Anakku Sayang, Anakku Malang

”Pada dua kontrak berikutnya, setelah aku cuti hari itu, sama sekali aku tak pulang ke rumah. Tetapi, tiap tiga bulan sekali aku tetap mengirim uang buat biaya sekolah anak-anak. Keputusan nyambung kontrak kerja tak pernah kudiskusikan dengan suami. Karena itulah, hubunganku dengan suami sudah tak bisa dikatakan harmonis lagi. Tiap kali kutelepon menanyakan kabar anak-anak, suami terkesan enggan berbicara. Aku menyadari, aku bersalah. Tetapi kata maafku cuma dianggap angin lalu.”

Sekejam-kejamnya harimau, tak mungkin memakan anaknya sendiri. Sekejam-kejamnya suami, tak mungkin ia tega menelantarkan darah daging sendiri. Begitulah dulu aku berpikir. Nyatanya? Pikiranku keliru. Anak gadisku dijual setelah dinodai.

Tahun 1995, aku menikah dengan seorang duda cerai dengan tiga anak. Panggil saja dia Nurdin (bukan nama sebenarnya). Pernikahanku bisa terjadi karena dijodohkan orangtua, yang menginginkan aku lekas menikah. Maklum, usiaku sudah 28 tahun, sepulang aku dari bekerja di Singapura selama tujuh tahun.


Kesan pertama, mungkin sama persis kesan orangtuaku pada duda itu. Pendiam, taat pada agama, rela membanting tulang siang malam untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama anak-anaknya. Di atas rasa iba, aku rela dinikahi, meski tanpa ada pesta.




Setelah kami menikah, aku tinggal bersama di pondoknya yang masih berdinding bambu. Meski rumahku sendiri – ditempati keluarga – tergolong mewah untuk ukuran dusun, aku tak keberatan menuruti ajakan suami. Katanya, anak-anak tiriku keberatan tinggal di rumahku yang termasuk big family.



Dua tahun menikah, kami dikaruniai seorang anak perempuan yang kami beri nama Putri. Suamiku gembira, karena tiga anaknya dari istri pertama berjenis kelamin laki-laki. Bisa membahagiakan orang lain, suatu kebahagiaan tersendiri buatku.



Usia Putri genap dua tahun ketika kutinggalkan balik bekerja ke majikan terdahulu. Ketiga kakak tirinya sangat sayang kepadanya. Suamiku juga pandai merawat anak. Jadi, aku tak terlalu khawatir meninggalkan Putri. Sejak aku kembali ke Singapura, suami hanya di rumah merawat anak seperti permintaanku.


Lambat laun, kehidupan kami jauh lebih baik. Membangun rumah dan membeli beberapa ekor kambing piaraan. Sebagian untuk dikembangbiakkan, dan sebagian lagi dijual jika kekurangan uang. Mas Nurdin pandai mengatur keuangan.


Usai menyelesaikan kontrak kerja, aku kembali ke tengah-tengah keluarga dalam rangka cuti. Majikan setuju aku cuti, setiap kali usai tanda tangan nyambung kontrak.

Putri tumbuh menjadi anak yang manis, lucu dan menggemaskan. Tak bisa kumungkiri, aku sangat mengasihi anak kandungku ini. Tetapi itu bukan berarti aku tak sayang pada anak-anak tiri. Namun, entah kenapa, kulihat anak-anak tiriku mulai berubah sikap terhadapku.


Mereka yang dulu penurut, kini rada acuh bahkan menjauh dariku. Aku dianggapnya pilih kasih. Si sulung yang saat itu sudah duduk di bangku SMP, memilih tinggal bersama tantenya. Anak tiri kedua ikut neneknya. Sedangkan anak ketiga, yang masih SD kelas 4, selalu ogah berada di rumah.


Begitulah suasana keluarga pada saat aku cuti dua minggu. Sikap anak-anak yang begitu, membuat aku dan suami berselisih paham. Aku dinilai tak rata membagi kasih sayang. Sebab, sebelum aku cuti, anak-anak tiri betah di rumah. Jangankan tidur dan tinggal bersama keluarga, bermain dengan teman-temannya saja tak pernah lama. Sebelum itu, anak-anak katanya rajin di rumah membantu ayahnya merawat si kecil, rumah, dan binatang piaraan.


Berulang-kali aku membujuk anak-anak tiri agar mau kembali tinggal bersama ayahnya. Tapi mereka menolak. Aku kehabisan kata dan membiarkan menuruti apa pun keputusan mereka. Aku kembali ke Singapura dengan perasaan hati yang tiada menentu. Kekhawatiranku mulai tumbuh, memikirkan nasib keluarga.


Pada dua kontrak berikutnya, setelah aku cuti hari itu, sama sekali aku tak pulang ke rumah. Tetapi, tiap tiga bulan sekali aku tetap mengirim uang buat biaya sekolah anak-anak. Keputusan nyambung kontrak kerja tak pernah kudiskusikan dengan suami. Karena itulah, hubunganku dengan suami sudah tak bisa dikatakan harmonis lagi. Tiap kali kutelepon menanyakan kabar anak-anak, suami terkesan enggan berbicara. Aku menyadari, aku bersalah. Tetapi kata maafku cuma dianggap angin lalu.


Daripada urusan rumah tangga jadi berlarut-larut, aku menyudahi kontrak kerjaku di rumah majikan. Kupikir, sudah cukup hasil kerja enam tahun di rumah majikan. Apalagi, suamiku sangat pandai mengatur keuangan. Tentu saja aku tak pernah mempertanyakan uang kirimanku.


Sesampai di kampung halaman, keadaan rumahku memang jauh lebih baik jika dibandingkan sebelum aku pergi merantau. Kami membuka warung bensin kecil-kecilan di pinggir jalan depan rumah. Hasilnya memang tak seberapa, tapi itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hari-hari. Tentu karena ditambah dengan hasil hewan piaraan.


Sayangnya, anak-anak tiriku semakin jauh dan tak pernah pulang ke rumah. Paling-paling kami yang pergi menemui mereka di rumah saudara untuk memberi biaya sekolah. Tanpa terasa, tiga tahun sudah aku menjalani kehidupan di tanah sendiri. Tetapi hasilnya praktis nihil, tanpa ada pemasukan yang berarti.

Setelah Putri lulus SD, aku nekat berangkat lagi ke luar negeri. Kali ini tujuanku Taiwan. Rumah tanggaku aman-aman saja pada bulan-bulan pertama aku memulai bekerja di rumah majikan di Taiwan. Tetapi mendekati setahun aku bekerja, Putri mengirim surat, memintaku pulang ke rumah saja. Saat itu, anakku tak pernah cerita kalau dia sedang menghadapi masalah. Kepada Putri, aku hanya bisa berjanji setelah kontrak kerja usai akan pulang dan tak kembali lagi bermigrasi.


Surat-surat yang dikirim Putri pada hari-hari berikutnya, semakin membuat hatiku lara. Putri selalu bilang, bapaknya tidak sayang lagi. Tapi ia tetap tak mau cerita, ada apa gerangan. Saat itu aku berpikir, mungkin suamiku mengekang anak atau tak mau memberikan uang jajan. Jadi, aku berusaha untuk tidak memikirkan terlalu dalam. Paling aku hanya menyisipkan surat rahasia untuk suami di antara surat buat anakku tersayang.


Mendekati dua tahun di Taiwan, aku mendapat surat dari keluarga kandungku. Pesannya: apa pun yang terjadi, pulanglah! Seketika aku panik seusai membaca surat dari orangtuaku. Mau tak mau, aku memang harus pulang. Sesampai di rumah? Ya Tuhan, aku berharap ini hanya sekadar mimpi. Bukan kisah nyata.


Putri anakku dan keluargaku menjemput di bandara, memelukku dengan tangis. Tangisan anakku terasa menyayat jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, saat aku mau pergi atau pulang merantau. Tetapi aku menganggap wajar, bukti ia sayang dan kangen pada ibundanya.

Aku ikut larut dalam kepedihan saat orangtuaku bilang, suamiku tak bisa ikut menjemput. Katanya, ada kerjaan yang tak bisa ditinggal. Aku berusaha memaklumi. Tetapi, dalam perjalanan pulang ke kampung halaman, orangtua dan anakku meminta untuk langsung pulang ke rumah orangtuaku. ”Istirahat sehari dua hari, barulah nanti pulang ke rumahmu sendiri.”

Pikiranku sebenarnya sudah tak karuan. Aku yakin, pasti ada sesuatu. Anehnya, mereka tak mau sedikit pun ngasih gambaran. Sampai di rumah orangtua, aku masih bertanya-tanya, apalagi keluargaku tetap bersikeras untuk tidak pulang ke rumah. Padahal, aku sangat ingin bertemu suamiku.


Esoknya, keluargaku menyodorkan sepucuk surat yang membikin aku kehilangan tenaga. Hampir tak sadarkan diri. Surat itu datang dari Lurah, Polres, Lembaga Pemasyarakatan (LP) serta dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH). ”Kalau mau ketemu suamimu, datanglah besok ke LP,” begitu pesan ibuku.

Dari ucapan ibu, barulah aku tahu pokok permasalahannya. Putri, anakku, dijual ke tempat prostitusi di daerahku setelah diperkosa bapaknya sendiri. Anakku kabur dari tempat prostitusi itu dan ditemukan sopir yang kemudian melaporkannya ke kantor polisi.

Tangisku kian menjadi, merasa diri ini teramat-sangat berdosa kepada suami dan anakku. Karena egoku, sekarang aku kehilangan suami dan membuat anakku mengalami trauma berkepanjangan. Aku hanya berpikir, bisakah aku kelak menerima keberadaan suami di antara aku dan anakku?

(Dituturkan ”T” kepada Kristina Dian S dari Apakabar)

93 komentar di "Anakku Sayang, Anakku Malang"

Posting Komentar