DISIKSA ANJING DAN MAJIKAN

Enam minggu bekerja di Hong Kong, BMI asal Dolopo-Madiun berusia 32 tahun ini sudah kenyang menelan siksa. Bukan cuma dari majikan, tapi juga hewan piaraan majikan. Tangisan, ratapan, dan ketakberdayaan pun terangkum jadi satu dalam penderitaan.
Berikut penuturan Mariyati, yang ditemui di shelter Kotkiho.

”Tidak sekalipun pernah terpikir olehku, bekerja di Hong Kong ternyata sarat dengan penderitaan. Awalnya, demi membiayai kedua anakku agar bisa terus mengenyam pendidikan, aku berangkat ke Hong Kong meninggalkan Dolopo. Segudang harapan dan cita aku bawa, dengan harapan bakal tercapai. Aku yakin, siapa pun pasti sependapatku: tidak rela melihat anak-anaknya sengsara di kemudian hari, layaknya kedua orang tuanya. Pendidikan tak memadai, ekonomi pun lemah. Jika aku tidak berusaha mengentaskan kemiskinan keluarga, lantas siapa lagi?

Oleh agenku: AO (inisial), aku ditempatkan bekerja di sebuah villa tingkat empat. Tugasku merawat 10 anjing, membersihkan rumah, dan menyiapkan hidangan makan kedua majikan yang tanpa anak. Mula pertama aku menginjakkan kaki di Chu Suet Man Carrie No. 47-48, Tai Tong Road-Yuenlong, anjing langsung menyalak dengan ganasnya. Entah mau mengajak kenalan atau tak setuju aku kerja di tempat itu.

Saat itu perasaanku sudah tak enak. Apalagi jika memandang villa itu… huh, seram dan menakutkan. Gedung megah bak istana itu dikelilingi pagar tinggi. Ada kolam, pot bunga, dan entah tanaman apa saja yang hidup di sana. Cuma…aku merasa telah ditipu mentah-mentah oleh PT yang memberangkatkanku maupun agen yang berkantor di Causeway Bay. Bagaimana tidak? Job yang kutandatangani sewaktu masih dalam penampungan adalah merawat dua anak dan mencuci mobil. Bukan memelihara anjing.

Kedua majikanku berusia sekitar 55 tahun. Mungkin karena tak memiliki anak, rasa belas kasih terhadap sesama tak dimiliki majikan. Sejak aku datang, siksaan demi siksaan terus kuterima. Ada saja alasannya. Mulai dianggap kurang cekatan, kurang pandai, hingga kurang bersih. Sekujur tubuhku penuh bilur-bilur luka.

Masih kuingat, pada minggu kedua, aku menerima penyiksaan fisik yang sangat berat. Saat itu, aku diperintah majikan membersihkan kandang anjing ukuran 2x2 meter di lantai bawah. Karena saat itu tanganku bengkak, gara-gara digigit anjing, aku tak kuasa membersihkan tempat itu hingga bersih. Kuakui, masih tertinggal sedikit bulu anjing. Aku minta maaf, seraya menjelaskan: gigitan anjing telah membuat tanganku tak berfungsi dengan baik.

Kupikir, majikan menyuruhku membersihkan ulang. Ternyata tidak. Ia marah. Memukul, menendang, mencakar, lalu menyeretku dari lantai atas ke lantai dasar, tempat kandang anjing. Bekas cakaran kuku panjang wanita itu membuat tetesan darah mengalir dari kedua lenganku.

Tak sanggup terus-terusan dianiaya, aku memutuskan lari dan kembali ke agen. Bukan untuk menuntut atau mempertanyakan alasan agen memalsukan job-ku, melainkan cari perlindungan dan jalan keluar. Aku masih baru di Hong Kong. Otomatis, hanya pada agen aku mengadu. Tapi, agen malah menyuruhku kembali ke rumah majikan. Alasannya: aku masih masa potongan.

Begitulah. Dengan terpaksa, aku kembali ke kandang binatang tak berperasaan itu. Seketika, terbayang olehku, kembali ke rumah majikan berarti harus siap mendapat penyiksaan ulang.

Anjing pun turut menyiksa

Hari-hari berikut kujalani seperti biasa. Perkiraanku benar, penyiksaan majikan perempuan masih kerap kuterima. Parahnya, anjing-anjing peliharaanku belakangan pun ikut menyiksaku. Saking banyaknya, gigitan anjing menghiasi sekujur tubuhku. Bayangkan! Luka yang pertama belum kering dan sembuh, gigitan susulan datang lagi. Begitu terus. Hampir tiap hari aku mesti kena ”panah” taring-taring tajam itu.

Fisikku benar-benar drop. Apalagi, sebagian anjing itu ternyata mengidap rabies. Ini sering kudengar dari majikan yang rutin membawa anjing-anjingnya ke klinik untuk divaksinasi anti-rabies. Akibatnya, sehabis kena gigitan, aku langsung demam tinggi. Badanku bengkak. Aliran darahku pun panas luar biasa. Tapi, oleh majikan, aku cuma dikasih obat biasa dan tetap harus bekerja.

Pernah suatu kali, aku hendak membersihkan kamar. Tiba-tiba, anjing herder yang menjaga tangga menyalak hebat mengetahui aku masuk kamar. Ia menerjang tubuhku dan berusaha menggigit. Tak ingin di-”perkosa” anjing, adu kekuatan pun terjadi. Pergulatan dan jeritanku ternyata tak jua meredakan amukan herder, sampai aku terkulai lemas tanpa daya.

Aku biarkan sebagian daging di tubuhku tercabik-cabik gigi herder itu. Puas, anjing itu melenggang meninggalkan aku. Yang kusesali, saat kejadian itu kedua majikan sebenarnya ada di rumah. Aku tak tahu, apakah mereka sengaja membunuhku dengan cara itu atau benar-benar tidak mendengar. Rumah itu memang sangat besar dan luas. Sialnya, melihat darah segar mengalir dari tubuhku, majikan hanya memberiku obat gosok. Ya, obat gosok.

Lompat dari Lantai Dua

Daya tahanku habis. Tak ingin mati konyol, aku pun kembali berniat melarikan diri. Tapi aku tak tahu, jalan mana yang bisa mengantarkan aku keluar area villa. Rumah itu berpagar tembok tinggi. Sementara, anjing-anjing itu seperti sudah terkoordinir dengan benar untuk menjaga rumah. Ada yang ”bertugas” keliling taman, kolam renang, ada juga yang berjaga di tiap tingkatan rumah. Melihatku, layaknya melihat musuh. Mana bisa kubujuk dengan makanan.

Binatang inilah yang selalu menggagalkan rencanaku kabur. Tapi, kali ini, aku sudah nekat apa pun yang bakal terjadi. Apalagi, pagi itu, majikan kembali memukuliku tanpa alasan jelas. Sudah begitu, salah satu anjing menggigit pahaku hingga berkali-kali. Padahal, luka akibat gigitan yang lalu belum kering dan sembuh total.

Ketika aku berusaha mencari jalan, kedua majikanku bilang mau keluar rumah. Plong! Dadaku langsung longgar. Buru-buru aku naik ke atas jendela kamar lantai dua. Dengan bantuan seutas kabel AC yang tergerai di depan jendela, aku meluncur ke bawah, dan mendapati pintu gerbang belum digembok. Itu pertanda, majikan belum keluar dari garasi.

Aku langsung lapor ke polisi dengan menunjukkan luka baru dan luka lama yang meninggalkan bekas hitam di sekujur tubuhku. Berbekal surat keterangan dari kepolisian, aku mengadu ke Labour Departement. Kini, aku tak tahu lagi bagaimana menghubungi keluargaku setelah nomor telepon tetangga dirampas majikan. Tolong bantu dengan doa, semoga urusanku cepat tuntas dan bisa segera pulang ke Indonesia. (Kristina DS)

5 komentar di "DISIKSA ANJING DAN MAJIKAN"

Poskan Komentar