Ku Gadaikan Tubuh Demi Membayar Hutang

Ku pinjamkan pasport dan kontrak kerja pada sahabat dekatku untuk meminjam uang di bank perkeriditan. Cicilan belum lunas, sahabatku di terminate majikan. Begitu juga sahabatku yang satunya lagi, dideportasi majikan, gara gara belum bayar tagihan. Aku yang jadi saksi peminjaman di bank, hanya mampu gigit jari. Tuntutan melunasi hutang, terpaksa kugadaikan jiwa ragaku pada lelaki Hong Kong.


Aku -anak kedua dari tiga bersaudara- berangkat ke Hong Kong Pada tahun 2000. Di daerah Tuen Muen aku bekerja pada majikan yang beranggotakan 6 orang. Di tempat itu, aku bekerja selama 4 tahun dengan gaji di bawah standar. Di kontrak kerja yang pertama- dua tahun-, sama sekali aku tak peroleh libur dan juga uang ganti libur. Baru di kontrak kerja yang kedua, aku dikasih libur dua kali dalam sebulan. Majikanku sangat disiplin dan perhitungan soal uang. Sering gajiku di potong, bila aku melakukan kesalahan kerja. Bisa dipastikan, aku yang di kenai biaya potongan agen selama 6 bulan, tidak pernah menerima gaji utuh. Meski begitu, aku tidak pernah mengeluh atau komplin ke agenku yang berkantor di Causway Bay. Karena, aku takut dipulangkan ketanah air. Kasihan keluarga jika aku sampai gagal, yang artinya aku tidak bisa memperbaiki gubuk kami.

Meski majikanku memberlakukan denda kepadaku, aku tetap bersyukur bekerja di rumah itu. Karena tuan dan nyonya begitu perhatian. Bahkan soal keungankupun, majikan turun tangan mengontrol kemana larinya gajiku perbulan. Mulanya aku memang tertekan dengan sikap kedua majikan, namun lama-kelamaan ada perasaan senang. Bagaimana tidak. Tanpa perhatian dari mereka, tentunya aku tak bisa mengirim uang ketanah air, juga menabung untuk diriku sendiri di kontrak pertama itu.

Tapi sejak nyambung kontrak kedua, majikan tidak pernah lagi mengurusi dan mempertanyakan soal gajiku. Hanya sesekali memberikan pesan agar aku irit membelanjakan uang. Mengingat, bekerja jauh dari keluarga, sesunguhnya sangat berat. Sejak tanda tangan kontrak kedua itu pula, agen dan majikan memberikan kepercayaan memegang dokumen sendiri. Di kasih libur pula, dua minggu satu kali. Akupun bisa berjumpa dengan teman teman setanah air. Tetangga juga teman teman lama, sewaktu di PT dulu. Sikap ku yang mudah bergaul dengan siapa saja, menjadikan aku banyak memiliki teman. Tak lebih dari empat bulan, aku mendapatkan tiga orang sahabat. Dua orang teman se-PT, sebut saja namanya Lia dan Lala yang keduanya telah berumah tangga. Sedangkan Leni yang usianya sebaya denganku itu tetangga kampung yang kebetulan bekerja satu flat. Bila kami ada kesempatan bertemu dan jalan bareng, ramainya minta ampun. Tak jauh beda dengan suasana pasar. Suara kami sama sama keras dan tidak bisa bicara pelan. Jangankan ketika sedang berkelakar, sedang sharingpun kami juga demikian.

Dalam berteman, kami tidak memiliki perhitungan soal uang. Kami berempat biasa saling gantian. Soal makan minum selama libur maupun ongkos kendaraan. Kebetulan pula, kami memiliki tanggal gajian yang berbeda. Tanpa kusadari, sejak mengenal hari libur, aku mulai sedikit melupakan tanggung jawab: menabung dan mengirim uang seperti dikontrak kerja pertama. Tak jelas kemana saja larinya uangku, hampir tiap bulan hanya tersisa tak lebih dari separo gaji bulanan. Sejujurnya, sebelum aku akrab dengan Lia dan Lala yang telah bercucu itu, aku telah mendengar, mereka berdua punya tanggungan bank. Masing -masing punya tanggungan dua bank. Yang satu bank di bayar sendiri-sendiri, dan bank yang satunya mereka berdua pakai sistem bayar separo-separo. Mereka berdua bilang, itu salah satu alternatif yang cukup baik, supaya gaji perbulan tidak habis begitu saja. Itu memang benar, Lia dan Lala termasuk orang yang berhasil membangun rumah mewah di kampung halaman, juga membuka bidang usaha yang di kelola suami masing masing.

Tiba-tiba Leni, tetanggaku ini, tertarik meminjam uang di bank perkeriditan meniru gaya Lia dan Lala. Katanya kerja hampir empat tahun, tak juga bisa beli apa apa, karena setiap bulan harus kirim uang untuk membayai kuliah kakak sulungnya. Tapi kendala yang diahadapi,dokumenya di pegang oleh agen sejak ia datang ke Hong Kong. Dengan gaya meyakinkan, mereka bertiga meminta pertolongan pinjam dokumenku. Lia dan Lala menjadi saksi dalam peminjaman menginggat dokumen mereka telah dipakai meminjam uang di dua bank sekaligus. Sebagai teman, aku tidak keberatan, mengingat selama ini hubungan kami cukup baik. Dua minggu setelah musyawarah itu, kami berempat menuju bank perkeriditan setelah proses yang lainya di lakukan lewat telepon.

Persahabatan kami aman aman saja pada tahun tahun pertama. Leni sampai nyambung pengambilan yang kedua kali. Kini giliran Lia dan Lala yang kelabakan mencari saksi untuk peminjaman berikutnya, setelah pembayaran terdahulu lunas terbayarkan. Katanya saksi yang dulu telah pulang ke tanah air. Lagi, lagi aku tidak berkutik ketika keduanya memintaku menjadi saksi. Ku pikir, tak ada masalah hanya di intervw fihak bank lewat telepon. Meski yang di tuju nomor telepon rumah majikan. Keadaan masih aman.
Eh, begitu melihat keberhasilan mereka bertiga, aku yang mulanya anti minjam uang, jadi ikut-ikutan pula. Kugadaikan dokumenku di bank perkeriditan yang berbeda dari banknya Leni. Aku pinjam HK$15.000, di cicil selama 8 bulan, bertepatan dengan berakhirnya masa visaku nanti. Tapi ini dia yang tidak kusangka sebelumnya, Leni tiba-tiba di deportasi majikan, gara-gara nenek yang di rawatnya meninggal dunia. Ia pulang ketanah air. Jangankan membicarakan soal utangnya itu, pamitpun tidak. Jatuh tempo pula waktunya membayar angsuran yang ke empat kali.

Aku kelabakan setengah mati. Gajiku tidak cukup membayar dua bank sekaligus. Apalagi aku tak punya penghasilan sampingan. Untungnya, Lia dan Lala masih bersedia membantu meski kami tetap pakai sistem gantian. Penah kami sampai mengadaikan paspor dengan bunga selangit, di teman-teman yang mau meminjami uang. Tak mengapa, pinjam HK$ 1000, dikembalikan HK$ 12000/perbulan. Asalkan masalah di bank bisa teratasi. Oalah tiba-tiba, Lala angkat tangan. Tak bisa membantu lagi, yang alasannya sang anak minta kiriman uang. Tinggalah aku dan Lia yang masih bertahan dalam himpitan itu. Gali lobang tutup lobang dengan rasa setia kawan. Ndilalah, Lia tertimpa masalah pula. Di pulangkan majikan ke tanah air, gara gara belum bayar rekening telepon, yang merembet ke masalah hutangnya di bank.

Dadaku semakin sesak. Kelapaku pening mikir hutang. Membayar hutangya Leni juga utangku sendiri. Kini di tambah lagi, aku di uber orang bank tempat Lia minjam uang. Meskipun aku hanya sebagai saksi, aku selalu di teror telepon. Di maki-maki, juga dimarahi dengan kata-kata yang cukup menyakitkan. Tiap kali telepon rumah berdering, wajahku langsung pucat. Karena deb collector juga mengancam akan melaporkan aku pada majikan jika tidak segera di bayar. Aku binggung setengah mati, tidak tahu hendak kemana lagi mencari pinjaman nutupi hutang Lia. Jika aku nekat pinjam uang pada majikan dengan sistem potong gaji, bagaimana pula dengan tangungganku? masih ada dua bank yang harus aku bayar dalam waktu yang berdekatan.Pinjam ke agen, jelas kena semprot. Menghiba ke Lala juga percuma. Sangking juteknya, tak menemukan jalan, aku memilih pasrah. Aku tak peduli fihak bank menelepon, atau surat merah tiada berhenti menempel di pintu rumah majikan, atau fihak bank nekat datang kerumah dengan kepolisian. Aku sudah tak punya jalan. Mau bunuh diri, aku takut mati.

Begitulah, persahabatan bisa pecah hanya gara gara uang. Kawan baik, bisa saja berubah menjadi lawan. Kalau mau menuruti kata hati, jelas aku kecewa berat dengan kedua temanku itu. Secara tidak kusadari rasa kecewa itu, telah menumbuhkan rasa dendam di hati. Begitu, keluargaku yang ditanah air, aku minta nagih kerumah mereka, malah di marahi habis-habisan. Bahkan kedua sahabatku yang telah nyaman di bumi pertiwi, malah memutar balikkan fakta. Pada keluargaku, mereka bilang, akulah yang punya utang pada mereka. Jadinya, aku yang di marahi keluarga, sampai entek ngamek, kurang ngolek. Aku kehabisan kata meyakinkan keluarga.

Di tengah aku sedang strees berat, tiba tiba timbul pikiran mendekati laki laki genit yang sering kujumpai di sekolahan anak asuhku. Kebetulan, laki-laki berusia 30 tahun itu sering mengoda. Sering pula ia ngajak yam cha, tapi selalu ku tolak. Rasanya kok murahan banget kalau aku mau sama dia. Badanya gemuk, pendek, gak ganteng. Namun begitu, ia termasuk laki-laki mata keranjang. Tiap ngelihat cewek cantik dikit, matanya langsung merem melek. Gengsi rasanya punya gandengan macam dia. Tapi karena dorongan mencari uang membayar hutang, suatu siang, terpaksa ku dekati. Ku katakan: akan kuturuti segala pintanya asal memberiku uang, sekalipun ngajak kencan. Ibarat kucing dikasih ikan asin, kulihat bias kegembiraan di raut wajahnya yang sebenarnya mulus. Beberapa hari kemudian,-aku yang mulanya ogah-, akhirnya ketemuan di sebuah hotel mini yang tak jauh dari rumah majikan.

Tak menyangka, akhirnya ku gadaikan tubuh yang belum pernah terjamah laki-laki ini, demi menutupi hutang di bank perkeriditan. Ku buang segala rasa malu dan sungkan hanya demi lembaran dolar. Kalau harus kujujur, sebenarnya hatiku menangis saat itu. Di tambah pula, saat itu aku sudah mendekati finis kontrak. Apakah aku akan pulang ketanah air hanya dengan membawa tumpukan kwintansi? Usahaku menutupi hutang hutang-meski mengadaikan tubuh- akhirnya kelar juga. Tentu saja berkat pertolongan anak tunggal dari keluarga sederhana itu. Sejak kuserahkan tubuhku pula, terbersit niat dihatiku, untuk menerima segala kekurangannya. Karena, aku takut suatu saat tidak ada pria yang sudi memperistri diriku yang sudah tak perawan lagi. Kini badai itu tlah berlalu dan aku kini telah bahagia hidup bersama dengan pria Hong Kong itu.

Di tuturkan "N" kepada Kristina Dian S dari apakabar.

5 komentar di "Ku Gadaikan Tubuh Demi Membayar Hutang"

Posting Komentar