BUSYET! SUAMIKU BUAYA DARAT

Body lelaki 32 tahun itu sangat atletis. Hidungnya mancung, alisnya tebal, dan di atas bibirnya berhias kumis tipis. Dimataku, lelaki keturunan arab itu sangat manis. Meski berkulit agak gelap. Tutur katanya selembut sutra, masih lajang, anggota TNI pula.
Ya, wanita manapun yang memandang Hendra-panggil saja begitu- pasti terpesona dan bersimpati. Seperti halnya aku yang baru lulus SMU di kota kelahiran. Blitar. Entah mengapa sejak pandangan pertama di kos-kosan kakakku, seketika ada yang aneh pada perasaanku. Hendra, anak ibu kos itu, memang manis dan perlente.
Dari seringnya bertemu dan berbincang, membuat aku yang masih remaja memiliki kekaguman yang luar biasa. Ternyata rasa kagum inilah awal mula aku jatuh cinta. Tiap hari selalu ingin bertemu dengan Hendra. Menatap wajah dan matanya yang indah. Kadang aku sampai menangis sendirian kala jauh dari Hendra. Aku tak tahu, kenapa aku mencintai laki-laki itu sampai sedemikian gilanya. Padahal waktu itu aku sudah punya pacar.

Semakin lama bersama pria dewasa itu, semakin ku sadari betapa pandainya ia memanjakan aku. Semakin terperangkaplah aku dalam jarring-jaring asmara yang ia tebarkan dengan sedemikian rapinya. Sampai-sampai perbedaan yang 11 tahun, kuanggap bukan suatu penghalang. Kupikir, mencintai lelaki dewasa, tentunya akan lebih baik. Bisa ngebimbing, ngertiin dan ngarahin aku. Seperti kenyataan aku mengenalnya.

Suatu hari, Hendra mengulurkan tangan. Mengajakku mengarungi hidup dalah satu ikatan perkawinan. Hatiku berbungga-bunga, karena aku memang belum pernah merasakan sebenar-benarnya jatuh cinta. Lagian siapa yang mau menolak ajakan cowok ganteng itu? Aku sangat mencintai dan mengasihinya. Lebih beruntung, Hendra termasuk pengayom masyarakat yang terikat sebagai pegawai negeri sipil(PNS). Tentu aku yakin, menikah dengan Hendra akan membuat hidupku bahagia. Dan tak kekurangan materi.

Di luar dugaan, keinginanku berumah tangga dengan Hendra ditentang keluarga. Mereka tidak setuju aku menikah dengan kekasih pujaan yang blum lama aku kenal itu. Kenapa? Kata orang tuaku, meski usianya telah dewasa, Hendra bukan laki-laki yang baik. Dia pemabuk, penjudi dan suka main perempuan. Meskipun sehari-hari bekerja sebagai pengayom masyarakat. Ujungnya, bukannya restu, orang tua malah memibtaku menjauhi Hendra.

Penolakan keluarga membuatku bagai disambar petir. Sangat kusesalkan, kenapa orang tua menilai sedemikian buruk lelaki yang kau cintai. Dimataku yang sedang mabuk kepayang, tidak semestinya orang tua termakan omongan orang tentang kelakuan miring Hendra yang belum tentu benar. Awalnya, aku hanya bisa terduduk dan tertunduk. Aku yang masih lugu dan polos ini benar-benar dibuat tak berdaya oleh keadaan.

Ingin menjauhi Hendra seperti larangan orang tua, akui tak bisa. Hatiku terlanjur kesengsem berat. Tidak menuruti orang tua aku juga tidak bisa. Sebab, orang tua pasti memikirkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Akupun mengerti larangan orang tua semata-mata dimaksudkan agar aku tidak salah pilih. Mereka ingin, aku peroleh kebahagiaan sepanjang zaman dendan laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab. Tetapi karena cintaku terlanjur melekat, nasihat itu kuanggap seperti angin lewat.

Cintaku yang setinggi himalaya, mendorongku terus memperjuangkan masa depan cintaku. Termasuk tidak peduli terhadap larangan dan nasihat keluarga. Ku pikir, toh aku yang menjalani, bukan keluargaku. Akhirnya aku nekat hidup bersama Hendra. Dan terbukti keluargaku tak bisa berbuat apa-apa.

Pada usiaku yang ke-19, aku sudah menyandang predikat ibu rumah tangga. Tiap hari tugaskuj hanya melayani suami. Ya, didapur, sumur dan kasur. Sebulan sekali aku ikut kegiatan darma wanita dikantornya. Kebahagian yang tak dapat lagi ku ukir lewat kata-kata. Terlebih ketika anak laki-lakiku lahir setelah setahun menikah. Sayangnya, ketika buah hatiku berusia tiga tahun, penyakit Hendra kambuh. Berjudi, mabuk-mabukan, juga jajanperempuan jalanan.

Tidak sekali dua kenakalan tentang suami ku dengar. Bukan Cuma hembusan angin, namun juga meluncur dari bibir suamiku sendiri. bahkan ada yang lebih parah dari itu. Suatu hari, aku diajak semobil dengan perempuan-perempuannya. Hati siapa yang tidak sakit? Ingin aku marah, tapi aku tak kuasa. Aku memilih pasrah dan menurut ketimbang mempermalukan suamiku di depan orang lain, meski itu pacar gelapnya.

Mungkin inilah “kutukan” akibat kawin tanpa restu orang tua. Perasaan tertekan selalu mewarnai hari-hari. Anehnya, aku memilih diam dan tak menceritakan penderitaan batinku pada siapa pun. Termasuk pada keluargaku. Jujur, aku malu menceritakan kebobrokan suamiku yang sangat kusayangi ini. Meski hatiku hancur berkeping, aku tetap bertahan di samping Hendra. Berusaha memahami dan mengerti tentang dirinya. Dengan harapan: Hendra kembali menjadi suami yang baik dan bapak yang sayang anak-anaknya.

Namun semakin hari, Hendra bukannya sadar, tapi justru makin mengila. Sampai kemudian Hendra di pecat atasannya. Smakin terpukulah perasaanku sebagai istri. Meski demikian, Hendra tak pernah lari dari tanggung jawab secara moril dan materiil. Alasan itulah yang membuatku bertahan mendampinginya. Merasa tak mungkin beroleh pekerjaan layak, Hendrapun memutuskan pergi ke Saudi Arabia. Tapi lagi, lagi, Hendra gagal karena perempuan. Ia kembali ke tanah air.

Kejadian parah kembali menggucang rumah tanggaku. Tepatnya ketika aku hamil tua anak kedua. Selain kecantol dengan PSK dari malang kota, suamiku juga gagal ke Saudi karena kesengsem dengan sesama calon TKI. Bejatnya lagi, aku malah diungsikan kerumah orang tuaku tanpa alasan. Terpaksa ketika melahirkan di RSU besar itu, aku hanya ditunggui anak sulung dan keluargaku.

Tingakh polah Hendra diluaran memang sangat keterlaluan. Sudah punya istri dan anak, tega-teganya tetap mempermainkan perempuan lain. Seperti terjadi pada Sherly(bukan nama sebenarnya), calon TKI Saudi yang akhirnya gagal berangkat karena tergoda ketampanan dan keromantisan suamiku. Ia dibohongi mentah-mentah. Hendra mengaku istrinya sudah mati. Makanya aku tak dapat menyalahkan gadis asal jawa barat itu. Akupun merelakan Hendra mengawininy asecara siri.

Tingkah ugal-ugalan Hendra tak berhenti sampai disitu. Meski punya dua istri, eh, dia masih rutin mengunjungi PSK langganannya. Aku tak tahu, apakah ia Cuma hura-hura atau memang mencari kepuasan. Yang pasti akibat ulahnya, duit utangan yang jumblahnya jutaan ludes tak tersisa. Padahal uang yang aku pinjamkan dari adikku itu rencananya untuk modal berangkat ke Saudi mencari pekerjaan.

Perangai dan tabiat Hendra memang berubah total sejak mengenal gadis –gadis cantik dan seksi. Padaku maupun pada anak kandungnya, ia sering bicara kasar. Perhatiannya pada keluarga mulai berkurang. Kalau pulang kerumah paling hanya sebentar. Ada saja alasan yang dikemukakan agar dia bisa main gila-gilaan di luar rumah. Disini aku tak habis pikir, kenapa PSK-PSK itu mau melayani suamiku tanpa dibayar. Bahkan sampai berkorban mati-matian. Apakah semata karena urusan ranjang?

Sebagai istri aku hanya bisa pasrah sembari berdoa mudah-mudahan suamiku tersadar dan kembali pada keluarga. Aku sendiri sudah cukup memahami dan bersabar menghadapi kelakuan suamiku. Namun semua itu hanya sia-sia. Sedikitpun Hendra tak pernah mau peduli padaku.

Karena hartanku ludes, utang menumpuk, aku lalu nekat pergi ke luar negeri. Sebab mengandalkan depot dari yang kukelola jelas tak mampu menutupi hutang-hutang yang begitu besar. Suamiku memang tak punya perasaan. Aku kerja di Hong Kong, eh, istri keduanya dikontrakkan rumah didekat tempat tinggal kami. Sementara, PSK yang terlanjur bunting dan punya anak hasil perbuatan bejat Hendra, ditelantarkan begitu saja.

Pembaca…
Nasi sudah terlanjur jadi tajin. Setelah sekian lama di Hong Kong dan membayar seluruh hutang ulah suamiku yang jadi’’buaya darat’’, aku memutuskan minta cerai. Barangkali setelah terlepas dari suamiku yang memberiku dua anak inilah, aku baru sadar, punya suami ganteng ternyata menuai penderitaan panjang.

Sedikit tambahan, meski terus-terusan diperlakukan kejam oleh suamiku, aku selalu menjaga kesetiaan dan kodratku sebagai seorang ibu. Buatku, tak mungkin suami selingkuh, aku turut selingkuh pula itu sebabnya, ketika memproses perceraian dengan Hendra, saat itu pula aku kembali membuka hati pada lelaki yang mau menerimaku apa adaya.

Lelaki pertama yang menarik perhatianku sejak menjanda adalah Nando(tentu bukan nama asli). Lelaki yang kukenal lewat telepon itu, seorang buruh migrant yang bekerja di Malaysia. Perkenalan yang sebenarnya tanpa sengaja itu, rupanya mampu menarik simpatiku. Walau hanya sebatas lewat suara. Aku sangat tertarik dengan lelaki yang mengaku sudah menduda dan punya satu anak. Sebab ia berani jujur dan terbuka seputar kehancuran rumah tangganya. Berawal dari situlah, hubunganku lewat telepon semakin indah saja.’’mungkin ini puber kedua’’kata Nando waktu itu. Kami tertawa.

Semakin sering kami berkomunikasi dengan Nnando, membuatku juga mulai terbuka tentang rumah tanggaku. Ia bersedia menerima masa laluku. Bahkan ia langsung mengenalkan aku pada keluarganya. Dan kami berjanji sama-sama hendak merengkuh kebahagiaan yang sempat tertunda.
Impian yang indah memang. Namun kenyataanya ternyata tak seindah impian. Baru setahun jadian, ia meninggalkan aku tanpa pamit. Ku –SMS tak dibalas. Kukontak, telepon tak di anggkat. Hatiku benar-benar sakit. Terasa lebih sakit disbanding perlakuan hendra di masa-masa lalu. Tahu sendiri, segalanya telah aku siapkan untuk hidup bersama. Tapi…Nando pergi entah kemana.

Aku lelah. Sangat lelah menghadapi laki-laki. Aku tak ingin dianggap mengemis cinta, walaupun cintaku sebenarnya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi, kenapa Nandu jugamenyakiti aku seperti ini? Kini surat resmi cerai yang diuruskan keluargaku tersimpan dikantongku. Nmun harapanku memperoleh kebahagiaan dari lelaki lain, membuat aku kembali tercampak. Diri ini ibarat daun kering yang berserakan di padang gersang. Masih adakah lelaki yang sudi memunggutku?

Diceritakan oleh anggota TTM -062 kepada Kristina Dian S dari apakabar.

Catatan. Pernah dipublikasi tabloid apakabar, kolom curhat edisi 7-20 juli 200

1 komentar:

Posting Komentar