TIDAK SEMUA MAJIKAN JAHAT

Merasa cita-citanya belum kesempaian selama bekerja di Singapura, Asih – BMI asal Purwodadi – memutuskan berangkat ke Hong Kong. Beruntung, ia memperoleh majikan yang baik hati. Kalau sekarang ia memutuskan tinggal di shelter, semata karena ia ogah membayar sewa di rumah agen.

Yup, tidak semua majikan jahat. Tidak semua BMI yang tinggal di shelter sedang menyelesaikan kasus. Asih contohnya. BMI asal Purwodadi, Semarang, yang kini tinggal di shelter Majelis Taklim, Taipo, ini hanya butuh tempat tinggal selama menunggu cuti ke Indonesia, Jumat (29/6). Toh, gadis 30 tahun ini mengakui, selama dua tahun menyelesaikan kontrak kerja dengan majikan, hari-harinya dilalui dengan penuh ketegangan. Apalagi, orangtua yang ia rawat meninggal dunia, saat ia baru setahun menjalani kontrak kerja. Kepada Apakabar, Asih menceritakan pengalamannya:

”Seperti banyak teman BMI yang lain, sebagai anak orang tak punya, tujuanku bekerja ke luar negeri adalah untuk mencari modal. Namun, hingga kontrak kerja pertamaku di Singapura berakhir, cita-citaku belum terwujud, meski bukan berarti kandas di tengah jalan. Gajiku di negeri jiran itu hanya cukup untuk membiayai sekolah adik dan kukirim ke orangtua. Maklum, gaji di Singapura tidak sebesar gaji TKW di Hong Kong.

Usai menyelesaikan kontrak kerja, aku langsung pindah haluan: berangkat ke Hong Kong setelah empat bulan sebelumnya mengikuti training di PT Tega Mukti Utama, Jakarta. Meski baru pertama kali datang dan bekerja di negara ini, aku memperoleh hakku sebagaimana mestinya. Di Hong Kong aku ditempatkan di daerah Lok Fu, bekerja pada tiga majikan dengan tugas utama merawat orangtua.

Kegetiran sempat kualami pada awal memulai bekerja di rumah ini. Penyebabnya adalah faktor bahasa. Jujur saja, karena tidak fasih berbahasa Kanton, komunikasiku dengan majikan memang sedikit tersendat. Apalagi, hanya tuan yang bisa berbahasa Inggris. Tetapi lama kelamaan, seiring dengan kesungguhanku dalam belajar bahasa, perlahan tapi pasti aku bisa memperbaiki kekuranganku tadi. Majikan pun jadi tambah sayang dan semakin toleran.

Kegetiran yang sempat mereda, kembali muncul ketika kakek yang kurawat meninggal dunia. Aku sangat khawatir di-terminate, lantaran tugas utamaku otomatis berakhir dengan kepergian kakek. Meskipun sebenarnya aku di-terminate dengan catatan baik, tapi tentu saja aku harus membayar potongan agen. Saat itu aku didera perasaan waswas. Untungnya, kakek yang kuperlakukan seperti orangtuaku sendiri, telah meninggalkan ”wasiat” pada majikan. Kedua majikan dilarang memulangkan aku, sebelum berakhir masa kontrak kerja yang harus kulalui setahun lagi.

Aku sungguh bersyukur atas karunia ini. Sejak itu, aku bersiap mencari majikan baru, mengingat majikan sudah tidak memerlukan tenagaku lagi. Majikanku memang orang baik. Mereka sampai rela mencarikan aku majikan baru. Sampai suatu hari, salah seorang temannya tertarik untuk mengambilku. Tetapi majikanku tidak setuju, karena kawannya tadi hendak menggajiku di bawah standar.

Majikan akhirnya menyarankan aku mencari majikan baru di agen atau dengan caraku sendiri, asalkan majikan baru memberikan hakku sebagai pekerja asing. Menjelang finish, aku sudah mendapatkan majikan baru yang lebih baik lagi. Majikan baru juga percaya sama aku. Soalnya, sebelum tanda tangan kontrak, majikan baru sering menelepon majikan lama. Menanyakan cara kerja, orangnya suka senyum apa tidak, dan hal-hal lain seputar diriku.

Dari situ aku baru tahu, bekerja ikut orang ternyata memang harus banyak senyum. Soalnya, lewat senyum menandakan kita cukup paisamke bekerja padanya. ”Nggak bisa senyum, ya susah. Kita mengira pembantu nggak suka bekerja pada kita,” begitu kata majikanku. Intinya, meski kerjanya pintar dan cekatan, tanpa senyum dianggap seperti sayur tanpa garam. Bisa jadi, senyum merupakan salah satu kunci sukses bekerja ikut orang.

Lagi-lagi, di rumah majikan baru, aku ditugaskan merawat orangtua. Kebetulan, aku sendiri memang paling demen merawat orangtua. Setidaknya, aku jadi selalu teringat orangtua kandungku di tanah air, yang sekaligus membuatku selalu ingat dengan tujuan bekerja ke luar negeri. Selain itu, aku juga bisa memperlakukan orangtua asuh layaknya memperlakukan orangtua sendiri. Tentu saja, kendala menghadapi orangtua juga banyak. Apalagi kalau orangnya sudah pikun atau tak mau nurut. Kalau tak sabar, malah kita yang dibuat jutek dan pengin marah melulu.

Setelah tanda tangan kontrak dengan majikan baru dan keluar dari majikan pertama, aku kembali ke agen untuk menunggu visa turun. Tetapi, ada masalah yang kuhadapi selama tinggal di agen. Di ”rumahku” ini, aku memang diizinkan tinggal sementara. Tapi, aku juga diwajibkan membayar biaya tempat tinggal. Meski tidak banyak, namun sebagai anak buah aku merasa keberatan dengan peraturan itu. Semestinya kami dibebaskan dari biaya itu, ”anak sendiri” kok disuruh bayar.

Kupikir, ketimbang untuk membayar agen, mendingan uang tersebut aku donasikan ke shelter untuk membantu membayar rekening. Akhirnya, kuputuskan tinggal di shelter dari pada tinggal di penampungan agen. Lagi pula, dengan begitu aku punya kesempatan mengenal kota-kota di Hong Kong, juga shalat berjamaah dengan teman-teman di sela penantian pulang ke tanah air.” (Kristina Dian S)

1 komentar:

Posting Komentar