Angan-anganku Kandas di Tangan Majikan

Dari Malaysia, aku sengaja mengais dolar di Hong Kong. Tapi, peruntunganku di sini ternyata buruk. Aku dideportasi majikan tanpa alasan. Impian membenahi masa depan pun belum ada titik terang. Muryati, 26 tahun, BMI asal Magetan, menuturkan kisahnya kepada Apakabar.
Siapa pun pasti punya cita-cita untuk hidup lebih baik. Semasa kanak-kanak, kita bahkan sering berangan muluk untuk hidup melebihi capaian orang tua. Tentu, aku termasuk di dalamnya. Karenanya, setamat SMA Gorang-Garing Magetan, pikiranku langsung terfokus untuk segera mengubah nasib, sekaligus membahagiakan kedua orang tuaku.

Mungkin karena sejak lama kami hidup serba pas-pasan, aku ingin segera bekerja agar orang tuaku ”pensiun” sebagai buruh tani. Bahkan, aku pun ingin menjadi bagian dalam upaya mewujudkan impian mereka untuk pergi berhaji. Dari situ aku mulai berpikir untuk cari kerja ke luar negeri, mengikuti jejak gemilang banyak temanku yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di negeri orang.

Begitulah, dengan seabrek angan-angan muluk, aku – yang terlahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara – akhirnya berangkat ke Malaysia. Mula-mula, karena sebelumnya tak pernah pergi jauh dari rumah, kepergianku ke kampung halaman Siti Nurhalizah itu sempat membuatku dibekap oleh perasaan ngeri. Ya, adakah kehangatan kasih keluarga bisa kunikmati di rantau orang?

Bersyukur, kengerian itu tak terbukti. Di Malaysia, aku mendapat majikan yang baik, sayang, dan perhatian, kendati harus bercakap dengan bahasa Mandarin dan sedikit Melayu. Praktis, sampai kontrak kerjaku berakhir, tak ada masalah yang mengganjal. Pengalaman ”sukses” bekerja di negeri jiran inilah yang mendorongku untuk menjajal peruntungan baru di Hong Kong.

Jujur saja, selain ingin menambah pengalaman, aku juga tergiur pada gaji bulanan di Hong Kong yang lebih tinggi ketimbang gaji di Malaysia. Namun, ini yang tak kusadari, lain ladang lain belalang. Lain negara, lain pula proses mengurusnya. Itu pula yang kualami saat mendaftar ke sebuah PT di Surabaya. Untuk bisa terbang ke Hong Kong, prosesnya lama dan berbelit. Jauh berbeda jika dibandingkan saat aku memproses keberangkatan ke Malaysia. Baru setelah 10 bulan training dan menunggu, aku akhirnya diberangkatkan juga. Namun, siapa sangka, penderitaan demi penderitaan seolah sudah menungguku.

Pembaca…

Sebenarnya aku tak tahu ini kesalahan siapa. Agen, PT, ataukah aku sendiri yang terlalu mudah dibodohi? Bukan hanya gaji di bawah standar, selama ditempatkan di apartemen Rm 103 Ming Ta Hse itu, aku pun harus ”menyerahkan” gajiku selama delapan bulan. Belum lagi, hak libur yang tak bisa kuperoleh selama menyelesaikan masa kontrak. Padahal, aku ingat betul, sewaktu di agen aku menandatangani surat perjanjian sesuai dengan peraturan pemerintah Hong Kong.

Ya, aku merasa telah ditipu mentah-mentah. Sayangnya, aku baru tahu penipuan itu setelah sebulan bekerja di rumah majikan. Tepatnya, ketika tiba masa gajian. Sudah pasti, aku tidak menerima diperlakukan begitu. Saat itu juga, aku mengajukan komplain ke agen. Kupikir, musyawarah dengan agen adalah jalan terbaik sebelum aku menanyakan langsung pada majikan.

Tapi, apa yang terjadi? Aku malah dibentak dan dimarahi. Katanya, aku tak perlu bertanya soal gaji dan libur kalau bekerja saja aku tak becus. Aku masih ingin protes, tapi kuurungkan. Percuma. Paling-paling, darah tinggi agenku kambuh lagi. Cuma, pikiranku terus saja terusik. Apakah betul aku memang tak becus bekerja, sehingga tenagaku dibayar murah? Atau, itu cuma alasan yang dibuat-buat? Menyadari tak mungkin beroleh jawaban, aku memilih tak bertanya lagi tentang nasibku.

Namun, sejak itu aku jadi banyak merenung dan murung. Impian bergaji tinggi rupanya hanya tinggal impian. Faktanya, peruntunganku di Hong Kong jauh lebih buruk ketimbang teman-temanku. Karena terus-terusan kepikiran, kesehatan dan kebugaran tubuhku seketika hilang. Drop.

Pikiranku makin ngelantur. Sebab, jika dipikir-pikir, di apartemen yang dihuni oleh enam anggota keluarga dan tiga ekor anjing itu, aku sudah menjual perasaan dan harga diri sebagai manusia. Tiap hari diocehi dan diomeli majikan, hingga ujung-ujungnya ingin memukulku. Tak cukup sampai di situ, majikan juga kerap menuduhku macam-macam.

Ketika ada barang rusak, misalnya, mereka menuduhku yang merusakkan. Padahal, manalah mungkin aku merusak barang dan perabot rumah yang selama ini aku jagai dengan kesungguhan hati. Namun, aku agaknya memang dituntut untuk terus bersabar dan mengalah. Termasuk ketika harus bekerja 20 jam sehari tanpa henti. Ini terjadi, karena hampir sepanjang malam aku mesti menjagai majikan main tamachiok hingga larut. Aku sering dibiarkan terkantuk-kantuk di samping meja permainan.

Puncak deritaku datang ketika majikan – tanpa alasan jelas dan pemberitahuan – memecatku secara sepihak dan mendadak. Lebih keronto-ronto lagi, bukan hanya majikan yang menolakku, agen pun melakukan hal yang sama. Dus, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Saat itu, ingin rasanya aku menangis. Bekerja baru beberapa bulan, bahkan belum sempat kirim uang untuk keluarga, aku sudah harus menghapus seluruh cita-cita yang kususun demikian indah. Aku berjalan gontai. Tak tahu harus berbuat apa setelah keluar dari apatemen majikan dan kantor agen. Dengan menjinjing tas pakaian, aku terus melangkah.

Sampai kemudian, aku bertemu dengan seseorang yang tak kukenal sebelumnya, dan memberiku alamat sebuah shelter. Tanpa ragu, aku melangkah pasti menuju shelter Kotkiho, membaur dengan BMI lain yang mengalami kasus hampir sama. Di shelter inilah aku mendapat bantuan hukum, tempat tinggal, plus makan minum secara cuma-cuma.

Berkat bantuan mereka, saat ini aku memang sudah terlepas dari status ”BMI berkasus”. Toh, masih banyak pertanyaan di benak yang belum terjawab. Kenapa agen yang sudah jelas memperlakukan aku seperti itu, tetap diizinkan beroperasi? Lantas, ketika aku menuntut hakku pada majikan, agen pun seolah tak mau tahu permasalahan yang dihadapi majikanku. Dari situ aku tahu, bukan hanya aku yang termakan rayuan gombal agen, majikanku pun mengalami hal serupa. Apes.

1 komentar:

Posting Komentar