malang. Yang kini di tempati orang tua dan ketiga anakku. Di tahun itu juga-beberapa bulan setelah suami meninggal- aku berangkat ke Hong Kong.

Ada yang membuatku tersentak ketika dijemput kedua majikan di kantor agen. Tiga hari setelah tiba di Hong Kong. Tampang tuan mirip dengan suamiku yang keturunan tiongha. Potongan rambut, bodi dan senyumnya. Ku perkirakan usia tuan 35 tahun dan nyonya 32 tahun. Usia keduanya lebih muda dari usiaku yang mendekati kepala 4. Meski sebelumnya tak pernah keluar negeri, nasibku termasuk beruntung. Aku peroleh hakku sebagaimana mestinya. Di rumah majikan di daerah Homantin aku bertugas merawat anak berusia 6 tahun.

Mulanya aku kesulitan beradaptasi di tempat kerja. Sering salah kerja atau salah dengar. Apalagi jika tuan yang memberi perintah. Nada bicaranya hampir mirip dengan suamiku. Aku pasti gugup, tak konsen dan sudah pasti mendapat teguran. Satu tekanan tersendiri. Karena sering seperti itu majikan mengambil inisiatif komplain ke agen. Barabe, setiap hari aku di telepon agen. Biasa, mulanya menasehati ujung-ujungnya marah. Kalau sudah marah barulah melunak. Yang kata agen semua itu demi kelangsungan bekerja ditempat itu.
Meski sebenarnya aku telah berusaha semampuku mengikuti kemauan majikan dan agen, aku tetap di anggap kurang baik. Akhirnya, -lima bulan bekerja- aku berencana memutuskan kontrak kerja. Lantaran kedua majikan jarang marah secara langsung padaku. Selalu melarikan pengaduan ke agen. Aku malas dan aku sendiri kehilangan simpati dengan cara kedua majikanku itu. Menginjak bulan ke enam perencanaan memutuskan kontrak ku sampaikan ke agen. Aku tidak sanggup bertahan. Apalagi jika tuanku mulai cuek. Di sapa tak mau menjawab.Tapi apa yang menjadi alasan kedua majikan yang tak pernah ngambil pembantu itu, aku dipertahankan. Nunggu sampai aku kelar potongan tujuh bulan.

Sejak itu kedua majikan jarang komplin ke agen. Aku mulai tenang, mampu bekerja dengan baik. Sedikit demi sedikit ku bangkitkan semangatku bekerja di situ. Ku asuh anakku sama seperti mengasuh anak sendiri. Kedua majikan kuanggap seperti saudara sendiri agar kemunikasi dapat terjalin dengan baik. Ku buang rasa takut salah ketika ingin berkelakar dengan majikan. Karena hanya itulah jalan yang bisa membuatku bisa bahasa. Aku berhasil. Anak asuh mulai lengket dan majikan mulai percaya seutuhnya.

Bekerja di sini aku jadi tahu, seorang istri diperlakukan bak ratu. Tuanku pulang kerja pukul 6 petang selalu menyempatkan didapur mengajariku masak. Ketika nyonya mau mandi, tuan selalu menyiapkan baju bajunya. Malamnya menemani nyonya nonton TV dengan membelikan aneka camilan atau minum bir bersama. Begitu juga ketika akan berangkat kerja pagi hari. Sebelum berangkat bersama sama-aku tak tahu pekerjaan kedua majikan- tuan menyempatkan menyiapkan sarapan. Meski hanya selembar roti di olesi mentega. Aku dilarang melakukan pekerjaan yang dianggap menjadi bagian tuan. Tugasku mengurusi anak berangkat sekolah dan ngurusi baju-baju.

Hingga tak terasa kontrak pertama aku berhasil menyeleseikanya dengan baik. Tanpa ada komplinan sebelumnya. Atas permintaan kedua majikan aku nyambung lagi bekerja di rumah itu. Tentu dengan peraturan yang berbeda. Gajiku tetap sesuai prosedur. Hak libur juga demikian. Di tambah aku harus mengantikan tugas tuan. Menyiapkan peralatan nyonya dan sarapan mereka berdua. Di sinilah gejolak yang selama dua tahun kusimpan mulai timbul. Sebelum tuan melepaskan tanggung jawabnya, ia selalu mengajari dan memantau pekerjaanku. Ya, harum nafasnya sering kucium. Tawanya sering ku nikmati. Seperti mentari pagi cahaya hatiku sungguh indah. Di usiku yang ke-40 hatiku bergairah seperti masa muda dulu. Saat pertama kali berkenalan dan berdekatan dengan suami.

Barangkali tuan mulai menangkap apa yang ada di hatiku. Sikapnya padaku tak se ''dingin'' dulu. Perhatian, banyak bercanda dan selalu menjawab sapaku dipagi hari. Hingga suatu hari tuan menanyakan apa yang aku lakukan ketika liburan. Begitu kukatakan tak ada kesibukan selain ngumpul dengan teman-teman di victory tuan menawarkan jalan-jalan kepantai. Saat itu anak dan nyonya berlibur ke Taiwan bersama orang tuanya selama 3 minggu.

Layaknya buruh lain ketika mendapat ajakan bos, aku pura-pura berpikir dan tak dapat memberikan keputusan, sebelum minggu tiba. "Tak apa-apa minggu kamu bisa telepon saya''katanya. Masa seperti itu sudah lama ku tunggu. Berharap ada kesempatan yang lebih lama dan indah seperti pada minggu itu. Bakar-bakaran di pantai Sai Kung hanya berdua. Tak terbayang betapa malunya aku saat itu. Rasa malu yang aku sendiri tak tahu apa penyebabnya. Salah tingkah itulah yang akhirnya ditangkap tuan. Memancingnya bertanya soal keluargaku lebih banyak. Ku jawab apa adanya. Bahkan aku juga terbuka, tuan mirip suamiku. Ia tak percaya meski pada akhirnya pandangan matanya mulai nakal. Petang kami pulang kerumah.

Aroma bir sudah sering tercium kala malam tiba. Tuan memang memiliki kebiasaan nenggak minuman keras. Begitu juga nyonyaku. Merokok dan bir ibarat makanan. Tapi malam itu aroma bir dari gelas tuan terasa lain dari hari biasanya. Menginggatkan aku pada kenangan saat bersama suamiku. Ketika belum bangkrut buka usaha, suamiku juga memiliki hobi seperti tuan. Minum menjadi ''obat tidur''. Ku abaikan tuan yang masih minum sambil nonton TV pada malam itu. Aku mandi dan berencana melepas lelah dikamar yang selalu kukunci.

Di tengah aku mandi, tuan mengetuk pintu. Buru-buru aku pakai baju yang ternyata tuan keb oliu. Selanjutnya seperti rencanaku sebelumnya. Tidur. Di atas tempat tidur pikiranku gelisah. Terasa sulit mata ini terpejam. Aku ingat senyum tuan. Pandangan mata tuan. Ingin menemaninya nonton TV, tapi alangkah tak pantasnya. Ketika aku hampir tertidur, terdengar ketukan lembut di pintu. Ku buka dan kulihat tuan berdiri di depanku dengan wajah berubah warna. Merah. Aku tahu kalau sudah begitu tuan pasti teler berat. "Ada apa tuan?''tanyaku lembut seolah olah aku tak tahu apa-apa. Rupanya tuan minta di belikan 4 kaleng bir di Seven Eleven. Belum sempat beranjak mengambil kunci rumah, tuan memelukku lembut. Sesuatu yang tak seharusnya akhirnya terjadi di rumah itu. Rencana beli bir gagal total.

Kejadian malam senin itu, membuatku mati kutu setiap kali ada di hadapan tuan. Tak dapat kusembunyikan rasa itu. Dan ini sunguh suatu beban batin yang sangat berat. Terlebih ketika anak dan nyonya kembali. Aku semakin tertekan dengan keadaan diriku. Kendati aku dan tuan masih sering ketemuan pada masa aku liburan. Meski kadang masih sempat berbicara serius ketika nyonya sedang mandi dan anakku main komputer. Rasa suka yang aku miliki lebih dalam dari rasa suka yang pernah ter curah untuk suamiku. Meski tuan selalu minta kesabaran dan pengertianku. Rasanya hal itu sunguh berat bagiku. Ingin pergi dari rumah itu, aku takut tak lagi bisa bertemu. Ingin pulang tanah air, anakku masih sekolah dan butuh biaya. Ingin ganti majikan, takut calon majikanku tak sebaik yang sekarang. Jika bertahan sama artinya kumenyiksa diri.
Ku turuti saran tuan menjalani semua seperti biasanya dan seperti adanya. Tuan belum ingin kebahagiaan itu harus di patahkan sampai disitu.

Nyonya sedikitpun tak pernah mau tahu tentang diriku. Dalam arti tak banyak bicara. Yang penting pekerjaanku sudah beres dan anakku tidak komplin. Karena tak mau tahu dengan diriku inilah, nyonya tak tahu jika tuan sering datang kekamarku. Dengan alasan melihat anakasuh yang tidur sekamar denganku. Kebetulan ranjangku dan anak asuh di beri penyekat dari kayu. Hubungan badan rutin kami lakukan seminggu dua atau tiga kali. Begitulah. Tak enak menjadi selingkuhan tuan. Nikmatnya hanya sesaat. Selebihnya menjadi penderitaan.

Hatiku sering sakit dan dibakar cemburu. Jika tua bermesraan dengan nyonya di ruang tamu. Aku seperti tidak rela melihat tuan bersikap seperti itu didepan mataku. Inginya aku marah pada tuan. Tapi apa salahnya? Tuan pernah berpesan agar aku tak sakit hati jika melihatnya memanjakan nyonya didepan mataku. Hanya untuk menutupi kedok semata. Hatiku menangis.

Untuk menghentikan siksaan batin, kuakhiri masa kerjaku di kontrak kedua. Meski kedua majikan tetap mempertahankan, aku memilih meninggalkan rumah itu. Setelah mencari majikan baru, aku menunggu visa di tanah air. Kembali berkumpul dengan anak anak dan keluarga yang telah ku tinggalkan sekian lama. Adakah aku bisa melupakan tuan? Terasa sulit bagiku melupakan kenangan bersamanya. Aku baru menyadari betapa aku sangat menyayangi bekas tuanku itu. Setelah berpisah baru kusadari begitu berartinya tuan bagiku. Tetapi apa yang bisa kulakukan? Tuanku telah beristri dan memiiki anak. Mana mungkin aku dapat mengambil tuan dari tangan mereka. Aku ini hanya seorang buruh rendahan. Apa kata teman-teman tuan nantinya. Sadar tuan tak mungkin termiliki ku kubur semua kenangan bersamanya. Sedikitpun aku tak ingin mengingatnya. Hanya membuatku bersedih dan berduka.

Tapi keadaan menyatakan lain. Begitu aku kembali ke Hong Kong dan mulai bekerja di rumah majikan kedua, tanpa sengaja aku bertemu tuan. Apa hendak di kata? Tuan bilang kehilangan kendali saat kutinggalkan. Sorot mata tuan menyimpan kerinduan yang dalam. Seperti halnya hatiku. Aku bahagia sekali dalam pertemuan kedua itu. Bisa di pastikan, kisah asmara kembali terulang. Hampir setiap aku libur kami janjian bertemu. Dan tuan memintaku kembali bekerja di rumahnya. Pembantu pengantiku katanya tak semengerti diriku.
Pembaca...
Aku binggung. Aku tak dapat memutuskan. Di sisi lain aku tak ingin jauh dari tuan. Di sisi lain aku tak sanggup hidup satu atap dengan nyonya. Takut sewaktu-waktu skandal ini terbongkar. Karena aku yakin sepandai pandainya menyimpan bangkai akhirnya tercium juga. Bagaimana reaksi keluarga tuan, jika kelak perselingkuhan ini terbongkar? Saat ini aku tak bisa berkutik. Aku tak dapat lagi berbuat apa-apa. Jangankan untuk menghindari pertemuan, menghindari teleponnya saja aku tak mampu. Aku butuh dan mengharapkanya. Terlebih ketika tuan juga sering memberiku uang untuk anak anak ditanah air. Apa yang harus kulakukan?

Di tuturkan "R'' kepada Kristina Dian S dari apakabar.

17 komentar di "AKU SELINGKUHAN TUAN"

Posting Komentar